Artikel

6 Metode Belajar Kitab Menurut Imam Abdul Qadir ad-Dimasyqi

30 Aug 2021 04:03 WIB
1962
.
6  Metode Belajar Kitab Menurut Imam Abdul Qadir ad-Dimasyqi

Kita telah menghabiskan waktu yang panjang dalam belajar, wajib belajar 12 tahun, ditambah kuliah empat tahun, tapi tidak kita menjadi ahli, tidak pula ilmu-ilmu itu lengket di kepala, walau hanya satu bidang.

Kita menghabiskan umur dalam belajar tapi tak jua terlepas dari jeratan derajat mubtadiin, pemula dalam ilmu. Tidak terangkat kepada derajat expert, ahli.

Lalu apa yang salah dalam metode belajar kita?

Guru-guru biasanya mengatakan,

العلم عبادة فلا بد للعلم من شرطي العبادة : الإخلاص و المتابعة ، المتابعة هنا للعلماء

“Ilmu adalah ibadah, maka harus ada syarat ibadah dalam ilmu yaitu ikhlas dan ada tuntunan. Tuntunan di sini adalah tuntunan para ulama.”

Apakah kita sudah mengikuti tuntunan ulama dalam menuntut ilmu?

Al-Allamah Abdul Qadir Badran ad-Dimasyqi dalam kitabnya al-Madkhal ila madzhab al-Imam Ahmad Ibn Hanbal menuntun kita dalam metode belajar menuntut ilmu.

Pertama, ujar beliau, ketika mengaji suatu kitab niatkan untuk ‘tidak kembali’ kepada kitab tersebut. Sehingga kita benar-benar menguraikan permasalahan dalam kitab itu, memahaminya, menghafal poin-poin pentingnya.

Jangan mengaji kitab niatnya hanya mengambil berkah dari karangan para ulama, kalau hanya untuk mengambil berkah, maka membaca Al-Quran tentu lebih utama.

Setiap kitab mengandung permasalahan-permasalahan yang dikandung oleh kitab level di bawahnya hanya saja ada beberapa tambahan dan perluasan. Maka kokohkanlah pemahaman terhadap kitab-kitab yang ditulis sebagai dasar dalam suatu ilmu. Jika kokoh memahami dasar-dasar ilmu, maka akan mudah memahami syarah dan tambahan yang luas.

Kedua, hendaklah setiap pelajar mempersiapkan diri dengan membaca sebelum hadir dalam majelis ilmu. Mulai dengan membaca matan (intisari ilmu) tentang pembahasan yang akan dikaji pada hari itu, lalu uraikan isi matan tersebut berdasarkan pemahaman sendiri, tanpa melihat kepada syarah.

Setelah itu, lihatlah isi syarah, bandingkan pemahaman kita apakah sudah sesuai dengan isi syarah atau masih banyak yang salah. Yang salah kita luruskan, yang luput kita tambahkan.

Kita uraikan pula isi syarah itu satu persatu, kita pahami kata perkata, setelah selesai bandingkan pemahaman kita dengan tulisan panjang hasyiah, yang salah kita luruskan, yang luput kita tambahkan.

Ketiga, mendengarkan pemaparan guru. Tentu tidak semua permasalahan kita pahami, paham satu masalah ada beberapa masalah yang tidak kita pahami. Di sinilah fungsi poin ketiga, ketika hadir dalam majelis ilmu, duduk di hadapan guru, kita fokus mendengarkan penjelasan, memperhatikan poin-poin yang tidak kita pahami. Adapun yang sudah kita pahami, maka akan lebih kuat dan kokoh karena telah diulang kembali, yang belum kita pahami akan dipahami dalam pengajian, yang terlewat ditambahkan.

Keempat, setelah pulang ke rumah, kita ulangi lagi membaca kitab tersebut dengan teliti, menghadirkan setiap makna dalam setiap kalimat, setiap kata, maupun setiap wajhul irab yang disampaikan oleh guru dan yang kita pahami dari syarah serta hawasyi.

Kelima, sampaikanlah poin yang kita pahami tersebut kepada kawan atau kepada istri. Bagi yang tak punya kawan tak punya istri, sampaikanlah kepada tembok. Tembok adalah kawan bagi mereka yang tak punya kawan.

Keenam, tulislah ulang apa yang kita pahami dengan bahasa kita sendiri. Baik menulis setiap permasalahan, atau hanya sekadar memetakan masalah. Tulisan bisa hanya untuk pribadi, atau untuk dibagikan kepada thalibul ilmi, dengan syarat tulisan tersebut telah diizinkan oleh guru kita.

Nasehat di atas diambil Syaikh Abdul Qadir ad-Dimasyqi dari gurunya, Syaikh Muhammad Utsman al-Hanbali. Lalu beliau berkata, “Setelah saya amalkan metode belajar dari guru saya ini, saya tak perlu mengaji di hadapan guru kecuali hanya enam tahun saja.”

Fahmi Ain Fathah
Fahmi Ain Fathah / 16 Artikel

Alumni Al-Azhar Kairo Mesir, Fakultas Bahasa Arab. Asal dari Tanjung, Kalimantan Selatan. Kini tengah melanjutkan studi jenjang S2 Al-Azhar. Meminati kajian Manthiq dan Balaghah

Farhan
15 October 2021
Bagus tulisannya sidi. Terutama poin kelimanya 🤣🙏🏼.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: