Kisah
Akhir Hayat Imam Al-Bukhari dan Karamahnya Setelah Wafat
Dalam kitab Tarikh Baghdad, Khatib Al-Baghdadi (392-463 H) menceritakan kisah Abdullah As-Samarqandi tentang akhir hayat Imam Al-Bukhari. Abdullah bertutur bahwa sang muhaddits pergi menuju ke desa Khartanak yang berjarak 2 farsakh (antara 10-11 km) dari kota Samarkand. Sesampainya di desa itu, ia langsung menuju ke tempat saudaranya dengan menaiki tunggangannya.
Saat malam hari tiba, tepatnya setelah menyelesaikan shalat Tahajud, aku mendengar ia berdoa: “Ya Allah, dunia yang seluas ini sudah terasa sempit olehku. Maka dari itu, cabutlah nyawaku!” Tidak sampai sebulan setelah itu, beliau wafat dan dikuburkan di desa itu.
Saudara Imam Al-Bukhari yang dimaksud adalah Abu Mansyur Ghalib bin Jibril. Ia bercerita: “Menjelang wafatnya, Imam Al-Bukhari singgah beberapa hari di rumah kami. Ia kemudian sakit. Kian hari sakitnya kian bertambah parah. Karena sakitnya, ia mengirim utusan ke kota Samarkand supaya salah satu keluarganya mau menjemputnya pulang.”
Abu Mansyur melanjutkan: “Tak lama setelah itu, utusan dari keluarganya datang untuk menjemputnya. Lalu Imam Al-Bukhari berkemas dengan membawa barang secukupnya. Saat itu, ia hanya menggunakan pakaian tipis serta menggunakan surban di kepalanya. Lantas, ia naik tunggangannya dengan bantuanku serta sahabatku. Aku memegangi salah satu lengannya, dan sahabatku memegangi salah satu lengan lainnya.”
Saat baru berjalan sekitar 20 langkah, Imam Al-Bukhari berkata pada kami: “Turunkan aku! Sungguh aku tidak sanggup lagi.” Beliau lantas berdoa dan tidur. Setelah itu, kami tidak melihatnya terbangun dari tidurnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sang maestro hadits meninggal di hadapan saudaranya dan utusan keluarganya.
Setelah itu, Abu Mansyur meneruskan kisahnya: “Di saat Imam Al-Bukhari wafat, kami melihat keringat yang keluar dari badannya. Keringat itu kemudian kami usap dengan pakaiannya. Selain itu, ia berwasiat kepada kami agar mengkafaninya dengan 3 lapis kain berwarna putih tanpa menggunakan baju dan surban. Wasiat itu kami laksanakan.”
Imam Al-Bukhari meninggal pada malam Sabtu di waktu Isya’. Akhir bulan Ramadhan. Keesokan harinya adalah perayaan hari raya Idhul Fitri. Ia dikebumikan pada hari raya setelah shalat dhuhur tahun 256 H. Usianya saat itu 62 tahun kurang 13 hari.
Karamah Imam Al-Bukhari Sesudah Wafat
Selain terkenal sebagai muhadddits, Imam Al-Bukhari juga masyhur sebagai ahli ibadah. Bahkan ketika akan menuliskan hadits, ia akan terlebih dahulu melaksanakan shalat shalat istikharah 2 rekaat.
Seperti dikenang salah seorang muridnya, al-Firbari. Imam Al-Bukhari suatu ketika berkata mengenai mula-mula penulisan Shahih Al-Bukhari, ‘Saya menyusun kitab al-Jami’ as-Shahih ini di Masjid al-Haram, Makkah. Dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah melaksanakan shalat istikharah dua rakaat, memohon pertolongan kepada Allah dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar sahih.”
Kita tahu bahwa Imam Al-Bukhari termasuk manusia yang berkududukan sebagai ‘illiyin. Orang-orang yang bermartabat tinggi dan mulia di hadapan Allah sebagaimana tercantum dalam surat Al-Muthaffifin ayat 18-21. Kesungguhan dan keuletan Imam Al-Bukhari dalam menelusuri hadits-hadits Nabi mengantarkannya sebagai orang pilihan/ kekasih Allah. Hadits-hadits yang ditulis dan diselidikinya menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus baginya.
Maka dari itu, Abu Mansyur kembali bertutur seraya menceritakan karamah Imam Al-Bukhari dengan berkata: “Saat kami mulai menguburkannya, kami mencium bau semerbak dari liang lahatnya. Harum baunya melebihi harum minyak wangi. Kejadian itu berlangsung beberapa hari. Kemudian ada benda putih persegi panjang terbang di langit dan jatuh di depan makamnya. Orang-orang berselisih tentang apa yang mereka lihat sambil berdecak kagum.”
Karena banyak yang menyaksikan kejadian itu, mereka datang berbondong-bondong mengambil tanah makamnya sehingga terlihat liang lahatnya. Saking banyaknya, kami benar-benar tidak sanggup menjaga makamnya. Kami memutuskan untuk melindungi makamnya menggunakan kayu besar sebagai pagar sehingga orang-orang itu tidak bisa lagi masuk ke dalamnya.
Lantaran tidak mampu menerobos ke dalam, mereka lantas mengambili tanah yang ada di sekitar pagar. Adapun bau harumnya, masih saja semerbak dan menyebar selama beberapa hari.
Kabar ini juga terdengar oleh penduduk kota. Mereka terkejut dan keheranan dengan kejadian tersebut. Lalu muncullah orang-orang yang dulu pernah berselisih dengan Imam Al-Bukhari. Mereka kemudian datang menziarahi makamnya secara bersama-sama. Mereka menyatakan taubat dan menyesal atas kejelekan syariat yang mereka lakukan saat berselisih dengan Imam Al-Bukhari.
Di waktu yang hampir bersamaan, Abdul Wahid bin Adam At-Tawawisy mengalami hal yang berbeda. Ia bercerita: “Aku pernah mimpi bertemu Rasulullah yang sedang bersama jamaahnya. Saat beliau berdiam diri di suatu tempat, aku menyambanginya dengan mengucapkan salam. Beliau kemudian menjawab salamku. Aku beranikan diri bertanya pada beliau: “Mengapa engkau berdiam diri di sini wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Aku sedang menunggu Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.” Beberapa hari setelah mimpiku itu, aku mendengar kabar kematian Imam Al-Bukhari. Aku lalu mengingat-ingat mimpiku, ternyata waktu ia wafat sama dengan waktu dimana aku mimipi bertemu Rasulullah.
Masya Allah, sungguh indah akhir hayat Imam Al-Bukhari. Ilmunya bermanfaat bagi seluruh umat Islam. Wafatnya memberikan decak kagum. Karamahnya setelah wafat pun diperebutkan manusia saat itu. Namun justru yang lebih membahagiakan adalah kematiannya telah dinanti kekasihnya, baginda Rasulullah. Karena ia telah menuliskan setiap kata, tindakan dan pernyataan selama perjalanan hidup Nabi. Wa’llahu A’lam.
Mengenyam pendidikan agama di Ta'mirul Islam Surakarta dan Universitas Al-Azhar Mesir. Sekarang aktif sebagai pengajar di Fakultas Syariah IAIN Salatiga dan Guru Agama di SMAN 1 Parakan Temanggung.