Esai

Alasan Semesta Tiada Jika Tuhan Tak Esa

03 Jul 2021 02:43 WIB
2248
.
Alasan Semesta Tiada Jika Tuhan Tak Esa

Salah satu dasar ketuhanan adalah memiliki sifat tunggal (wahdaniyah). Tak ada wasithah (perantara) antara sifat tunggal dan terbilang (ta'adud). Sehingga ketika suatu dzat diklasifikasikan  sebagai dzat tak tunggal, maka dzat tersebut pasti bersifat ta'adud (terbilang). Ini adalah konsep umum.

Begitupun dengan Tuhan. Andai Dia tak bersifat tunggal sebagaimana yang menjadi keyakinan umat Non Muslim pada umumnya, maka secara tidak langsung Tuhan bersifat ta'adud (terbilang).

Ketika Tuhan terbilang, maka eksistensi alam tidak akan pernah ada. Mengapa? 

Berikut adalah sebuah logika yang aplikatif untuk dipahami, mengenai tidak ditemukannya eksistensi alam ketika Tuhan terbilang.

Kita beri contoh, andai ada dua Tuhan di alam semesta ini maka akan ada dua kemungkinan.

Pertama, keduanya sepakat menciptakan alam (sesuatu selain Tuhan).

Kedua, kemungkinan tidak saling bersepakat menciptakan alam.

Pada kemungkinan pertama (saling bersepakat), akan ada beberapa gambaran:

Pertama, adakalanya dua Tuhan bersepakat untuk menciptakan bersama satu alam, dan hal ini jelas melanggar aturan baku Ketuhanan karena akan ditemukan adanya konsep dua Muatsir ( dzat yang memberikan efek ) yang menghasilkan satu atsar (efek) di mana hal ini tidak dapat diterima.

Kedua, adakalanya dua Tuhan menciptakan alam secara murattab (bergantian), dengan gambaran Tuhan pertama menciptakan alam kemudian selanjutnya Tuhan yang lain menciptakan alam. Gambaran ini jelas tertolak dan mustahil terjadi pada Tuhan, karena akan timbul yang namanya tahshilul hasil (mengadakan sesuatu yang telah ada), dan itu dalam aturan baku Ketuhanan tidak dapat diterima.

Ketiga, adakalanya dua Tuhan bekerjasama dalam menciptakan alam, hal ini juga tidak dapat diterima. Karena jika gambaran ini terjadi maka akan menetapkan sifat 'ajz (lemah) pada Tuhan dan ini mustahil.

Itulah tiga gambaran, sebagai bentuk representasi dari kemungkinan pertama, ketika kedua Tuhan bersepakat menciptakan alam.

Gambaran gambaran di atas tersebut dinamakan dengan konsep Burhan Tawarud.

Kemungkinan kedua, ketika dua Tuhan berselisih dalam menciptakan alam, maka akan dihasilkan tiga gambaran seperti berikut:

Pertama, adakalanya Tuhan yang satu menciptakan alam dan Tuhan yang lain meniadakan alam. Hal ini tertolak, karena tidak mungkin dua perkara yang berlawanan bertemu (Ijtima' Naqidhain), yaitu antara Ijad dan I'dam.

Kedua, adakalanya kedua tuhan memiliki kehendak yang berlawanan (Ijad dan I’dam)  dan masing masing kehendak-Nya tidak terlaksana. Hal ini juga tertolak karena gambaran tersebut akan menetapkan sifat ‘ajz (lemah) bagi Tuhan, karena seharusnya Tuhan memiliki sifat iradah mutlak (kehendak absolut).

Ketiga, adakalanya dua Tuhan memiliki kehendak masing masing yang berlawanan. Kemudian salah satu kehendak yang saling berlawanan itu terealisasi sementara kehendak yang lainnya tidak. Gambaran seperti ini juga akan tertolak karena akan menetapkan sifat ‘ajz (lemah) juga pada kedua Tuhan. Tuhan kedua dikatakan lemah karena tidak mampu merealisasikan kehendak-Nya sedangkan Tuhan pertama yang kehendak-Nya terealisasi tetap dikatakan lemah sebagai Tuhan, karena ia juga tersifati oleh sifat lemah ketuhanan jika dilihat dari sifat lemah Tuhan kedua. Karena keduanya tetap dalam satu jenis, yaitu Tuhan.

Ahli Kalam mengistilahkan konsep seperti ini dengan istilah Burhan Tamanu'.

Setidaknya kita dapat berimajinasi atas enam gambaran di atas yang dihasilkan dari dua kemungkinan yang terjadi seandainya Tuhan itu terbilang (Ta'adud). Setiap dari enam gambaran diatas konklusinya adalah ketiadaan alam. 

Kemudian, sekarang dengan mata telanjang kita menyaksikan alam raya ini wujud alias ada. Karena itu, jelas enam gambaran di atas adalah sesuatu yang sangat mustahil, kemudian jika keenamnya mustahil, maka sifat Ta’adud (keterbilangan Tuhan) yang menjadi inti dari lahirnya enam gambaran di atas, akan secara langsung dikatakan mustahil. Dan ketika Sifat Ta’adud (terbilang) itu mustahil pada Tuhan, berarti terbuktilah kalau sifat tunggal melekat pada esensi ketuhanan. Dan kita umat Islam menjadikan wahdaniyah (sifat tunggal) sebagai konsep ketuhanan yang masuk pada bagian rumusan Ilmu Kalam. Wallahu a'lam.

Yusuf Alhamdani
Yusuf Alhamdani / 8 Artikel

Alumni Pondok Pesantren Al I'tishom, pembaca setia dan pecinta kopi dan senja.

apuk
23 October 2022
Sangat bermanfaat. Trims Ditunggu artikel2 tentang teori Tauhid seperti ini...lainnya. Kami belum paham mengenai Talazum ...apa itu

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: