Artikel

Asal Kata Asyura Menurut Syekh Ihsan Jampes

19 Aug 2021 12:36 WIB
2446
.
Asal Kata Asyura Menurut Syekh Ihsan Jampes

Secara etimologis, Asyura berarti “sepuluh”. Dalam Manahij Al-Imdad (sebuah kitab yang mengomentari Irsyad Al-Ibad karya Al-Malibari), Syekh Ihsan Jampes Kediri menelusuri asal kata Asyura. Beliau menulis:

Sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan kata Asyura didasarkan pada kenyataan bahwa Asyura ada di hari ke 10 dari bulan Muharram. Namun ada ulama yang mengatakan bahwa di hari Asyura Allah memuliakan 10 nabi:

Pada hari Asyura, Allah menerima tobat Nabi Adam, Allah mengangkat Nabi Idris ke langit keempat, Allah melabuhkan kapal Nabi Nuh, Nabi Ibrahim lahir pada hari Asyura, dan dipilih sebagai Khalilullah (kekasih Allah) serta diselamatkan dari api Namrudz juga pada hari Asyura, Allah menerima pertobatan Nabi Dawud, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit kedua, Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun dengan cara membelah laut, Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan, Rasulullah Muhammad Saw dilahirkan di hari Asyura (menurut sebagian pendapat).

Ada juga ulama yang mengaitkannya dengan urutan keistimewaan bulan atau hari dalam Islam, yang ternyata Asyura berada di urutan ke 10:

Pertama: Bulan Rajab diistimewakan dengan syahrullah (bulannya Allah), ia setara dengan kemuliaan umat Nabi Muhammad dibanding dengan umat-umat terdahulu.

Kedua: Bulan Sya’ban, yang keistimewaannya setara dengan kemuliaan Nabi Saw dibanding dengan para nabi yang lain.

Ketiga: Bulan Ramadhan, yang kemuliaannya tak bisa dibandingkan dengan semua bulan; ia serupa dengan keagungan Allah di hadapan makhluk-Nya.

Keempat: Lailatul Qadar, yang dilegitimasi sebagai malam yang lebih baik dari 1000 malam.

Kelima: Hari Raya Idul Fitri sebagai hari balasan kebaikan.

Keenam: Sepuluh hari dari Zulhijah yang disebut dengan hari zikir.

Ketujuh: Hari Arafah, yang pahala puasa di hari itu setara dengan puasa dua tahun.

Kedelapan: Hari Raya Idul Adha, hari berkurban.

Kesembilan: Hari Jumat sebagai pemimpin hari-hari yang lain.

Kesepuluh: Hari Asyura, yang pahala puasanya bisa mengampuni dosa selama setahun.

Keutamaan Puasa di Hari Asyura

Dalam sebuah riwayat Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah, dia berkata: dulu kaum Quraisy di masa jahiliah berpuasa tatkala Asyura, begitu pula dengan Nabi Saw. Hingga kemudian hijrah ke Madinah dan puasa Ramadhan diwajibkan. Sejak itu Nabi Saw bersabda, Dulu saya pernah memerintah kalian agar berpuasa Asyura. Sekarang kalian bebas memilih: mau berpuasa atau tidak.”  

Ada riwayat Ibn Abbas bahwa Nabi Saw bersabda, “Barang siapa berpuasa di hari Asyura maka Allah akan memberinya pahala sepuluh ribu malaikat, Allah akan memberinya pahala sepuluh ribu syahid. Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim di hari Asyura maka Allah akan mengangkat derajatnya sesuai dengan jumlah rambut anak yatim yang disentuh. Barang siapa yang menghidangkan buka puasa di hari Asyura maka seakan dia menjamu semua umat Nabi Saw dan mengenyangkan mereka.”

Para sahabat bertanya kenapa hari Asyura lebih mulia dari yang lain? Nabi menjawab bahwa di hari Asyura, Allah menciptakan langit dan bumi, gunung, lautan, Qalam, Lauh Al-Mahfudz, menciptakan Adam-Hawa, surga dan neraka dan seterusnya.

Syekh Ihsan Jampes juga mengutip tulisan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari: siapa yang membaca doa di bawah ini di malam Asyura maka tak akan mati hatinya, dia juga tak akan mati pada tahun itu:

سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ المِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ

لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ

سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا

وَالْحَمْدُ للهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا

وَاللهُ أكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا

أسْأَلُكَ السَّلاَمَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Mahasuci Allah,sepenuh mizan (timbangan) dan sepanjang batas ilmu pengetahuan, serta sejumlah besar keridhaan, dan seindah hiasan arasy.

Tidak ada tempat berlindung dan tempa yang aman dari-Mu Allah kecuali kepada-Mu.

Mahasuci Allah, dengan segenap dan sejumlah bilangan genap dan ganjil, dan sejumlah kalimat-kalimat Allah yang sempurna.

Segala puji bagi Allah, dengan segenap dan sejumlah bilangan genap dan ganjil, dan sejumlah kalimat-kalimat Allah yang sempurna.

Mahabesar Allah, dengan segenap dan sejumlah bilangan genap dan ganjil, dan sejumlah kalimat-kalimat Allah yang sempurna.

Aku memohon keselamatan kepada-Mu dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang paling belas kasih dari semua yang berbelas kasih. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada keluarga dan sahabatnya tanpa terkecuali.

Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam semesta.

Manahij Al-Imdad sendiri merupakan buku syarah (komentar) atas Irsyad Al-Ibad karya Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Manahij adalah buku yang sangat tebal berjumlah 2 jilid.

Kiai Ihsan Jampes juga memiliki karya yang monumental berupa komentar atas Minhaj Al-Abidin karya Imam Al-Ghazali dengan judul Siraj At-Thalibin. Dulu kitab ini sempat menjadi diktat di Al-Azhar. Dan kitab ini dicetak berkali-kali oleh penerbit Timur Tengah seperti Dar Al-Fikr.

Abdul Munim Cholil
Abdul Munim Cholil / 44 Artikel

Kiai muda asal Madura. Mengkaji sejumlah karya Mbah Kholil Bangkalan. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Katib Mahad Aly Nurul Cholil Bangkalan dan dosen tasawuf STAI Al Fithrah Surabaya

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: