Artikel

Ayat-ayat Kauniyah dalam Surat Yasin

21 Aug 2021 06:47 WIB
2206
.
Ayat-ayat Kauniyah dalam Surat Yasin

Di antara bukti kekuasaan Allah swt. adalah fenomena siang dan malam yang datang silih berganti. Allah swt. memisahkan dan menyingkirkan siang dari malam, mendatangkan cahaya dari malam sehingga gelap pun sirna, mengambil malam dari siang sehingga makhluk berada dalam kegelapan dan cahaya pun sirna.

Begitulah siang dan malam datang silih berganti. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Yasin:

 وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS. Yasin: 37)

Pergantian siang dan malam itu adalah akibat dari perputaran bumi pada porosnya dari barat ke timur (rotasi), sehingga matahari terbit di separuh belahan bumi dan terbenam di separuh belahan lainnya.

Pada masing-masing kegelapan dan cahaya terdapat kemanfaatan dan kebaikan. Saat gelap tiba, waktunya untuk menghentikan aktifitas serta mengistirahatkan jiwa. Sedangkan saat cahaya bersinar, aktifitas dimulai dengan bekerja untuk mencari rezeki.

Selain berotasi pada porosnya, bumi juga berputar mengelilingi matahari.

Begitu pula dengan matahari yang memiliki dua pergerakan, yaitu berotasi pada porosnya kurang lebih sekali dalam setiap 26 hari dan berputar bersama planet-planetnya mengelilingi pusat tata surya dengan kecepatan kurang lebih 200 mil/detik, sebagaimana yang dikatakan oleh para astronom.

Berputarnya matahari di orbitnya sampai ujung perputarannya merupakan ketetapan Allah swt. Hal ini sebagaimana dalam disebutkan dalam firman-Nya dalam surat Yasin juga:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan, para ulama ahli tafsir berpendapat bahwa lafal mustaqarr pada ayat ini terdapat dua dimensi:

Pertama, adalah dimensi ruang, yaitu letak matahari yang berada di bawah arasy yang sejajar dengan bumi. Karena di manapun matahari berada, ia dan seluruh makhluk berada di bawah arasy.

Kedua, adalah dimensi waktu, yaitu berakhirnya pergerakan matahari pada hari kiamat.

Selain bumi dan matahari, Allah swt. juga menetapkan tempat-tempat jalur peredaran bulan yang berjumlah 28.

Dalam kitabnya Tafsir Al-Munir, Syeikh Wahbah Az-Zuhaili menyebutkan 28 garis edar matahari tersebut adalah Asy-Syirathan, Al-Buthain, Ats-Tsurayya, Ad-Dabaran, Al-Haq’ah, Al-Han’ah, Adz-Dzira’ Al-Mabsuthah, An-Natsrah, Ath-Tharaf, Al-Jabhah, Az-Zubrah, Ash-Sharfah, Al-‘Awwa`, As-Simak Al-A’zal, Al-A’zal, Al-Ghafr, Az-Zubani, Al-Iklil, Al-Qalb, Asy-Syaulah, An-Na’a`im, Al-Baladdah, Sa’d Adz-Dzabih, Sa’d Bula’, Sa’d As-Su’ud, Sa’d Al-Akhbiyyah, Al-Fargh Al-Muqaddam, Al-Fargh Al-Mu`akhkhar, dan Ar-Risya` (Bathn Al-Hut).

Setiap malam, bulan melewati satu tempat dengan rata-rata 13 derajat dalam sehari, kemudian tertutup dan tidak tampak selama dua hari apabila satu bulan berjumlah 30 hari. Namun akan tertutup hanya semalam apabila satu bulan berjumlah 29 hari.

Pada akhir garis edarnya bulan akan tampak kecil, menguning, dan melengkung serta kembali ke tempat awalnya hingga menyerupai tandan kurma yang tua, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.” (QS. Yasin: 39)

Tempat-tempat orbit bulan dapat digunakan untuk mengetahui periode bulan, sebagaimana keberadaan matahari untuk mengetahui malam dan siang.

Hal ini sebagaimana firman Allah swt.:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ltu adalah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.’” (QS. Al-Baqarah: 189)

Matahari dan bulan tidak bisa saling bertemu karena masing-masing memiliki garis edar sendiri. Tanda malam yaitu bulan tidak akan mendahului tanda siang yaitu matahari, karena masing-masing memiliki ruang dan kontrol (dominasi) sendiri-sendiri, yakni siang untuk matahari dan malam untuk bulan.


Matahari, bulan, dan bumi beredar dan mengitar pada jalur edarnya di langit layaknya ikan yang berenang di air. Hal ini tertuang dalam firman-Nya:

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)

Inilah kekuasaan Allah swt. yang telah menetapkan garis edar untuk matahari, bulan, dan bumi sehingga salah satunya tidak menutupi pancaran sinar lainnya kecuali kondisi-kondisi tertentu seperti saat gerhana matahari atau gerhana bulan. Wallahu a’lam.

Arif Khoiruddin
Arif Khoiruddin / 102 Artikel

Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Tinggal di Pati. Pecinta kopi. Penggila Real Madrid.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: