Artikel

Bila Kaum Sufi Merasakan Cinta

04 Aug 2021 02:32 WIB
2335
.
Bila Kaum Sufi Merasakan Cinta

Bagi sufi, cinta adalah keabadian dan keagungan, karenanya obyek cinta yang teragunglah menjadi tujuannya, yakni Tuhan. Maka pancaran yang ditimbulkan akan senantiasa menyinari perjalanan, dan jarak tempuh nan jauh yang dilalui akan membawa pada pencerahan.

Dengan kata lain, ekspresi cinta terbaharukan dan tak lekang oleh putaran zaman, sebab tujuan akhirnya adalah kekal bersama Yang Maha Kekal.

Ungkapan ekspresif cinta sufi ini, terangkum dalam sebuah syarah terhadap syair Imam Ibnu Arabi perihal keabadian cinta mereka:

أَمَّا الْحُبُّ الصُّوْفِيْ فَهُوَ بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَطَرِيْقٌ لَا يَنْتَهِيْ مَسْلَكُهُ، وَعَيْنٌ لَا تُطْفِئُ الظَّمَاءَ

“Cinta mistisisme sufi selaksa samudra yang tak bertepi, jalanan yang tak berujung untuk dilalui, dan mata air yang tak melepas dahaga.”

Lalu dengan apakah para sufi bisa mendapatkan?

Mereka mendapatkannya dengan memandang Allah Swt dengan kedalaman jiwa, bukan sekadar hubungan timbal balik materialis, yakni memandang Tuhan hanya sebagai objek yang diminta kala dibutuhkan. Karena yang sedemikian, akan menutup makna terdalam cinta dan kasih sayang Tuhan.

Seperti yang dikatakan Imam Jalaludin ar-Rumi:

الْوَدَاعُ لَا يَقَعُ إِلَّا لِمَنْ يَعْشِقُ بِعَيْنَيْهِ، أَمَّا ذَاكَ الَّذِيْ يَحِبُّ بِرُوْحِهِ وَقَلْبِهِ فَلَا ثَمَةَ انْفِصَالٌ أَبَدًا

“Perpisahan hanya akan menimpa pada yang merindu (Tuhan) dengan kedua mata (materialistik-empiris), akan tetapi jika cinta yang didera oleh jiwa (suci) dan sanubari, maka ia akan kekal dan tak terpisah.”

Arti luasnya, mereka yang berkomunikasi dengan Allah hanya karena keinginan materialis, maka hubungan cintanya dengan-Nya hanya terhubung sementara. Namun jika komunikasi itu berasal dari sanubari terdalam, maka devine vibration  yang berupa cinta akan dirasa dalam kekekalan dan keabadian.

Ketika seorang sufi sudah mencercap hakikat Allah Swt melalui cinta kepada-Nya, maka segala bentuk yang menimpa dirinya—baik atau buruk—sejatinya adalah proses mengenal Kemahacintaan Tuhan atas dirinya. Efeknya, dia memandang segalanya dengan rasa cinta dan penuh kasih sayang, tanpa terkecuali. Meski dalam waktu tertentu, dia juga bisa marah, bukan karena dirinya, karena ada yang mencederai kasih sayang Tuhan.

Seperti sebuah ungkapan yang cukup mendalam dari Maulana Syaikh Ibrahim Salamah ar-Radhi:

من شهد الأفعال من الفعال، تجلى عليه الفعال، ومن تجلى عليه الفعال، سطعت عليه أنوار الصفات، ومن اضمحل في أنوار الصفات، صار محوه ثباتا وموته حياة وفناؤه بقاء وذله عزا وفقره كمالا.

“Barang siapa mampu merasakan bahwa segala perbuatan manifestasi dari Zat Maha Pembuat, maka Dia telah menjelma ke dalam hatinya. Sehingga orang yang mampu demikian, lentera sifat-sifat-Nya berpendar ke dalam kalbunya. Karenanya siapapun tenggelam dalam cahaya sifat-sifat-Nya, maka apa yang hilang darinya dia akan tetap tegak; kematiannya berubah menjadi kehidupan; kefanaannya tertelan oleh kekekalannya; kehinaannya berwujud kemulian; dan kefakirannya beralih menjadi kesempurnaan.”

Lalu bagaimanakah kita dengan cinta sufi? Setidaknya setiap kita suka pada sesuatu, maka iringkanlah rasa cinta dan suka kepada orang tua, guru, keluarga, teman, dan yang terdekat dengan nama Allah Swt. Kelak hal itulah yang akan membuat hubungan tersebut kekal, meski tingkatan cintanya berada di bawah para sufi. Atau jika kita mengacu pada kalamnya ar-Rumi, cinta kita kepada mereka bukan karena apa yang dilihat, tapi apa yang dirasa oleh lubuk hati.‏⠀

مَا كَانَ لِله دَامَ وَاتَّصَلَ، وَمَا كَانَ لِغَيْرِ اللهِ انْقَطَعَ وَانْفَصَلَ

“Segala hal yang ditautkan karena Allah Swt akan abadi, namun jika sebaliknya akan fana dan tak abadi.”


Ahmad Ilham Zamzami
Ahmad Ilham Zamzami / 2 Artikel

Ahmad Ilham Zamzami, mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir pada jurusan Islamic Theology and Philosophy. Aktifis kajian dan literasi di PCINU Mesir.

Muhammad Afzaal Ali Al Fathari
02 February 2024
woww

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: