Tokoh

Catatan Keilmuan Umi Prof. Dr. Huzaemah Tauhid Yanggo, MA (Bagian 1)

31 Aug 2021 08:23 WIB
2170
.
Catatan Keilmuan Umi Prof. Dr. Huzaemah Tauhid Yanggo, MA (Bagian 1)

Membaca perjalanan keilmuan seorang ulama memang selalu menarik untuk disimak, sebab terkadang dalam setiap detailnya mengandung hikmah dan pelajaran berharga tentang kesabaran, ketekunan serta proses panjang yang dilalui dalam mencapai derajat keilmuan tersebut.

Tidak seperti menjadi seorang 'ahli', sebutan ulama merujuk kepada sebuah proses perjalanan intelektual dan  tentu spiritual yang tidak hanya dilalui dalam 4 atau 10 tahun. Ia adalah proses  pembentukan ilmu dan ruhani selama bertahun-tahun bahkan sebelum ruh di dalam rahim seorang ibu ditiupkan. Tentu ini juga yang pasti ada dalam diri almarhumah Umi Huzaemah.

Setelah wafatnya Umi Huzaemah 40 hari yang lalu, saya pribadi banyak mendengarkan kesaksian tentang umi  dari banyak orang yang bermuamalah dengan beliau, baik kolega, murid ataupun keluarga. Sebuah kisah yang sepertinya sangat sayang untuk dilewatkan agar kita sebagai generasi penerus dapat memahami almarhumah secara lebih dekat, khususnya catatan keilmuan umi yang lebih spesifik.

Tentu catatan kecil ini tidak dapat menggambarkan umi secara utuh, namun semoga bisa menjadi sebuah lembaran lain yang terdokumentasikan dari hidup seorang ulama perempuan Indonesia ini yang juga merupakan ibunda saya secara pribadi.

Nama beliau adalah Huzaemah, begitu yang tertulis dalan akta lahirnya. Beliau adalah anak pertama dari enam bersaudara yang lahir di kampung Kaleke, Donggala Sulawesi Tengah 30 Desember 1945 dari salah satu suku di Sulawesi Tengah yaitu Tanah Kaili (Suku Kaili).

Ayah beliau bernama Tauhid bin Yanggo, seorang petani  yang menggarap sawah milik sendiri serta pengembala kerbau di Donggala. Kakek beliau dari jalur ayah (Yanggo) dikenal sebagai pendekar atau Jawara kala itu. Jika, saat ini kita sering mengenal beliau dengan nama Tahido, maka nama asli ayahanda beliau adalah Tauhid bin Yanggo.

Meskipun bukan keturunan ulama dan hanya seorang petani dan tercatat tidak lulus sekolah, tapi ayahanda beliau dikenal cerdas dan memiliki tulisan yang bagus. Bakat alamiah inilah yang kemudian turun ke Umi Huzaemah.

Tauhid bin Yanggo memiliki dua istri. Pertama bernama Ince yang memiliki anak bernama Maryam dan yang kedua adalah Indo Jengki Ladjura yang darinya lahir enam orang anak: Huzaemah, Mohammad Djabir, Taswir, Taswin, Husna dan Takrim.

Indo Jengki sendiri berasal dari Kaleke. Dalam beberapa kesaksian keluarga dan kolega yang saya ketahui, beliau merupakan keturunan dari Datuk Karama atau Syekh Abdullah Raqie, seorang ulama Minangkabau yang menyebarkan agama Islam di Tanah Kaili, Donggala pada abad ke-17 M di masa Raja Kabonena yang memerintah Palu pada saat itu.

Baca juga:

Jika ditarik dari garis ibu, maka Umi Huzaemah memang memiliki darah Minang Sumatra Barat yang kita kenal sebagai tanah para ulama seperti Buya Hamka, Syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Khatib Al-Minangkabau dan sederet nama besar lainnya. Meskipun, saya pribadi belum bisa melacak silsilah kenasaban ini yang mungkin terpaut empat sampai lima generasi ke atas.

Dalam catatan Rusdi Toana (1990) mengenai Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala, pada tahun 1945 pemerintahan di Donggala yang saat itu masih dikuasai oleh raja-raja lokal Donggala sempat melakukan perlawanan terhadap pendudukan Belanda setelah jatuhnya Jepang dan Donggala saat itu kembali dikuasai NICA. Suasana kebatinan di Donggala saat itu di masa awal awal kemerdekaan Indonesia dan proses penyatuan bumi Sulawesi ke pangkuan tanah air Indonesia merupakan suasana dimana Umi Huzaemah dilahirkan dan dibesarkan.

Sebagai putri seorang petani-pengembala dan Ibunda yang juga buta huruf,  tidak menjadikan Umi Huzaemah lantas berkecil hati. Kegemarannya membaca sejak kecil ditambah dari keistikomahan orang tuanya berjamaah di langgar dekat rumah, telah membentengi mental dan ruhani beliau untuk terus belajar menggapai derajat keilmuan yang mapan di kemudian hari.

Dari sebelum masuk ke sekolah dasar, Umi Huzaemah dan adiknya Taswir tinggal di rumah tantenya di Sibonu yang tidak lain adalah adik dari ayahandanya yang bernama Khadijah. Disanalah Umi Huzaemah diajarkan  membaca al-Qur'an dan mengaji dasar-dasar agama sampai menyelesaikan sekolah dasar yang saat itu masih dinamakan sekolah rakyat negeri. Jika pagi hari beliau belajar di SRN Kaleke, maka sore hari beliau berangkat dengan berjalan kaki untuk sekolah di Ibtidaiyah Alkhairaat, juga di Kaleke.

Di sela-sela belajarnya di Sibonu, Umi Huzaemah juga kerap membantu Tante Khadijah untuk berjualan gorengan dan nasi kuning sampai kelak setelah lulus sekolah dasar, beliau merantau ke kota Palu dan tinggal di rumah kerabat dekat lainnya.

Dari kecil hidup Umi Huzaemah memang tidak pernah lepas dari buku.  Saat kemudian beliau melanjutkan pendidikan tsanawiyah sampai perguruan tinggi di lembaga Alkhairaat Palu, beliau selalu berteman dengan buku dan dikenal sebagai santri tauladan dan pecinta buku.

Perjalanan keilmuan beliau lebih banyak dihabiskan di lembaga Alkhairaat, Palu hingga menamatkan pendidikan beliau dari Fakultas Syariah Universitas Islam Alkhairaat (Unis) pada tahun 1975 dan meraih gelar Sarjana Muda (BA). Saat masih menjadi mahasiswi di Unis Alkhairaat (sekarang Unisa), Umi Huzaemah juga lulus ujian guru agama (UGA) yang menjadikannya pegawai negeri sebelum beliau berangkat ke Mesir pada tahun 1977.

Di Alkhairaat, Umi Huzaemah mendapatkan bimbingan langsung dari Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al-Jufri dan tentu guru-guru beliau yang lain di antaranya:  Habib Saggaf bin Syeikh bin Salim Al-Jufri, Ustad Yasin Al-Hasni, Ustad Rustam Arsyad, Ustad Kasim Maragau, Ustad Mahfud Godal, Habib saggaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Al-Jufri, Ustad Abdul Hayyi, Ustad Sunusi Fatimbang, Ustad Abdullah Abdun, K.H. Zainal Abidin Betalemba, Ustad Abdurahman Latopada, Ustad Drs. Nurlin Lamakarate, Ustad Abdillah bin Muhammad bin Idrus bin Salim Al-Jufri, Ustad Bahrain Tayyib, Ust. Farej Dhafir, dll.

Peran Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al-Jufri sangat membekas dalam membentuk karakter pemikiran dan spiritual Umi Huzaemah sebelum keberangkatannya ke Kairo. Saat guru tua wafat pada tahun 1969, umi berumur 24 tahun  dan hampir sepanjang itu pula umi belajar dan mulazamah kepada beliau.  Saya mendapatkan beberapa catatan ijazah doa dan wirid tertentu yang umi dapatkan dari guru tua, Habib Idrus, yang mengisyaratkan adanya hubungan batin antar keduanya. 

Dr. Syarif Hidayatullah, S.S.I., MA.
Dr. Syarif Hidayatullah, S.S.I., MA. / 3 Artikel

Dosen Program Pasca Sarjana Hukum Ekonomi Syariah (HES) Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: