Artikel

Riwayat Lain Doa Karramallahu Wajhah untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib

21 Apr 2021 03:53 WIB
3914
.
Riwayat Lain Doa Karramallahu Wajhah untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib

Termasuk etika kita pada sahabat adalah mengucapkan doa setelah menyebut namanya. Dan hal ini juga berlaku pada ulama bahkan pada orang muslim biasa. Doa paling agung yang biasa kita dengar dan ucapkan ketika menyebut nama shabat atau ulama yg sudah meninggal adalah radhiyaallahu 'anhu (semoga Allah meridhainya).

Tapi ada satu penghormatan yang tampak beda sama sekali dengan yang lain. Apa itu? Karramallahu wajhah [semoga Allah memuliakan wajahnya]. Dan itu pun hanya ketika menyebut nama putra Abu Thalib menantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Bagaimana sejarahnya? Tentu kisahnya variatif mengenai hal ini, tapi ada yang lebih "masuk akal" daripada plot yang mengisahkan bahwa "semoga Allah memuliakan wajahnya" diucapkan pada anak kecil pertama yang masuk Islam itu karena ia tak pernah melihat kemaluannya sama sekali. Versi riwayat yang jamak didengar menyangkut kisah ini. Atau malah tahunya hanya itu?. Bukan berarti itu tak mungkin, tapi perkenankan saya membagikan latar belakang versi lain.

Alasan yang akan saya bagikan ini saya ambil dari muharrir mazhab Syafiiyah Abad 10 H, yaitu Ibnu Hajar al-Haitami radhiyaallahu 'anhu. Kisah itu ia bubuhkan dalam al-Fatawa al-Haditsiyah.

Era itu Jazirah Arab masih dipenuhi kaum pagan yang ratusan berhalanya mereka letakkan di sekeliling kakbah. Belum lagi berhala yang mereka buat dan diletakkan di rumah-rumah dan tempat kerja mereka. Tentu kondisi seperti ini amat wajar sekali jika penduduk ikut digulung arus dominan.

Ali kecil diasuh oleh Rasulullah sejak belia. Asuhan beliau yang tak pernah tunduk dengan arus dominan itu, membuat Ali selamat dari gelombang paganisme yang membanjiri Arab sejak bertahun-tahun lalu. Ia tak pernah membungkuk atau meletakkan jidatnya di tanah dalam rangka sujud pada berhala. Tidak sama sekali. Bahkan sejak sebelum akil balig.

Tapi ia tidak sendirian yang selamat dari paganisme ini. Ada Abdullah bin Utsman yang kita kenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq. Dan sebenarnya penyelamatannya dari paganisme lebih heroik daripada Sayyidina Ali, sebab ia yang umurnya selisih dua tahun dengan Rasulullah itu beriman ketika Nai memproklamirkan nubuwahnya. Jika nubuwah Rasullah di umur 40 tahun, itu artinya Abu Bakar di umur yang matang yaitu 38 tahun. Melalui 38 tahun di lingkungan pagan tanpa mengikuti arus itu jelas bukan upaya yang sederhana. Butuh pikiran yang jernih dan upaya yang besar. Dan ia harus menjalaninya selama puluhan tahun.

Karena alasan inilah penghormatan karramallahu wajhah itu layak disandang keduanya dan kita boleh mengucapkan pada keduanya. Hanya saja memang ucapan itu kemudian paling banyak dan masyhur disematkan pada Ali bin Abi Thalib saja sebab sejarawan dengan latar belakang apapun sepakat bahwa Ali diasuh oleh Rasul sejak umur tamyiz dan tentu sudah Islam sejak dini. Dulu pijakan taklif bukan pada akil balig tapi pada tamyiz, kemudian ketetapan ini dianulir dengan menempatkan akil balig sebagai pijakan taklif.

Tentu ada pertanyaan susulan lagi karena banyak di kalangan sahabat yang tak termakan arus paganisme juga seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair dan lainnya, tapi kenapa hanya Abu Bakar dan Ali saja yang layak mendapat karramallahu wajhah?

Tentu beda. Nama-nama yang kita sebut terakhir ini masuk Islam setelah paganisme tumbang. Setelah semua mapan. Tentu sangat beda dengan masa di mana kemusyrikan bertebaran di mana-mana. Berbeda sikap dengan keluarga dan handai tolan bukan hal yang mudah. Apalagi menyangkut kepercayaan. Makanya keduanya diberi keistimewaan dengan doa penghormatan ini.

Gamaleya, 21 April 2021


Alfan Khumaidi
Alfan Khumaidi / 18 Artikel

Alumni Blokagung yang kini berdomisili di Mesir. Meminati kajian keislaman dan aktif di PCI NU Mesir.

 

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: