Artikel
Doa Tawakal Pelancar Rezeki dari Baginda Nabi
Beberapa tahun lalu kala al-Faqīr (penulis) mendengar video Habib Umar b. Hafidz (semoga Allah swt. senantiasa ridha pada beliau dan kita semua mendapatkan keberkahan ilmu beliau dan juga para guru mulia beliau, Allāhumma Āmīn) tentang pesan baginda Nabi saw. pada sayyiduna Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra., di mana dalam cerita tersebut kita dapat beristifādah menarik pelajaran tentang doa tawakkal agar rezeki kita dipermudah oleh Allah swt.
Sejak itu al-Faqīr berusaha istiqamah mengamalkan doa tersebut saat ingin meminta bantuan seseorang atau saat dalam kondisi ekonomi yang sulit. Falḥamdulillāh, dengan keberkahan Habib Umar, Sayyiduna Hasan dan baginda Nabi saw. doa itu mujarrab sehingga tidak perlu mendatangi seseorang untuk hajat tertentu. Dan benarlah kalām salafunā bahwa setiap doa yang diajarkan oleh baginda Nabi saw. pada para sahabat atau seorang sahabat tertentu, pada dasarnya itu juga diperuntukkan (diajarkan) juga pada umat beliau yang lain. Terlebih doa itu disampaikan atau diijazahkan oleh seorang guru dengan sanad yang menyambung pada baginda Nabi saw.
Doa tawakkal ini dapat kita jumpai dalam Tārikh al-Khulafā’ Imam Suyuthi, Tārikh Madīnah Dimashq Ibn ‘Asakir dan tersebut juga dalam Abwāb al-Faraj Abuya Sayyid Muhammad Maliki, di mana kala itu ada rekonsiliasi politik yang dilakukan oleh sayyiduna Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. pasca menjabat Khalifah kelima menggantikan sang Ayah; Khalifah keempat (sayyiduna Ali bin Abi Thalib ra.) dengan menyerahkan tampuk kekhalifahan pada sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan ra. Salah satu syarat kesepakatan dari rekonsiliasi ini adalah bahwa Muawiyah harus menutup semua hutang sayyiduna Hasan ra. (Hal ini dilakukan sebab sayyiduna Hasan ra. adalah figur dermawan yang selalu menutupi kebutuhan orang sekitarnya walau beliau sendiri dalam kondisi kekurangan, oleh sebab itu hutang beliau menumpuk banyak).
Rekonsiliasi politik ini dilakukan oleh sayyiduna Hasan karena tidak ingin ada pertumpahan darah dan peperangan internal di kalangan kaum Muslimin hanya karena masalah politik kekuasaan. Rekonsiliasi terjadi saat beliau telah menjabat sebagai Khalifah kelima hanya selama 6 bulan dan tepat di tahun 41 H. bulan Rabi’ul Awwal (riwayat lain mengatakan Jumadil Ula) konflik internal kaum Muslimin memuncak hingga ada dua kubu besar yang siap berperang. Dengan pandangan yang bijak, sayyiduna Hasan membuat rekonsiliasi ini walau potensi pendukungnya menang di medan perang sangat tinggi, hal ini merupakan pengejawantahan dari sabda baginda Nabi saw.:
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya anakku ini (Hasan bin Ali bin Abi Thalib) adalah seorang sayyid (pemimpin) dan semoga Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin lewat tangannya.” (HR. Bukhari)
Sebab rekonsiliasi ini, para pendukung sayyiduna Hasan di Kufah yang sakit hati dan sok merasa benar balik mencibir beliau dengan memanggil; يا عار المؤمنين (wahai orang yang memalukan kaum Mukmin). Atas ucapan ini beliau menanggapi; العار خير من النار (memalukan lebih baik dari pada masuk Neraka). Bahkan ada juga yang berlaku tidak sopan dan menyapa beliau; السلام عليك يا مذل المؤمنين (Semoga keselamatan atasmu wahai orang yang merendahkan orang-orang Mukmin). Sapaan ini beliau jawab; لست بمذل المؤمنين و لكني كرهت أن أقتلكم على الملك (saya bukanlah sosok yang merendahkan orang-orang Mukmin tapi saya benci jika saya memerangi kalian sebab karena ingin kekuasaan).
Maka, untuk menjalani hidup dengan tenang dan menjauhi suasana politik beliau pindah ke Madinah hingga wafat terbunuh oleh istri beliau sendiri; Ja’dah binti al-Asy’ats, yang meracuni minuman beliau. Ja’dah rela meracuni sayyiduna Hasan ra. demi tawaran kekayaan dan janji akan dinikahi oleh Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat sayyiduna Hasan wafat sebab racunnya, dia menagih janji itu ke Yazid, namun oleh Yazid dijawab; إنا لم نرضك للحسن أفنرضاك لنفسنا (sungguh saya tidak senang anda di sisi Hasan, apa (kamu kira) saya juga senang anda di sisi saya?). Sayyiduna Hasan ra. mengetahui betul siapa yang meracuni beliau kala itu, namun saat Sayyiduna Husein memaksa dan meminta memberitahunya, Sayyiduna Hasan lebih memilih diam merahasiakan dan memaafkan orang yang telah meracuni beliau.
Pasca pindah ke Madinah kala itu, kehidupan sayyiduna Hasan cukup sulit dan hutang beliau menumpuk karena beliau figur dermawan yang suka menolong. Janji Muawiyah saat rekonsiliasi untuk mengirimi sayyiduna Hasan sebanyak 100.000 Dinar pertahun hanya dilakukan olehnya setahun saja. Maka uang yang semestinya diharapkan datang dari Muawiyah tersebut tidak kunjung datang hingga berjalan bertahun-tahun sehingga hutang beliau menggunung.
Kala itu beliau berinisiatif mengingatkan Muawiyah dengan menulis sebuah surat, namun beliau urungkan. Selepas itu saat beliau tertidur, sang Kakek (baginda Nabi saw.) datang dalam mimpinya; كيف أنت يا حسن ؟ (bagaimana keadaanmu wahai Hasan?), sayyiduna Hasan menjawab; بخير يا أبت و شكوت إليه تأخر المال عني (baik wahai Kakek, hanya saja saya sedang kuatir sebab rezekiku yang seret). Baginda saw. lalu berucap pada sang cucu; أدعوت بدواة لتكتب إلى مخلوق مثلك تذكره ذلك ؟ (apakah engkau akan menulis surat untuk meminta pertolongan pada makhluk yang juga sama sepertimu dengan niat mengingatkan dia akan perkara [janji itu]?). Sayyiduna Hasan menjawab; نعم يا رسول الله فكيف أصنع ؟ (iya wahai Rasulallah, apa yang harus saya lakukan?). Baginda Nabi saw. mengajarkan sang cucu untuk berdoa:
اَللَّهُمَّ اقْذِفْ فِى قَلْبِى رَجَاءَكَ وَاقْطَعْ رَجَائِى عَمَّنْ سِوَاكَ، حَتَّىٰ لاَ أَرْجُوْ اَحَدًا غَيْرَكَ، اَللَّهُمَّ وَمَا ضَعُفَتْ عَنْهُ قُوَّتِى، وَقَصُرَ عَنْهُ عَمَلِى، وَلَمْ تَنْتَهِ إِلَيْهِ رَغْبَتِى وَلَمْ تَبْلُغْهُ مَسْأَلَتِى، وَلَمْ يَجْرِ عَلَىٰ لِسَانِى مِمَّا أَعْطَيْتَ اَحَدًا مِنَ اْلاَوَّلِيْنَ وَٱلْأَخِرِيْنَ مِنَ ٱلْيَقِيْنِ، فَخُصَّنِى بِهِۦ يَارَبَّ ٱلْعَالَمِيْنَ
“Ya Allah lemparkan pengharapan (kepada)Mu di hatiku dan putuskan (ketergantungan) harapanku dari orang selain-Mu. Hingga aku tidak akan berharap kepada siapapun selain-Mu. Ya Allah dan sekalipun kekuatanku lemah darinya, usahaku pendek/sedikit darinya, dan itu tidak bisa menyelesaikan keinginanku juga tidak bisa mengatasi masalahku. Dan keyakinan belum berjalan pada lisanku dari apa yang telah Engkau berikan kepada siapapun, baik dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terakhir, maka keyakinan tersebut tolong khususkan padaku wahai Tuhan semesta alam.”
Dan tidak sampai seminggu doa itu dipanjatkan oleh sayyiduna Hasan ra., Allah swt. telah menggerakkan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk mengirimkan uang kesepakatan itu sejumlah lebih dari 500.000 Dinar, sehingga sayyiduna Hasan dapat membayar hutang-hutangnya dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan di Madinah.
Atas kejadian ini sayyiduna Hasan bersyukur dengan berucap; الحمد لله الذي لا ينسى من ذكره و لا يخيب من دعاه (segala puji bagi Allah swt., dzat yang tidak melupakan orang yang mengingatNya dan tidak mengecewakan orang yang meminta padaNya). Sejurus kemudian beliau bermimpi baginda Nabi saw. yang menyapa beliau; يا حسن كيف أنت ؟ (bagaimana keadaanmu wahai Hasan?). Sayyiduna Hasan ra. menjawab; بخير يا رسول الله (baik wahai Rasulallah), lalu sayyiduna Hasan menceritakan apa yang telah beliau alami. Baginda Nabi saw. lalu bersabda; يا بني هكذا من رجا الخالق و لم يرج المخلوق (Anakku, inilah yang terjadi pada seseorang yang meletakkan harapannya [secara sungguh-sungguh] kepada Sang Pencipta [Allah swt.], bukan meletakkan harapannya kepada makhluk).
Berkenaan dengan arahan Nabi saw. lewat mimpi, seluruh ulama secara ijmak membenarkan dan kita dapat melakukannya bahkan sangat disarankan untuk dilakukan sebagaimana Ibnu Mulqin menukil penjelasan Imam an-Nawawi dalam Sharḥ Muslim pada bab ann al-Isnād min al-Dīn, sebab termasuk bagian dari kelebihan dan kekhususan baginda Nabi saw. adalah beliau senantiasa dapat menyapa, memperhatikan dan mengarahkan umatnya lewat mimpi, dan siapapun yang memimpikan beliau, maka mimpi itu benar sebagaimana Hadis Sahih:
تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
"Berikanlah nama (anak-anakmu) dengan namaku dan jangan dengan julukanku. Dan barangsiapa melihatku dalam mimpinya sungguh dia benar-benar telah melihatku, karena setan tidak sanggup menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta tentangku secara sengaja maka hendaknya dia mengambil tempat duduk dalam neraka.” (HR. Bukhari)
اللّهُمَّ ارْزُقْنَا رُؤْيَةَ حَبِيْبِكَ الْمُصْطَفى فِي الْمَنَامِ وَبَلِّغْنَا مِنْهُ السَّلَام
Kord. Akademik Ma'had Jami'ah UINSA Surabaya dan Tim Aswaja Center Sidoarjo.