Artikel

Hakikat Pemberian Menurut Ibnu Athaillah As-Sakandari

25 Jul 2021 05:53 WIB
2485
.
Hakikat Pemberian Menurut Ibnu Athaillah As-Sakandari

Bermula dari pembicaraan ringan penuh canda tawa, saya dan teman-teman bercerita tentang kisah masing-masing selama beberapa tahun lalu. Awalnya biasa saja, sekadar nongkrong bersama ditemani beberapa kitab khas ala pesantren.

Pada mulanya, pembahasan masih seputar hukum-hukum fikih yang sudah biasa diperdebatkan santri dan akademisi, dan tersaji dalam kitab-kitab klasik. Pembahasan kemudian seakan berubah ketika salah satu teman membuka kitab yang ia bawa, sekilas sangat biasa, tapi mampu mencuri beberapa perhatian dan mengalihkan pembahasan.

Kitab itu adalah masterpiece yang dipersembahkan pada pertengahan abad ke-7 oleh Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari, melalui tangannya yang ikhlas dan upayanya yang luar biasa untuk menyelamatkan umat Islam dari cinta buta pada dunia dan mengajak mereka kembali kepada kesucian diri dengan menuhankan Allah subhanahu wata’ala tanpa mempersoalkan bagaimana Allah menghendaki manusia sebagaimana yang dikehendaki-Nya

Sebuah karya luar biasa berisi untaian kalam hikmat yang ditulis oleh Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari. Dalam kitab itu disebutkan sebuah kalam hikmah yang akan menjadi pembahasan pada tulisan ini, yaitu:

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.

“Bisa jadi Allah memberimu kemudian menghalangimu. Dan, boleh jadi Allah menghalangimu padahal Ia memberimu.”

Setelah satu dari teman membaca penggalan kalam hikmah di atas, kami seakan dibawa melayang pada dataran tasawuf yang sangat dalam namun masih tersekat di antara serpihan-serpihan kebodohan dalam memahami hakikat “pemberian” dari-Nya Yang Mahabijaksana. Bagaimana mungkin apa yang telah diberikan akan dihalangi untuk mendapatkannya dan bagaimana pula sesuatu yang sudah dihalangi akan diberikan?

Konsep pemberian (atha’) yang sebenarnya dan patut disyukuri adalah pemberian Islam sebagai nikmat yang sangat hakiki. Segala pemberian yang Allah berikan tidak ada yang bisa menandingi pemberian “Islam”. Masih berpedoman padanya menunjukkan masih menikmati nikmat sangat besar yang telah Allah berikan.

Pada penggalan hikmah di atas, Imam Ibnu Athaillah seakan hendak menyampaikan bahwa terkadang Allah memberikan sesuatu yang dianggap baik menurut keinginannya (syahwat), hanya saja pemberian itu akan menghalanginya dari taufiq untuk bisa semakin dekat kepada-Nya dengan melakukan ibadah. Sebabnya, Allah menghalangi makhluk dari mendapatkan nikmat yang sebatas baik menurutnya agar tidak sampai terhalangi dari meraih taufiq dan hidayah-Nya.

Apalah arti cukupnya segala kebutuhan dan terpenuhinya semua harapan bila lentera kehidupan berupa cahaya Islam dan Iman justru padam?

Namun, yang sering terjadi adalah adanya kedangkalan manusia dari memahami hakikat pemberian itu sendiri. Ia cenderung buta akan hakikat-hakikat di dalamnya yang justru lebih baik baginya. Ketika ‘kinginan tak Allah sesuaikan dengan kenyataan’ betapa banyak manusia yang sering menyalahkan takdir yang menimpanya, seolah Allah tidak adil dengan semuanya. Padahal, jika seseorang bisa memahami hakikatnya, ia akan sadar bahwa semua yang telah Allah beri dan Allah halangi murni sebuah kebaikan.

Dalam hal ini, Ibnu Athaillah melanjutkan hikmahnya:

مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابُ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ.

“Ketika Dia (Allah) membukakan pintu pemahaman kepadamu tentang penolakan-Nya, maka penolakan itu pun berubah menjadi pemberian.”

Syekh Ibnu Ajibah dalam kitabnya Iqadul Himam mengibaratkan seseorang yang diundang dalam jamuan makanan di tempat yang sama sekali tidak ada cahaya lampu. Makanan yang tersedia sangat banyak, namun bisakah saat itu mengetahui makanan yang diambil dan yang akan dimakan? Begitulah pemberian Allah kepada manusia, terkadang ketika seseorang diberi kecukupan di satu sisi, ia akan selalu merasa kekurangan di sisi yang lain. (Ibnu Ajibah, Iqadul Himam Syarah Matnul Hikam, [Bairut: Darul Ma’rifah, 2000], halaman 97).

Seringkali seseorang terhalang dari sebuah harapan, memiliki keinginan yang ditunggu namun tak kunjung tiba, tak sesekali terkadang seseorang kehilangan kebahagiaan dan kenyamanan yang ada pada dirinya tanpa disadari olehnya. Tenang! Dan pahami, harapan yang oleh manusia dianggap baik, terkadang tidak baik atau bahkan sangat buruk di sisi Allah subhanahu wata’ala. Karena, bisa jadi apa yang dinilai tidak baik justru itulah yang terbaik. Sebelum itu terjadi, dalam Al-Qur’an Allah sudah memberikan pesan indah agar manusia bisa bersikap tenang ketika keinginannya tidak sesuai kenyataan:

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Maka boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)

Syekh Ibnu Ajibah mengibaratkan manusia seperti anak kecil yang masih sangat polos dan tidak tahu apa-apa, yang mengingkan manisan atau permen yang terdapat racun di dalamnya.

فَكُلَّمَا بَطَشَ الصَّبِي لِذَلِكَ الطَّعَامِ رَدَّهُ أَبُوْهُ فَالصَّبِي يَبْكِيْ عَلَيْهِ لِعَدَمِ عِلْمِهِ وَأَبُوْهُ يَرُدُّهُ بِالْقَهْرِ لِوُجُوْدِ عِلْمِهِ.

“Maka ketika si anak mengambil makanan (yang di dalamnya terdapat racun), sang ayah menolaknya, anaknya menangis karena tidak tahu (di dalamnya terdapat racun), sedangkan ayahnya menolaknya dengan paksa karena ia tahu ada apa di dalamnya.” (Ibnu Ajibah, Iqadul Himam Syarah Matnul Hikam, 2000, halaman 100).

Begitulah gambaran hubungan manusia dengan Allah subhanahu wata’ala dalam konsep ‘pemberian’ pada setiap harapan maupun keinginannya yang tak kunjung Allah berikan. Manusia tak ubahnya anak kecil yang masih lugu dan sangat polos itu. Allah menghalangi semua keinginan dan kemauannya disebabkan adanya bahaya yang belum ia ketahui.

Penilaian akhir yang baik dalam hidup adalah ketika sesuai dengan kehendak-Nya. Sangat mungkin, segala anggapan baik yang manusia wacanakan, justru hal yang sangat buruk yang tidak Allah inginkan. Tidak ada hal yang lebih nyaman dan lebih menerima terhadap semua kejadian yang terjadi selain dengan mempelajari dan menggali hikmah yang terjadi sesuai dengan keinginan-Nya. Setiap ketentuan-Nya selalu beriringan dengan kebijaksanaan-Nya.


Sunnatullah
Sunnatullah / 60 Artikel

Pegiat Bahtsul Masail dan Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Bangkalan Madura.

Ucu saepuloh
03 October 2022
Mudah,,an dengan membaca ini bisa hati bersih dari dosa

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: