Artikel

Jalan Menuju Tuhan dalam Syair Jalaluddin Rumi

22 Dec 2021 06:13 WIB
4628
.
Jalan Menuju Tuhan dalam Syair Jalaluddin Rumi Syair-syair Jalaluddin Rumi menjelaskan bahwa jalan menuju Tuhan tidaklah hanya satu yang paling benar dan dikehendaki Tuhan.

Sebagai manusia yang penuh akan keterbatasan dan segala kelemahan, eksistensi sang Dzat Maha Agung sebagai penggerak atas apa yang dikehendaki bagitu penting. Terlebih menilik seorang yang memiliki pegangan dalam hidup (agama), merupakan media dalam mencari, mendekat dan mencapai kekuatan tertinggi yang sifatnya immateri/abstrak. Demikian oleh makhluk acap kali dikenal Tuhan, yang Maha Ada di antara yang ada, bersifat ada sebagai pemula yang ada, dan kekal dalam setiap keadaan.

Oleh karenanya, untuk menuju-Nya perlu adanya jalan yang harus ditempuh dalam mencapai kesempurnaan sebagai wujud dari percik-percik nur-Nya. Jalan yang dimaksud di sini adalah bagaimana manusia mampu kembali kepada Tuhan sebagai pemegang segala kendali, hak, terlebih pencipta alam semesta.

Jika melihat realitas yang ada, keragaman agama di penjuru dunia merupakan keniscayaan. Bahkan di setiap agama mengklaim bahwa agama yang dianutnya dan jalan yang ditempuh yang paling benar. Dari sini, muncul beberapa pertanyaan, manakah jalan yang paling benar menuju-Nya?, akankah tiap agama memiliki Tuhan masing-masing?, atau bahkan layakkah kita memvonis salah bagi mereka yang dianggap jalannya tidak sama?.

Sebelum melangkah lebih jauh, penting kiranya mengetahui terlebih dahulu pluralisme agama. Seorang pemikir Islam dari India Bernama Abul Kalam Azad menyatakan demikian, “al-Din Wahid wa al-Syari’at Mukhtalifat: no difference in Din difference only in Sharia: agama tetap satu dan syariah berbeda-beda”.

Demikian dalam kosa kata Arab dikenal dengan “Wahdat al-Adyan”, secara makna semua agama tujuan utamanya adalah mengabdi kepada Tuhan yang sama. Hal yang menjadi pembeda hanya terletak pada kulitnya. Pada hakikatnya pula, agama bersumber dari Yang Satu, yakni apa yang disebut Tuhan, atau dalam redaksi lain Allah/Gusti/Pengeran/Yang Kuasa/Sang Hyang Widhi.

Dari adanya konsep yang penting untuk dipahami layaknya di atas, nantinya akan mendidik manusia beragama untuk saling menghakimi agama lain, karena demikian tidak dibenarkan dalam agama, bahkan yang dianjurkan adalah manusia konsisten dan patuh terhadap agamanya masing-masing. Hal ini mendidik seorang beragama pada sikap keterbukaan, humanis, dan pluralis di tengah masyarakat majemuk.

Beberapa tokoh pertama yang mengenalkan konsep demikian diantaranya Martir al-Hallaj, lalu disestemasir oleh Ibn ‘Arabi, kemudian salah satu tokoh sufi dan penyair masyhur hingga kini Maulana Jalaluddin al-Rumi. Menilik syair-syair indah dan penuh kesakralan Jalaluddin Rumi, ada salah satu syair yang mewakili pembahasan kali ini. Menarik dan penting sekali diketahui dan dipahami oleh awam pada umumnya, sebagai bekal pengetahuan dasar dalam mendidik jiwa yang pluralis, inklusif, dan toleran dalam beragama. Diantaranya sebagai berikut:

“Lampu-lampu memang berbeda, namun cahayanya satu dan sama”.

“Tuhan menampakkan Diri-Nya pada ribuan cara dan bentuk, menciptakan sejumlah sesuatu yang baru”

“Sesungguhnya Tuhan adalah Dzat yang disembah oleh semua manusia (makhluk), sejak seluruh perjalann (diciptakan) demi kesenangan sang musafir (dan Tuhan adalah sumber), tetapi sebagian orang mengarah mukanya hanya pada seekor (bentuk fenomena) dan kehilangan kepala, padahal kepala itu adalah Prinsip”.

“Seluruh keanekaragaman ini adalah satu, siapapun yang melihatnya dua (atau terbilang), berarti matanya rusak”.

“Bagaimana mungkin ratusan menjadi satu?, siapa yang berfikir itu sesungguhnya dia gila”

“Meskipun banyak jalan yang ditempuh manusia. Tujuannya adalah sama. Tidakkah engkau melihat itu?, Berapa banyak jalan untuk sampai ke ka’bah (dimaknakan sebagai tempat bersemayam Tuhan). Sejumlah orang datang dari Anatolia. Sebagian dari Damaskus. Orang lain dari China. Sebagian yang lain menyebrangi dari India melewati Yaman. Jika engkau melihat jalan-jalan itu. Perbedaan kelihatannya sangat besar dan tidak terbatas. Tetapi ketika engkau menengok tujuannya. Engkau melihat bahwa smeua jalan itu menuju ka’bah. Tempat dimana tidak ada ruang untuk berselisih. Kedekatan itu bukan kekafiran ataupun iman. Tegasnya tidak dikacaukan dengan perbedaan cara yang telah kita bicarakan”

Syair-syair Jalaluddin Rumi di atas dengan jelas menjelaskan bahwa jalan menuju Tuhan tidaklah hanya satu yang paling benar dan dikehendaki Tuhan. Layaknya berkunjung ke Makkah untuk melaksanakan Haji, ada yang menempuh melalui jalur udara, darat, laut, dan masing-masing jalur  dengan rute yang berbeda pula. Pluralitas keagamaan sejatinya telah berakar dalam realitas Tuhan itu sendiri, yaitu kehendak-Nya.

Begitu pula sebagai muslim, dalam al-Qur’an secara ontologis berasal dari Tuhan dan membawa implikasi positif terhadap manusia, bahwa di dalamnya memuat kabar keleluasaan manusia memperdalam pencariannya terhadap Dzat Yang Agung, lalu memahami hakikat-Nya.

Tidak hanya dalam Islam, setiap agama pun mengajarkan demikian dalam laku syariatnya. Dengan pemahaman yang demikian, akan mendidik karakter, cara berfikir, keyakinan, dan sikap manusia tidak lagi supremasi (menganggulkan diri/merasa dirinya paling benar) dalam menempuh jalan menuju Tuhan. Khaled Aboul El-Fadl, dalam karyanya dengan judul “The Place of Tolerance ini Islam”, bahwa tidak dibenarkan dalam Islam sikap yang saling menyalahkan dan menganggap dirinya paling benar.

Hal ini tidak hanya berlaku pada Islam semata, namun pada agama lain sekalipun. Banyak jalan menuju Tuhan, dan ukuran sampai atau tidaknya terhadap Tuhannya tidak ditentukan oleh jalan yang ditempuh, akan tetapi berasal dari bagaimana usaha seorang manusia dalam mencari dan meemahami Tuhan-Nya yang Maha Segala.

Ali Mursyid Azisi
Ali Mursyid Azisi / 2 Artikel

Alumnus PP. Minhajut Thullab, Glenmore, Banyuwangi. Sekarang kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Aktif menulis artikel kajian Islam, budaya, dan lintas agama di media online. Akun Media Sosial: Ig: @alimursyidazizi, Fb: Ali Mursyid Azizi.

Omi
19 February 2023
Tentang agama, Adam a.s. berawal dari tanah, ruh yang ditiupkan, jadilah manusia, akan tetapi ia tercipta sesudah Allah menciptakan nur Muhammad. Ia hidup di surga dan melanggar larangan untuk tidak mendekati apalagi memakan buah khuldi. Sumpah palsu yang dijanjikan setan, kiranya memalingkan atau membuatnya terlupakan, dalam menegakkan perintah Tuhan. Sungguh manusia amat cenderung salah dan lupanya. Hanya satu yang dilarang, tetapi akan tetap perpindahannya. Karena Allah menciptakan manusia menjadi wakil-Nya di dunia (bumi). Adam dan Hawa yang semula bersama, kini jatuhnya mereka ke bumi harus rela menahan 300 tahun sepi dan kerinduan, sembari meratapi kesalahan hingga berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi”. Kerugian di zaman yang sudah berbagai macam kepercayaan ini adalah tidak diberitahukan oleh Tuhan (hidayah), sebagaimana Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama yang banyak dikenal manusia, seperti binatang, tanah, lembah, lautan, gunung, unta, himar, dan sebagainya, kemudian Allah menyinggung malaikat akan ketidaktahuannya. Mereka terlahir suci saat bayi, bapak dan ibunyalah yang menyelewengkan. Sehingga isi yang dipercayainya mengenai agama menjadi beda. Namun perbedaan menjadikan suatu contoh di masa yang panjang. Ketika seorang mualaf tiba di tengah masyarakat non-islam, ia kembali seperti bayi yang dibersihkan. Dan bukankah orang dewasa itu ingin menjadi seperti masa kanak-kanak lagi? Artinya ia terasa akan fitrahnya, sebagaimana mengharap suapan lembut dari ibunya. Apabila mengenai perbedaan, bukankah hanya dalam berbahasanya, bersuku, dan berbangsa. Dan itu untuk saling tahu menahu adanya perbedaan. Membuatnya kenal, oh bahwa itu orang sana dan ini orang situ. Namun tidaklah bagi agama, Allah menginginkan agama islam ini mengungguli agama lainnya. Karena sejak sebelum terlahirnya nabi Muhammad, kepercayaan yang tak sejalan dengan jalan lurus memang sudah berseliweran. Padahal bagaimana akan sampai, mengenal hakikat diri dan tuhannya pun belum. Kemudian jalan lurus ini sebagaimana ketika Allah mengampuni nabi Adam a.s. tatkala ia berdoa, "Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, ampunilah kesalahanku.” Allah berfirman kepadanya, “Bagaimana engkau mengetahui Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?” Adam menjawab, “Setelah Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepalaku; lalu aku melihat tertulis di atas penyangga-penyangga Arasy, ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ (tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Maka, aku yakin bahwa Engkau tidak akan menyandingkan nama-Mu kecuali dengan nama makhluk yang paling Engkau cintai.” Allah berfirman, “Hai Adam, engkau benar, dan Aku telah memaafkan kesalahan-kesalahanmu karena engkau meminta ampun kepada-Ku dengan hak Muhammad.” Semestinya kita seorang muslim harus kukuh, jangan dilengserkan hanya karena orang lain berbeda. Ingatlah cerita Gus Dur, ia tidak takut, karena keberadaan raganya bukan berarti dapat sekaligus mempengaruhi imannya. Iman yang terbenam dalam hati, menjadi kuat. Ia hanya dilengserkan dari jabatan. Namun pasti ia tidak akan mau menjadi hamba lain selain hamba Allah Swt. Jika dalam salat membaca Al-fatihah saja tidak boleh ditinggalkan, mengapa mengamini jalan lurus jadinya tidak kokoh tentang pandangan sejatinya. Seharusnya serempak bahwa menuju Tuhan yang satu adalah dengan jalan lurus ini yaitu Islam. Penyangga itu perumpamaan syariat, yang apabila orang islam sendiri jika tidak menjalankan perintah salat wajib yang palinh utama, maka bagaimana ia menegakkan agama. Ketahuilah landasan semua pacuanmu membawa dunia, kau juga mengemban keselamatan diri sendiri. Lalu bagaimana jika surga yang adanya kau percayai, tetapi kau belum tahu atau mendapat kuncinya. Kunci surga adalah tidak ada tuhan selain Allah Swt. dan nabi Muhammad adalah utusan Allah. Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang terakhir. Wahyu Tuhan yang sejati dibukukan menjadi mushaf Al-Qur'an. Cara manusia menyerap memang berbeda, makanya ada perbedaaan di dalam satu tujuan. Ibarat jalan penempuh yang mampu mendatangi ka'bah. Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanbaliyah, meski ada gerakan yang berbeda dan meski ada bacaan yang tidak sama rata, tetapi jika kewajiban menuju keridhaan Allah itulah yang diniatkan. Sudah tidak diragukan kebanyakan manusia condongnya ke arah pembanding. Mereka berambisi kafilahnya-lah yang terdepan. Padahal dalam islam presiden, menteri, gubernur, bupati, dan rakyat, tidak harus berurutan dimulai yang tertinggi dalam pengaturan saf salat, semuanya sama rata, karena tujuannya hanyalah Allah, inilah keadilan. Allah memandang yang lebih unggul dari kita sekalian adalah ia yang paling bertakwa kepada Allah Swt. Baik keberadaan jasad maupun keadaan jiwa atau hatinya. Adapun mengenai kalimat Maulana Jalaluddin Rumi, ia berkata lewat kesadaran tuhan, karena Tuhan Maha pengasih lagi Maha penyayang. Yang mencakup kebutuhan makhluk seluruhnya, meskipun manusia ada yang memercayai tuhan selain-Nya. Memang ada benarnya juga, seperti kisah yang pernah kudengar. Seseorang yang benar-benar taat terhadap agamanya (non-islam), ia kemudian menjadi ragu akan keyakinannya sebagaimana penutup yang masih mengawang wadahnya. Kemudian ia bertemu orang islam, dan ia melihat caranya beribadah. Dan dikatakan kepada orang islam (teman barunya) itu, "Itu cara yang mirip seperti yang pernah kubaca di dalam kitabku." Si temannya itu menjawab, "karena dia juga muslim!" Akibat dari percakapan itu ia dilanda keraguan. Dan akhirnya ia mendapat hidayah setelah mengenal lebih jauh, kemudian memeluk islam sepenuhnya dengan mengambil kuncinya; bersyahadat. Jadi bila kusimpulkan, apa yang terpandang mungkin bisa jadi hatinya berlawanan. Meskipun ia berada di kawanan pemeluk agama lain. Dan bisa jadi identitas yang terdata berbeda, tetapi kemudian ia beriman kemudian melalui jalan lurus. Tidak bisa berjalan di jalan lurus jika belum beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mengambil hikmah pada orang yang berilmu yang tinggi – karena ia kuat akan toleransi, seperti ucapab Gus Dur, "orang yang ilmunya tinggi pasti tinggi pula rasa toleransinya.", Jangan langsung mengadopsi dengan pikiran kita sendiri. Karena bisa jadi kita menganggap itulah pikiran sang tokoh, pada sejatinya itu pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, apa yang dimaksud, bukan berarti menyamaratakan semua agama berada di jalan yang sama, dan menganggap cuma berjalannya saja yang berbeda. Tidak! Orang yang beridentitas agama islam pun belum tentu kepribadiannya muslim (sesuai dengan berserah diri kepada Allah Swt.). Maka, bukankah manusia semua diperintah menuntut ilmu seperti yang diperintah nabi? Perintah itu hanyalah kenali dan masuki jalan lurus, kemudikan prinsip yang membawanya, dan berjalanlah dengan sebaik-baiknya. Ingat karena manusia amat condong akan salah dan lalainya. Dan lebih suka dengan penyerasian dengan orang-orang terkenal, bukan orang yang dipandang oleh malaikat dan yang dijaga Allah keistikamahannya. Mari kita kuatkan iman dengan muhasabah, sebisa mungkin agar hati menjadi mata air hikmah bagi diri sendiri.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: