Kisah
Karbala: Khotbah Muawiyah dan Wasiatnya kepada Yazid (1)
Menjelang wafatnya, Muawiyah bin Abu Sufyan sempat meluangkan waktu di tengah kesibukan menjalankan roda pemerintahan untuk berkhotbah di hadapan masyarakat:
“Wahai umat muslim, ketahuilah! Sungguh setiap orang yang mau menebar benih kebaikan di muka bumi ini pasti akan menuai hasilnya. Dan aku sungguh telah menuntaskan urusan pemerintahan ini, maka orang yang akan meneruskan urusan pemerintahan setelahku tidaklah akan lebih baik dariku, karena tidaklah berputar roda zaman kecuali zaman setelahnya lebih buruk dari sebelumnya. Karena seperti itulah ketentuan Rasulullah di dalam hadits-Nya.”
Setelah berkhotbah, Muawiyah ingin menyampaikan suatu wasiat kepada anaknya, Yazid:
“Wahai Yazid jika nanti tiba ajalku, suruhlah orang yang ahli fikih untuk memandikanku. Karena Allah lebih memuliakan ahli fikih dari selainnya.
“Wahai anakku, jika nanti tiba ajalku ambillah secarik kain yang aku letakkan di lemari.
“Jadikan kain bekas baju Rasulullah itu sebagai kafanku, dan taruhlah seikat kain yang di dalamnya sebuah rambut dan kuku Rasulullah di dalam kafanku.
“Wahai Yazid, tetaplah kamu berbakti kepada orang tua.
“Maka ketika kau letakkan jasadku ini di liang lahat, cepatlah kamu selesaikan. Biarkan aku sendiri menghadap Dzat Maha Pemurah.
“Wahai Yazid, perhatikan Husein! Ia adalah orang yang paling dicintai kaum muslimin. Sambunglah tali silaturahmi dengannya, karena dengan begitu segala urusanmu akan lancar. Jangan sampai terulang kejadian yang telah menimpaku (aku telah membelot atas perintah ayah dan saudaranya).”
Lantas ketika datang waktu ajalnya, Muawiyah berdoa seraya menangis:
“Wahai Allah, sungguh kau akan mengampuni seluruh hamba yang tidak menyekutukan-Mu. Maka limpahkanlah ampunan-Mu kepada hamba-Mu ini.”
Telah wafat Muawiyah sahabat Rasulullah itu pada malam Jumat, 8 Rajab tahun 60 Hijriah di kota Damaskus, Syiria, dengan Yazid sebagai imam dalam shalat jenazahnya.
Ahli tarikh berbeda pendapat dalam memvonis sebab kematian Muawiyah. Sebagian berpendapat bahwa Muawiyah mengidap penyakit lauwqah (penyakit yang disebabkan karena kelebihan zat lemak dalam tubuh).
Yazid adalah putra Muawiyah. Ibunya bernama Maysun binti Bahdal bin Anif, salah satu dari istri bapaknya.
Ahli tarikh bertutur, “Maysun termasuk wanita yang memiliki paras cantik, martabat yang mulia serta tekat dan usaha yang kuat.”
Karena
sebab inilah Allah mengaruniakan Yazid sebagai pengemban roda
pemerintahan Dinasti Umayyah
setelah kematian ayahnya. Jauh sebelum Muawiyah meninggal, dia telah dilantik
sebagai putra mahkota—simbol bahwa tahta kekuasaan akan beralih kepadanya.
Alumni S1 Univ. Imam Syafii, kota Mukalla, Hadramaut, Yaman. Sekarang aktif mengajar di Pesantren Nurul Ulum dan Pesantren Al-Quran As-Sa'idiyah di Malang, Jawa Timur. Penulis bisa dihubungi melalui IG: @muhammadfahmi_salim