Kisah
Keistimewaan Seorang Muslim Menurut Syeikh Yusri
Menurut pendapat yang paling rajih (utama), kewajiban pertama manusia adalah beriman dengan seyakin-yakinnya pada Allah swt. Kewajiban kedua adalah mengikrarkan keimanan itu.
Sementara pendapat yang tidak dipilih adalah sebaliknya.
Jadi semua manusia itu mukallaf (dibebani atau ditugasi) dengan ajaran syariat, termasuk orang kafir.
Makanya, dalam fikih kita, dilarang menyuguhkan makanan pada orang kafir pada siang hari bulan Ramadhan.
Dulu, kalau ada tamu non-Muslim datang bertamu ke rumah kakekku pada siang bulan Ramadhan, setetes air pun tidak disuguhi. Kakekku berkata, "Nanti datang malam ya, supaya kami bisa menjamumu.”
Itu karena kakek moyang kita dididik oleh para ulama al-Azhar.
Jadi, haram hukumnya membuka restoran pada siang hari Ramadhan sehingga memudahkan orang kafir untuk makan.
Dan harta yang didapat dari penjualannya merupakan harta haram.
Berarti orang non-Muslim wajib melakukan berbagai ketaatan yang diwajibkan seperti shalat, puasa dll. Tapi semuanya tidak sah kecuali dengan niat, dan niat tidak diterima kecuali dari muslim. Mereka mesti masuk Islam terlebih dulu. Islam membawa keberkahan. Seandainya nonmuslim berwudhu, sampai air sungai Nil habis pun, wudhunya tetap tidak sah.
Aku mau bercerita sebab kalian suka cerita.
Pada suatu hari 20 tahun lalu, aku dipanggil rumah sakit jam 10 malam, karena ada pasien yang mengalami pendarahan tiada henti. Sudah berpuluh kantong darah tapi masih belum bisa diselesaikan.
Pihak rumah sakit menghubungi. Aku pun langsung menuju rumah sakit dengan cepat, meminta semua pasien di klinik untuk pulang dan datang keesokan harinya.
Nah, dokter yang menangani adalah seorang Kristen, ahli di bidangnya, angkatanku, juga lulusan luar negeri. Aku masuk rumah sakit masih dengan baju dan dasiku. Aku melihat pasien dan menemukan sumber masalah yang tidak dilihat oleh para tenaga medis yang ada.
Dalam semenit saja darah berhenti mengalir, aku pun meminta mereka menutup bagian itu.
Sang dokter yang menangani sangat keheranan. “Kami sudah sekitar 2 jam menangani masalah tapi tidak tahu, kenapa anda bisa begitu?" tanya dia.
Aku jawab tanpa pikir panjang, “Bukan masalah kehebatan, karena aku berwudhu saja.”
Dokter itu berkata, “Wah, kalau begitu nanti setiap kali aku menangani pasien aku akan berwudhu terlebih dahulu.”
Aku menjawab, “Seluruh air sungai Nil tidak cukup untukmu berwudhu; karena untuk wudhu yang benar, kamu harus niat dan niat tidak sah kecuali kamu menjadi muslim.”
Sang dokter pun tertawa.
~ Faedah dari Maulana
Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah, senin pagi, 22 Februari 2021 M.
Bernama lengkap Ustadzah Dr. Hilma Rasyida Ahmad. Menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Beliau juga salah satu murid Syekh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani asy-Syadzili.