Artikel

Kenapa Hadits Riwayat Ahlul Bait dalam Kutubus Sittah Sedikit?

19 Feb 2021 09:55 WIB
3088
.
Kenapa Hadits Riwayat Ahlul Bait dalam Kutubus Sittah Sedikit?

Syekh Yusri Rusydi hafizhahullah menerangkan bahwa banyak yang tidak mengetahui kalau pada tiga abad pertama Hijriyah, yakni masa kodifikasi hadits di kutubus sittah yang ditandai dengan masa kekuasaan Dinasi Umayyah Umayah hingga awal Abbasiyah,  Ahlul Bait alias keturunan Rasulullah diburu oleh para penguasa. Mereka bahkan dibunuh saat ditemukan.

Mengapa mereka berbuat demikian terhadap Ahlul Bait? Menurut Syeikh Yusri, karena para penguasa takut umat Islam berkumpul dan bersatu mendukung Ahlul Bait kemudian menyaingi mereka dalam kekuasaan.

Lihat saja bagaimana Sayyiduna Husain dibunuh padahal beliau sudah berkata, "Biarkan aku menyembah Allah di mana pun kamu mau.” Tetapi beliau hanya diberi dua pilihan: membaiat Yazid atau dibunuh. Seperti sejarah katakana, beliau pun dibunuh.

Pemburuan Ahlul Bait, terutama para ulama berlangsung sampai sekitar 750 tahun. Mereka bahkan dilarang untuk ikut shalat Jumat supaya tidak ada yang mengikuti mereka. Mereka terkurung dalam rumah supaya tidak ada yang mengenal mereka. Bahkan orang yang mengenal salah satu dari mereka pun ikut diburu, ditangkap, dipenjara, disiksa dan dibunuh.

Jadi, para ulama yang mengumpulkan hadits, demi memperoleh kebebasan bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan supaya tidak diganggu oleg para penguasa, maka mereka menghindari periwayatan hadits dari Ahlul Bait. Hal itu mereka lakukan agar tidak dilarang dan dijebloskan ke dalam penjara.

“Makanya kamu tidak menemukan banyak hadits yang diriwayatkan mereka,” terang Syeikh Ysuri.

“Bukan karena mereka tidak ada,” lanjut beliau.

Pada masa pemerintahan Turki Utsmani, Ahlul Bait kembali muncul dari wilayah Maghrib dan negeri-negeri lain. Mereka sudah bisa leluasa hidup dan menetap, serta menyebarkan ilmu-ilmu sunnah.

Oleh sebab itu, kita menemukan dalam 700 tahun ini para periwayat hadits adalah kalangan Asyraf (keturunan Nabi Muhammad) dari Asyraf. Adapun Asyraf adalah jamak dari kata syarif. Pada era sebelumnya, para perawi  bukan dari kalangan Ahlul Bit atau tidak bernisbat kepada Ahlul Bait.

Pada masa pemerintahan Turki Utsmani, penguasa membiarkan Ahlul Bait hidup dalam kebebasan. Imam besar hadits seperti Imam al-Bukhari dan lain-lain tidak boleh dicela karena hal itu.

Kisah Meninggal Imam An-Nasai

Ketika pergi ke Syam, Imam an-Nasai menemui warga yang bersikap fanatik kepada Muawiyah dan membenci Ali. Mereka mengatakan, "Riwayatkan hadits-hadits kepada kami!”

Imam an-Nasai kemudian mengadakan majelis-majelis hadits di Syam.  Beliau membacakan pada mereka keutamaan-keutamaan Sayyidina Ali dalam kitab yang berjudul Khashaish Ali.

Ketika selesai, setelah beberapa hari, mereka mengatakan,"Riwayatkan pada kami hadits-hadits tentang Muawiyah.”

Imam an-Nasai berkata, "Tidak ada yang kudapati kecuali hadits, ‘Allah tidak mengenyangkan perutnya.’

Hadirin pun mulai memukuli Imam an-Nasai, padahal beliau sudah lanjut usia, di atas 80 tahun.

Pada saat itu, ada rombongan kafilah yang hendak berangkat haji. Imam an-Nasai ikut pergi bersama mereka dalam keadaan sakit. Sampai di sana, beliau menghembuskan nafas terakhir kemudian dikuburkan antara Shafa dan Marwah.

“Bayangkan, seorang imam yang hanya bicara tentang keutamaan salah satu Ahlul Bait,” kata Syeikh Yusri, “bagaimana  nasib yang menimpa beliau. Balasannya adalah maut.”

Bijak sekali kesimpulan yang diambil oleh Syeikh Yusri. Beliau mengatakan bahwa pada setiap masa ada keadaan tententu. “Sebelum kamu menghukumi seseorang, kamu perlu melihat dulu keadaan di masa orang itu berada,” pesan beliau.

Contoh lain adalah Imam Ali ar-Ridha yang tidak pernah keluar dari rumah. Yang pergi berdakwah adalah Sayyidina Ma’ruf al-Karkhi, padahal tuannya tidak keluar. Hal-hal seperti ini wajib disampaikan luas.

Hilma Rosyida Ahmad
Hilma Rosyida Ahmad / 42 Artikel

Bernama lengkap Ustadzah Dr. Hilma Rasyida Ahmad. Menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Beliau juga salah satu murid Syekh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani asy-Syadzili.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: