Kisah
Kisah Hati Manusia Tunduk pada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Disebutkan dalam kitab Khulasat al-Mafakhir fi Manaqib al-Syaikh 'Abd al-Qadir, bahwa Syekh Umar al-Bazzar sedang menemani Kanjeng Syekh Abdul Qadir pergi shalat Jumat di Masjid Jami' Kota pada tanggal 15 Jumadil Akhir tahun 550 H.
Syekh Umar heran kenapa orang-orang tidak berebut musafahah (bersalaman tangan) ke Kanjeng Syekh. Padahal hal inilah yang sebenarnya Syekh Umar kuatirkan kalau Kanjeng Syekh keluar shalat Jumat di Masjid besar.
Tidak sampai rasa kuatir Syekh Umar reda, Kanjeng Syekh memandang Syekh Umar dengan tersenyum dan seketika orang-orang sekitar berebut musafahah dengan kanjeng Syekh hingga Syekh Umar terdorong menjauh dari kanjeng Syekh akibat banyaknya orang yang ingin bermusafahah.
Kerumunan yang tak terkendali ini membuat Syekh Umar bergumam dalam hati:
ذلك الحال خير من هذا الحال
"Kondisi itu (maksudnya tidak ada kerumunan berebut musafahah) itu lebih baik dari pada kondisi ini (kerumunan).”
Gumam Syekh Umar tersebut ditimpali oleh Kanjeng Syekh Abdul Qadir:
يا عمر فانت الذي أردت هذا، اما علمت ان قلوب الناس بيدي، ان شئت صرفتها عني، وان شئت أقبلت بها إلي
“Hai Umar, kamu loh yang menginginkan kondisi ini, tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya hati (maksudnya, perhatian) para manusia itu dalam kuasaku. Jika saya mau saya bisa palingkan itu dariku dan jika saya mau saya juga bisa menerima itu padaku.”
Keramat Kanjeng Syekh Abdul Qadir yang demikian ini dapat kita jumpai juga dalam salah satu ceramah Sayyidil Habib Umar bin Hafidz. Suatu ketika Kanjeng Syekh mempersilahkan putranya yang telah mapan mendalami ilmu syariah untuk berceramah di hadapan jamaah (murid-murid) Kanjeng Syekh.
Ceramah mauidhoh hasanah yang diutarakan oleh putra Kanjeng Syekh tersebut dipaparkan beserta dalil-dalil Qur'an Hadis yang sahih, sangat bertolak belakang dengan kebiasaan Kanjeng Syekh yang jika memberikan ceramah tidak pernah menyebutkan dalil.
Namun ceramah yang disampaikan oleh putra kanjeng Syekh tidak sedikitpun membuat jamaah menangis sebagaimana biasa diperbuat oleh Kanjeng Syekh.
Maka pasca sang putra menyampaikan ceramahnya, Kanjeng Syekh berdiri dan bercerita, bahwa Ummul Fuqara (maksud beliau adalah istrinya) tadi memasak daging dan daging tersebut dipersiapkan sedemikian baik hingga menjadi hidangan makanan yang lezat. Namun apa daya, hidangan yang siap tersaji di meja makan tersebut dimakan oleh kucing.
Cerita yang simpel ini membuat para jemaah menangis dan hati mereka ingat atas kekuasaan Allah swt, membuat putra Kanjeng Syekh heran. Ternyata cerita sang Ayah (Kanjeng Syekh) dimaknai oleh Jemaah hadirin bahwa bisa jadi amal yang dipersiapkan baik di dunia, tidak ada artinya sama sekali kelak di akhirat sebab tidak diterima oleh Allah swt. Bisa jadi kelak tidak bisa husnul khatimah dst. Oleh karena ini mereka menangis.
اللهم انشر نفحات الرضوان عليه # وأمدنا بالأسرار التي أودعتها لديه
Kord. Akademik Ma'had Jami'ah UINSA Surabaya dan Tim Aswaja Center Sidoarjo.