Esai

Mengapa Karl Marx Salah?

22 Aug 2021 07:54 WIB
2399
.
Mengapa Karl Marx Salah?

Mengawali tulisan ini, saya perlu menegaskan dua hal:

Pertama: Filsafat Marxis yang sering disebut sebagai materialisme dialektis bukanlah suatu sistem filsafat yang pada tingkatan pertama ingin membuktikan bahwa “Tuhan tidak ada” atau “Agama adalah candu”, melainkan, sebagaimana ditegaskan oleh Terry Eagleton dalam ‘Mengapa Marx Benar’, merupakan “teori tentang bagaimana makhluk-makhluk historis bekerja.” Dengan kalimat yang lebih singkat: ketiadaan Tuhan dan candunya agama adalah konsekuensi historis dari filsafat materialisme.

Kedua: Posisi filosofis-ideologis Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad At-Tayyib, berhadapan dengan filsafat materialisme adalah posisi yang tegas, yakni kritis. Sudah semenjak tahun 1980-an, Syekh At-Tayyib mengkritik filsafat Marxisme dalam kajian berjudul ‘Mafhum al-Harakah baina al-Falsafah al-Islamiyyah wa al-Falsafah al-Marksiyyah’.

Kritikan itu diulang dalam konteks yang berbeda melalui kitab kecil berjudul ‘Mabda’ al-‘Illiyyah baina an-Nafyi wa al-Itsbat’. Juga disinggung sekilas, tetap dalam kerangka kritik, dalam bukunya ‘Al-Janib an-Naqdi fi Falsafati Abi al-Barakat al-Baghdadi’ dan ‘At-Turats wa at-Tajdid (Munaqasyat wa Rudud)’.

Setelah dua penegasan tersebut, muncul pertanyaan: Apakah kritik teologis atas filsafat Marxisme tertolak dengan sendirinya, mengingat bahwa filsafat jenis ini tidak berusaha mati-matian untuk menentang adanya Tuhan, dan dengan demikian, upaya mengkritik bangunan filosofis Marxisme, sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh At-Tayyib, ibarat memukul angin dengan tongkat?

Pada pengantar edisi cetak ulang atas buku ‘At-Turats wa at-Tajdid’, Syekh At-Tayyib membeberkan pengalaman Mesir di masa tahun 60-an, ketika Gamal Abdun Naseer menjadi presiden.

Pada masa itu Al-Azhar, sebagai institusi pendidikan keagamaan, dipaksa untuk menerima ajaran-ajaran progresif gerakan Kiri, yang waktu itu diimpor dari Sosialisme Uni Soviet. Ajaran Sosialisme yang berangkat dari ajaran Marxisme-Leninisme ini, memunculkan banyak tanggapan dari para pemikir Muslim.

Waktu itu perang pemikiran antara Islam konservatif dan Islam Kiri begitu meruncing. Islam Kiri yang digagas Hassan Hanafi dikaitkan dengan tradisi yang baginya merupakan penghalang kemajuan. Syekh At-Tayyib tampil sebagai penentang filsafat yang dibawa oleh Hanafi melalui bukunya ‘At-Turats wa at-Tajdid’. Dengan sangat tegas Syekh At-Tayyib menyatakan bahwa proyek Hassan Hanafi alih-alih membawa kemajuan terhadap dunia Islam, justru malah membawa krisis, baik ideologis maupun identitas. Bagi Syekh, proyek Hanafi bukanlah pembaharuan (tajdid) melainkan penghancuran (tabdid).

Dari uraian di atas, kesimpulan mengarah kepada perlunya menunjukkan kesalahan filosofis ajaran Materalisme Dialektis. Kritik terhadap Materalisme akan mengena jika menyentuh pondasi ajarannya, yakni prinsip ‘harakah’ (gerakan), kemudian hukum ‘kausalitas’ (illah), kemudian kloningan ide-ide Marxisme dalam tubuh intelektual Islam sendiri yang terwakilkan Hassan Hanafi.

Sayang sekali buku ‘Mafhum al-Harakah’ sampai detik ini belum bisa saya akses. Sudah dua tahun lebih saya mencarinya, baik dalam bentuk fisik maupun elektroniknya. Buku itu boleh dibilang sangat langka dan belum dicetak ulang. Karya Syekh At-Tayyib selain yang itu dapat saya akses karena sudah dicetak ulang oleh ‘Majlis Hukama’.

Pertanyaan selanjutnya: apa itu dasar dari filsafat Marxisme yang harus diruntuhkan terlebih dahulu?

Jawaban atas pertanyaan ini adalah: materialisme.

Karena negasi terhadap Tuhan dan Agama muncul dari konsekuensi filsafat materalisme, maka Marx harus dikritik melalui jalan ini. Filsafat Marx tidaklah dibangun dari kekosongan. Paling tidak ia terpengaruh oleh dua tokoh: Feuerbach dan Hegel.

Dari Feuerbach, Marx mengambil ajaran materalisme-nya, sementara dari Hegel ia mengambil metode dialektika-nya.

Apa itu ajaran materalisme? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita posisikan Marx benar-benar pada tempatnya. Posisi itu saya kutipkan dari Terry Eagleton: “Marx adalah seorang materialis. Dia meyakini bahwa tidak ada apa pun yang eksis selain materi. Dia tidak memiliki minat terhadap aspek-aspek spiritual kemanusiaan, dan melihat kesadaran manusia hanya sebagai akibat dari dunia material. Dia secara brutal menolak agama, dan memandang moralitas hanya sebagai persoalan yang menjustifikasi cara.”

Setelah kita melihat dengan jelas posisi Marx, mari kita goyang posisi tersebut. Cara pertama adalah dengan memahami materialisme secara seksama.

Simon Blackburn dalam ‘The Oxford Dictionary of Philosophy’-nya mendefisikan materialisme sebagai: “pandangan bahwa dunia sepenuhnya disusun oleh materi.” Lorens Bagus dalam ‘Kamus Filsafat’-nya berkata: “Materialisme ... ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.”

Dua definisi ini bertemu dalam satu ceruk: materi adalah segalanya, di luar materi tak ada roh, spirit, jiwa, dan seterusnya. Konsekuensinya, Tuhan, sebagai entitas yang nirmateri, TIDAK ADA ATAU TIDAK HARUS ADA.

Dalam sistem filsafat, materialisme (madiyyah) dilawankan dengan metafisisme (ilahiyyah). Jika materialisme meyakini tidak ada yang lain selain materi, berarti tak ada sebab yang nirmateri. Semua sebab di dunia ini tidak lain adalah sebab materiil; tak ada entititas transenden yang mengatur dunia materi ini.

Pandangan inilah yang oleh Syekh At-Tayyib dalam bukunya ‘Al-‘Ilal wa al-Maqashid’ dinilai sebagai penyebab adanya pandangan ateisme. Seorang materialis selalu dalam posisi mempertentangkan antara (i) prinsip ilahi dan (ii) prinsip alam.

Ketika menengok sebab-sebab dalam dunia fisis, seorang materialis harus menganulir satu di antara dua prinsip tersebut. Berdasarkan prinsip inilah kaum meterialis menganggap bahwa penjelasan yang berbau metafisis dalam gerak sejarah tidak lain timbul lantaran akal manusia belum mampu mengungkap hukum alam. Maka dari itu, ketika sains berkembang dan mampu memberikan jawaban atas semua fenomena di alam semesta, tak ada lagi tempat bagi penjelasan metafisis.

Dalam kerangka pertentangan antara materialisme dan metafisisme, proyeksi Syekh At-Tayyib dalam buku di atas, adalah untuk membuktikan bahwa kaum metafisikus sama sekali tidak menentang adanya sebab material. Posisi sebab material adalah posisi kedua dalam sistem kausalitas. Alam semesta bekerja atas dasar sebab material, tetapi hukum kausalitas ini, yang mengatur semesta makro, tidaklah mungkin berupa materi itu sendiri, lantaran hukum daur (lingkaran setan) dan tasalsul (kesinambungan ananta), merupakan hukum yang mengikat akal secara apriori nan elementer. Menolak hukum daur dan tasalsul sama saja menolak akal sehat manusia. Jika tuduhan kaum materialis atas kaum metafisis-rasionalis batal, maka batal pula pondasi awal mereka soal kontradiksi materialisme vis-a-vis metafisisme.

Bagaimana dengan Tuhan yang merupakan proyeksi manusia belaka? Bagi Marx, agama dan ‘mitos-mitos’ di dalamnya muncul dari kaum tertindas. Mereka inilah yang lari dari kejamnya dunia dalam sistem feodalisme menuju opium berupa entitas transenden, yang diharapkan mampu menolong mereka dari segala bentuk penindasan. Jadi, Marx memandang agama timbul dari proyeksi yang dibuat oleh manusia dengan maksud tertentu. Sebab-sebab ini tentu saja kembali kepada sebab materiil. Tak ada nabi atau orang suci yang benar-benar pernah diutus Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia.

Tuhan adalah proyeksi manusia dan agama adalah candu merupakan dua statemen yang muncul dari Feuerbach dan Marx. Keduanya, sebagaimana sudah saya tunjukkan, pada tingkatan pertama tidak berusaha membuktikan apakah Tuhan itu ada atau tidak. Tetapi, mereka berpandangan bahwa sesuatu yang melampaui materi, nir, meta, tidaklah mungkin kecuali sebagai proyeksi.

Pertanyaan untuk Feuerbach yang belum bisa ia jawab adalah: bagaimana mungkin manusia yang merupakan gumpalan materi dapat memproyeksikan entitas yang sama sekali nirmateri? Sementara itu, teori Marx soal agama adalah candu, dapat diberi pertanyaan yang sangat mendasar: apakah benar bahwa agama merupakan pelarian manusia? Marx otomatis akan salah ketika pertanyaan ini menemukan jawaban yang sebaliknya, meskipun sampelnya cuma satu atau dua. Itulah mengapa Marx salah.

Menutup tulisan ini, pandangan saya pribadi soal masalah di atas adalah:

Pertama: Saya lebih suka pada penafsiran Heidegger soal agama. Pada suatu wawancara, Heidegger berbicara soal ontologi agama. Baginya, tak ada orang yang tanpa agama. Termasuk kaum Marxis. Apa itu agama? Agama adalah ‘keyakinan’ tanpa syarat terhadap sesuatu yang melampaui individualitas manusia, bisa berupa sistem negara, kepercayaan terhadap supremasi iptek, dan keyakinan atas kemajuan teknologi.

Kedua: Saya juga suka pada pandangan yang pragmatis-mistis soal agama. Embrionya saya dapat dari Imam Ali bin Abi Thalib. Suatu ketika Sayyidina Ali didebat orang ateis: “Bagi saya setelah mati itu tidak ada apa-apa. Tidak ada akhirat, surga maupun neraka. Mati ya mati.” Jawaban Sayyidina Ali: “Jika yang Anda katakan benar, maka saya selamat dan Anda juga selamat. Tetapi jika yang benar adalah saya, maka saya selamat dan Anda tidak.”



M.S. Arifin
M.S. Arifin / 24 Artikel

M.S. Arifin, lahir di Demak 25 Desember 1991. Seorang penyair, esais, cerpenis, penerjemah, dan penyuka filsafat. Bukunya yang sudah terbit: Sembilan Mimpi Sebelum Masehi (antologi puisi, Basabasi, 2019) dan Mutu Manikam Filsafat Iluminasi (terjemahan karya Suhrawardi, Circa, 2019). Bisa dihubungi lewat: [email protected].

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: