Esai

Mengapa Shahih Al-Bukhari Menjadi Kitab Paling Kredibel setelah Al-Quran?

11 Aug 2021 05:57 WIB
3819
.
Mengapa Shahih Al-Bukhari Menjadi Kitab Paling Kredibel setelah Al-Quran?

Mengapa Shahih Al-Bukhari menjadi kitab paling kredibel sesudah kitab suci al-Quran? Apa alasan yang membuat kitab hadits Imam al-Bukhari itu bisa sampai ke derajat ini? Mungkin pertanyaan ini terbenam di benak beberapa orang.

Secara global, sebabnya adalah usaha luar biasa yang dikerahkan oleh Imam Al-Bukhari (W. 256 H) dalam berkhidmat untuk hadits-hadits nabawi. Jasa yang besar inilah yang akhirnya mengantarkan Shahih Al-Bukhari menjadi buku paling kredibel setelah al-Quran. 

Menurut Dr. Abdul Sami' al-Anis dalam seminar bertajuk Usbu' Al-Imam Al-Bukhari (Pekan Imam al-Bukhari)  yang diselenggarakan oleh Departemen Keislaman di Dubai tahun 2017, setidaknya ada empat sebab pada diri Imam Al-Bukhari yang menjadikan Shahih Al-Bukhari menduduki posisi prestisius lagi mulia ini:

Sebab pertama, karena Imam Al-Bukhari mengambil dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama besar ilmu hadits pada masanya. Selain itu, beliau telah menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk menemui mereka. 

Imam Al-Bukhari tumbuh besar di Bukhara, Asia Tengah. Hidup di tengah keluarga agamis dan berpendidikan. Ayahnya wafat ketika beliau masih kecil. Semenjak itu ibunya mengambil alih untuk membesarkannya. Dalam urusan materi ekonomi, ibunya tidak merasa sulit, sebab sang ayah sudah menyiapkan harta yang halal untuk merawat anaknya itu. Diriwayatkan bahwa ayahnya pernah berkata, “Saya tidak pernah menyimpan satu dirham pun dari perkara syubhat, atau yang haram.”

Imam Al-Bukhari hidup pada abad ke-3, saat ilmu hadits berada pada masa keemasan. Beliau mengambil hadits dari ulama yang ada di daerahnya, kemudian dilanjutkan dengan rihlah ke daerah-daerah kejayaan Islam pada saat itu, antara lain: Hijaz, Irak, Syam, Mesir, dan Khurasan. 

Jika dikalkulasikan, Imam Al-Bukhari mendapatkan hadits dari 1080 Syekh. Mereka adalah para pembesar ilmu hadits pada masa tersebut. Bahkan lima di antara mereka bergelar Amirul Mukminin dalam bidang hadits. Yaitu: Al-Fadhl bin Dakin Al-Kufi (W. 210 H), Hisyam bin Abdul Malik Ath-Thayalisi (W. 227 H), 'Ali bin Al-Madini Al-Bashri (W. 234 H), Ishaq bin Rahawaih (W. 235 H), dan Muhammad bin Yahya An-Naisaburi (W. 258 H). Imam Al-Bukhari juga mengambil hadits kepada Imam Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) dan Yahya bin Ma'in (W. 233 H).

Peta perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadits

 

Sebab kedua, karena upaya dan tenaga luar biasa yang Imam Al-Bukhari kerahkan dalam berkhidmat atas hadits nabawi dengan menuliskan karya-karya yang penuh dengan keberkahan. 

Imam Al-Bukhari sudah mulai menulis saat umur beliau masih muda. Ketika berumur 18 tahun, beliau sudah menulis karya yang berjudul Qadhaya Ash-Shahabah wa At-Tabi'in wa Aqawilihim. Karya Imam Al-Bukhari lebih dari 30 judul, namun banyak di antaranya hilang dan belum ditemukan. 

Karya-karya Imam al-Bukhari antara lain Shahih Al-Bukhari, Adab Al-Mufrad, Raf'u Al-Yadain fi Al-Shalah (dicetak di India tahun 1840 M), Khalq Af'al Al-'Ibad, Birr Al-Walidain (dicetak di dar Al-Kattaniyah dan penulis telah membaca kitab ini bersama Syekh Muhammad Ar-Rabi An-Nadwi). 

Kemudian dalam ilmu Rijal al-Hadits, Imam Al-Bukhari menulis kitab At-Tarikh Al-Kabir, kitab Al-Kuna (dicetak di India tahun 1941 H), kitab At-Tarikh Al-Ausath, kitab Tarikh Ash-Shagir. 

Adapun karya Imam al-Bukhari yang belum ditemukan hingga saat ini adalah kitab Al-Mabsuth. Sebagai tambahan informasi dari Syekh Aiman Al-Hajjar, kitab Shahih Al-Bukhari diringkas dari kitab Al-Mabsuth ini. 

Termasuk di antara kitab yang belum ditemukan adalah kitab Al-Fawaid, kitab Al-'ilal, dan beberapa kitab lainnya. 

Pertanyaannya kemudian adalah di antara semua kitab tersebut mengapa Shahih Al-Bukhari yang menjadi kitab yang paling kredibel? 

Ada banyak alasan. Pertama, Imam Al-Bukhari menghabiskan 16 tahun untuk menulis kitab ini. Dimulai ketika beliau berumur 22 tahun, dan selesai saat beliau berumur 38 tahun. Kedua, beliau menyeleksi 600.000 riwayat hadits, hingga menjadi 7593 hadits yang tertera di Shahih Al-Bukhari.

Ketiga, Imam al-Bukhari mempresentasikan kitab ini kepada ulama hadits besar pada masanya: Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Yahya bin Ma'in dan Imam Ali Al-Madini. Ketiga ulama ini menilainya dengan sangat bagus dan memberikan stempel shahih atas kitab tersebut. 

Keempat, setelah Imam-Imam besar itu memberikan nilai, maka umat pada masa itu berbondong-bondong mendatangi Imam Al-Bukhari untuk mendengarkan hadits yang ada pada Shahih Al-Bukhari. Dalam riwayat disebutkan bahwa yang hadir lebih 90.000 orang. 

Kelima, kitab ini mendapatkan perhatian yang luar biasa dari pada ulama Syekh Muhammad Isham dalam kitab Ithaf Al-Qari bi Ma'rifah Juhud wa 'Amal Al-Ulama 'Ala Shahih Al-Bukhari, mengumpulkan ada 376 judul karya ilmiah, ada yang memberikan syarah, ada yang menjelaskan perawinya, ada juga yang menjawab tuduhan-tuduhan atas Shahih Al-Bukhari

Keenam, para raja dan pemimpin zaman dahulu sangat semangat dalam berkhidmat pada Shahih Al-Bukhari. Bahkan ada salah seorang raja pada abad ke-7 yang mengerahkan lebih dari 10.000 dinar untuk meneliti naskah Shahih Al-Bukhari. Tugas ini kemudian diserahkan kepada Syekh Syarifuddin Al-Yunini, yang akhirnya naskah beliau menjadi rujukan utama untuk mencetak Shahih Al-Bukhari. Jika dihitung, di seluruh perpustakaan dunia, terdapat lebih dari 25000 potongan manuskrip Shahih Al-Bukhari

Sebab ketiga, Imam Al-Bukhari memiliki spiritualitas yang tinggi. Bagi yang membaca biografi beliau, akan mendapati kuatnya ibadah yang beliau lakukan. Di tengah kesibukan dengan hadits, beliau tidak meninggalkan wiridnya dalam membaca al-Quran, diriwayatkan dalam bulan Ramadhan, beliau khatam al-Quran di siang hari setiap hari, khatam al-Quran di waktu sahur setiap tiga hari sekali, dan khatam di malam hari setiap hari. 

Sebab keempat, usaha beliau menyebarkan hadits setelah mendapatkannya. Dalilnya sebagaimana yang disebutkan di atas, bahwa kitab Shahih Al-Bukhari ini telah didengar lebih dari 90.000 orang. Beliau juga pergi ke Baghdad untuk mendiktekan kitab tersebut.


Rabu, 11 Agustus 2021
Madinah Bu'uts Al-Islamiyah, Kairo


Fahrizal Fadil
Fahrizal Fadil / 78 Artikel

Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Aceh. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab. Aktif menulis di Pena Azhary. Suka kopi dan diskusi kitab-kitab turats.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: