Artikel

Merunut Pesan Kiai Sahal Agar Santri Tidak Lupa Guru

28 Jun 2021 08:15 WIB
2411
.
Merunut Pesan Kiai Sahal Agar Santri Tidak Lupa Guru

Ciri khas pendidikan pesantren yang berbeda dengan lembaga formal adalah para santri dididik agar menjadi manusia bermoral yang berkualitas tinggi. Corak pendidikannya adalah mengedepankan akhlakul karimah, melatih jiwa dan raga sehingga karakter dan keilmuan yang mereka dapatkan akan tertaut dalam bingkai kebaikan (ihsan) dalam menjalani keseharian hidup bagi santri yang masih mondok maupun yang sudah alumni.

Termasuk adab yang harus dimiliki oleh para santri yaitu menghormati para gurunya, baik kepada guru yang muda sampai yang sudah sepuh. Mengingat jasa keilmuan yang telah mereka ajarkan penuh dengan pengorbanan dan keikhlasan, sehingga keberkahan ilmu dari guru dapat dirasakan dan dinikmati oleh para santri. Maka dari itu, keharusan takzim kepada guru adalah hal yang tidak terbantahkan dan wajib dilakukan sepanjang hayat.

Dalam suatu kesempatan, Kiai Sahal Mahfudh Al-Hajaini berpesan,

"Santri jangan sampai lupa dengan guru-gurunya, setiap selesai salat hendaknya mendoakan gurunya, minimal membacakan fatihah untuk beliau-beliau."

Kiai asal Kajen Pati tersebut mewanti-wanti para santri supaya ingat terhadap gurunya, minimal dengan membacakan fatihah seusai salat. Sudah selayaknya setiap guru mendoakan muridnya, maka demikian pula lah yang juga harus dilakukan oleh para santri, yakni mendoakan gurunya. Masyaallah indahnya, ketika melihat relasi guru-murid yang saling mendoakan, insyaallah keberkahan ilmu akan semakin terbuka (futuh).

Menurut KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya pada bab tiga, ada dua belas akhlak santri terhadap guru. Di antaranya yang selaras dengan pesan Kiai Sahal yaitu seorang santri harus mengetahui kewajibannya terhadap guru dengan segala hormat, tidak melupakan jasa-jasanya dan mendoakan beliau-beliau baik ketika beliau masih hidup atau yang sudah wafat dan berziarah ke makam gurunya untuk memintakan ampunan dan sedekah kepada beliau. Serta tetap menaruh hormat kepada keturunan, keluarga, dan orang-orang yang beliau sayangi.

Lanjut Hadratussyekh, seorang santri harus memperlihatkan etika yang baik, memberi arahan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan, melestarikan adat, tradisi dan kebiasaan yang dicontohkan oleh gurunya dalam hal agama atau keilmuan, serta loyal, tunduk, dan patuh kepada guru dalam keadaan apapun dan di manapun ia berada. (Adabul ‘Alim wal Muta’allim/Hal. 30-31)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mencetak generasi saleh-salehah kiranya hampir tidak mungkin ditemukan seorang murid yang durhaka kepada gurunya, beda dengan kasus-kasus yang terjadi di sekolah formal lain. Di pesantren, perilaku menyakiti hati guru saja sudah dianggap perbuatan yang amat memalukan. Apalagi jika sampai membentak dengan suara keras, menghina atau memukul guru, itu merupakan keburukan akhlak. Wal ‘iyadzu billah.

Jika dilihat dari cara mendidik moral, pesantren telah sukses mengajarkan budaya rasa malu dalam diri. Pasalnya, memiliki rasa malu merupakan sebagian dari iman. Malu merupakan adab yang baik, sebaliknya, tak punya malu adalah sebuah kecelakaan. Hal itu masih senada dengan pesan Kiai Sahal bahwa semakin banyak sesuatu maka semakin murah harganya kecuali akhlakul karimah, semakin banyak akhlaknya maka semakin mahal harganya. Sebaliknya, tak punya akhlak sama saja tak punya harga diri.

Di Pesantren Maslakul Huda (PMH) Kajen Pati misalnya, KH. MA. Sahal Mahfudh kala masih sugeng (baca: semasa hidup), beliau pada pagi hari sering duduk di kursi teras depan ndalem ditemani seorang santri khadim sembari memandangi pesantren yang diasuhnya, di mana para santri berbondong berangkat menuju ke Mathole’ (Madrasah Perguruan Islam Mathaliul Falah atau disingkat menjadi “PIM”).

Satu sisi mereka sebagai santri merasa bangga bisa ber-muwajahah (baca: memandang wajah) dengan kiainya barang sejenak dengan sekali pandang lalu kembali menundukkan kepala sambil lanjut berjalan. Namun di sisi lain, perasaan tersebut dapat sirna lalu berubah menjadi keresahan hati dan malu besar apabila ada santri yang berangkat ke madrasah dalam keadaan terlambat dan jalan setengah lari. Begitulah pelajaran kedisiplinan yang diajarkan Kiai Sahal dalam tindakan.

Terlepas dari itu, hal ini merupakan sebuah perhatian seorang kiai kepada santrinya di sela kesibukan beliau. Layaknya perhatian orang tua kepada anaknya, maka selama di pesantren, posisi guru adalah sebagai orang tua dan para santri adalah anaknya.


Muhammad Ilham Fikron
Muhammad Ilham Fikron / 1 Artikel

Sahalian (Santri Mbah Sahal), Alumnus Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) dan Alumnus Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati.


Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: