Artikel

Motivasi Belajar Agama dari Habib Zein bin Ibrahim bin Smith

29 Jul 2021 01:33 WIB
3225
.
Motivasi Belajar Agama dari Habib Zein bin Ibrahim bin Smith

Salah satu kitab fiqih kontemporer yang santri sangat mudah mempejarinya adalah kitab Taqrirotus Sadidah fil Masa’il Mufidah. Pengarang kitab ini adalah Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaff. Sedangkan Muhaqqiq kitab ini adalah Habib Zein bin Ibrahim bin Smith.

Pada pembukaan kitab, Habib Zein menulis tentang artikel yang membahas tentang motivasi mempelajari dan mendalami ilmu agama. Pada kesempatan kali ini, saya coba mengulas dan menarasikan motivasi dan pesan-pesan yang ingin disampaikan Habib Zein melalui artikel singkat ini.

Ketahuilah bahwa Allah menciptakan makhluk supaya megetahui dan mengabdi kepada-Nya. Kunci pengetahuan dan pengabdian kepada Allah adalah ilmu. Seseorang tidak akan bisa memperoleh ilmu kecuali dengan belajar.

Ada sebuah syair sebagaimana berikut:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا       #       وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هَوَ جَاهِلٌ

وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لَا عِلْمَ عْنْدُهُ       #       صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلِيْهِ الْمَحَافِلُ

Belajarlah karena tidaklah seorang pun lahir dalam keadaan alim
sama orang yang memiliki pengetahuan dengan orang bodoh

Sesungguhnya pembesar kaum bila tidak memiliki ilmu itu
Jadi kecil apabila ia berkumpul dengan orang-orang

Begitupula dengan kehidupan manusia sebelum adanya Islam. Mereka adalah orang-orang yang bodoh (dalam bidang akidah) yang mana mereka menyembah kepada berhala. Mereka memakan makanan yang haram, memutus silaturahim, berbuat dosa-dosa besar.

Kemudian Allah mengutus rasul kepada mereka sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dengan ada syariat Islam. Mereka menyampaikan wahyu serta membimbing umat manusia.

Para ulama yang ‘amilun, para dai yang menasehati (ad-Du’atun Nashihun). Merekalah para pengganti rasul dan risalah kenabian kemudian meneruskan perjuangan. Sehingga ajaran-ajaran agama masih tetap ada, melewati proses begitu panjang hingga sampai kepada kita berkat perantara para ulama itu.

Kemudian agama kita adalah agama Islam yang tegak atas dasar ilmu atau pengetahuan. Maka sangat tidak ada anjuran sekali bagi seorang Muslim itu jauh dari cahaya ilmu. Akan tetapi seharusnya kita mengambil bagian dari estafet dakwah kenabian.

Karena para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, para nabi hanya mewariskan ilmu. Ilmu adalah hidupnya hati dari orang yang buta, lentera pengelihatan dari kegelapan. Sungguh agama Islam sangat menganjurkan sekali untuk mempelajari semua ilmu, lebih-lebih ilmu fiqih. 

Ilmu fiqih adalah intinya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an:

 قَلْ هَلْ يَسْتَوِيَ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَالَّذيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ 

“Katakanlah (wahai Muhammad), apakah sama antara orang yang mengetahui (ilmu agama) dan orang yang tidak mengetahui (ilmu agama)?” (QS. Az-Zumar: 9)

وَقَلْ رَبِّ زِدْنَيْ عِلْمًا 

“Katakanlah (Muhammad), tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114)

Begitu pula dengan hadits sebagaimana berikut:

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ فِيْ الصِّيْنِ 

“Carilah ilmu sekalipun sampai ke negeri China”. (HR. Al-Baihaqi)

مَنْ يُرِدِ اللهُ خيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa Allah menghendaki kebaikan kepada-Nya, maka Allah pahamkan ia dalam ilmu agama.” (HR. Al-Bukhari, no : 71 dan Imam Muslim, 2/718, n: 1037)

تَفَقَّهْ فَإِنْ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدِ                    إِلَى الْبِرِّ وَألتُّقْوَى وَاَعْدَلُ قَاصِدِ

وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً                 مِنَ الْفِقْهِ وَاسْبَحْ فِيْ بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ

هَوَ الْعِلْمُ الْهَادِي إِلَى سُنَنِ الْهُدَى           هَوَ الْحِصْنُ مَنْ جَمِيْعِ الشّدَائِدِ

وَإِنَّ فَقَيْهًأ وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا                    أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ

Belajarlah ilmu fiqih karena ia sebaik-baik penuntun
Ke
kebaikan dan ketakwaan serta penyampai tujuan paling adil
 Jadilah orang yang selalu bertambah kefiqihannya setiap hari
Dan m
enyelamlah dalam lautan faedah ilmu fiqih
Ia
ilmu yang memberikan petunjuk kepada sunah-sunah Allah
Ia adalah
benteng yang melindungi dari seluruh kejelekan
Se
orang ahli fiqih warak lebih berat bagi setan
D
aripada seribu orang ahli ibadah (tapi tidak ahli fiqih)

Ketahuilah bahwa mendalami ilmu agama itu lebih penting daripada memperbanyak wirid dan zikir. Mempelajari ilmu fiqih itu hukumnya fardhu ‘ain karena sahnya ibadah, muamalah, munakahat itu bergantung padanya.

Mempelajari ilmu fiqih itu berubah hukumnya menjadi fardhu kifayah bila kita hendak berfatwa atau memutuskan suatu hukum dalam ilmu agama. Tentunya persoalan yang perlu kita pelajari tidak sekadar persoalan ibadah, muamalah dan munakahat saja.

Mempelajari fiqih itu sunah hukumnya bila kita memang hendak menyelami ilmu fiqih. Perbuatan ini adalah paling utamanya ketaatan serta sebagai bentuk infaq (sedekah) pada nafas kehidupan yang telah Allah berikan.

Dalam sebuah hadits ada sebuah riwayat:

لَكُلِّ شيْئٍ عِمَأدٌ وَعِمَادُ هَذَا الدِّيْنِ اَلْفِقْهُ

“Segala sesuatu itu memiliki pondasi. Sedangkan pondasi agama (islam) ini adalah fiqih.” (HR. Ad-Daruquthni)

مَا عُبِدَ اللهُ بِشَيْئٍ أَفْضَلُ مِنْ فَقْهٍ فِيْ الدِّيْنِ

“Tidaklah ada sesuatu yang menyembah kepada Allah lebih utama dengan daripada (berdasarkan) fiqih dalam agama.” (HR. Al-Baihaqi)

خِيَارُكُمْ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِيْ الْاِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوْا

“Sebaik-baik kalian pada masa jahiliah adalah sebaik-baik kalian pada masa Islam apabila mereka mendalami ilmu fikih.” (HR. Al-Bukhari)

Maksudnya mereka menjadi orang yang mengetahui hukum-hukum syariat.

Dengan adanya penjelasan ini, ilmu fiqih menempati posisi yang tinggi. Karena dengan ilmu fiqih umat Islam bisa menjaga kehidupan mereka, baik urusan agama maupun duniawi. Dengan ilmu fiqih, umat Islam dapat membedakan mana itu ibadah dan mana itu adat.

Sesungguhnya orang-orang Islam itu paling tinggi derajatnya daripada seluruh umat, baik dunia ini maupun setelah kematian nanti. Penjelasan ini sebagaimana kabar yang ada dalam firman Allah SWT.:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu (merasa) lemah, janganlah kamu (merasa) sedih. Sesunggunya kalian itu derajatnya paling tinggi jika kalian beriman.” (QS. Ali Imran: 139) 

Maka sesungguhnya orang-orang Islam tidak mendominasi dan tidak didominasi kecuali dengan mendalami ilmu agama sebagaimana penjelasan tentang pentingnya belajar ilmu agama tadi.

Maka wajib bagi pemuda-pemuda Islam untuk berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu yang mulia dan mendalami ilmu agama. Hingga mereka menjadi sebaik-sebaik generasi modern (kholaf) karena ikut pada generasi orang-orang shaleh zaman dahulu (salaf).

Maka kita memohon kepada Allah SWT. supaya Dia memperlihatkan kebenaran kepada kita serta memberi taufiq kepada kita supaya dapat mengikuti kebenaran itu. Serta semoga Allah menampakkan kebatilan kepada kita dan memberika taufiq supaya kita dapat menjauhinya. Semoga keinginan kita selalu mengikuti kepada apa-apa yang oleh nabi Muhammad SAW. ajarkan, baik secara dzahir dan batin. Dalam keadaan sehat serta selamat.

Alfin Haidar Ali
Alfin Haidar Ali / 1 Artikel

Santri di Mahad Aly Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur.  Senang menulis di buku dan media sosial.

Rudy
29 July 2021
Sebagai saran,harap lbih teliti lgi dlam membrikan harakat _bgi yg pham ini adalah kslahan dri ssi pngetikan sja_ ; sebab artikel yg ditulis ntuk dikonsumsi khalayak umum, makasih.
Muhammad 'Abda Rifqi
30 July 2021
Maaf kang, kayaknya kurang pas kalau "huwal 'ilmul Hadi" ketika di taqti' pada syi'ir nya Kiranya lebih tepat "huwal 'alamul Hadi" (bendera yang memberi petunjuk)

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: