Fatwa

Muharram: Asal Usul Nama dan 6 Amalan yang Dianjurkan

09 Aug 2021 02:21 WIB
2034
.
Muharram: Asal Usul Nama dan 6 Amalan yang Dianjurkan

Pusat Fatwa Al-Azhar menyarankan umat Islam untuk tekun mengerjakan 6 amal ibadah dan ketaatan berikut pada bulan Muharram serta bulan-bulan mulia lainnya.

Amal ibadah yang pertama adalah memperbanyak amal shaleh dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan.

Kedua, bergegas dan melestarikan amal shaleh supaya menjadi penggugah atau pendorong dalam mengerjakannya di bulan-bulan lain.

Ketiga, menggunakan kesempatan untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang bersifat temporer yang ada pada bulan-bulan mulia seperti haji, puasa Arafah, dan puasa Asyura.

Keempat, Al-Azhar memperingatkan agar umat Islam meninggalkan segala bentuk kezaliman pada bulan-bulan mulia ini karena besarnya keagungan bulan tersebut di sisi Allah SWT. Khususnya tidak menzalimi diri sendiri, hingga menahan diri dari bentuk-bentuk kezaliman di bulan lainnya.

Kelima, memperbanyak sedekah. 

Dan keenam adalah memperbanyak puasa.

Mengapa Dinamakan Muharram?

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender qamariyah atau hijriyah. Pada masa jahiliah, bulan ini disebut bulan Mu`tamir. Sementara nama “Muharram” mereka gunakan untuk menyebut bulan Rajab.

Dinamakan Muharram karena pada bulan ini, umat Islam diharamkan berperang. Dan bulan Muharram termasuk dalam empat bulan yang diharamkan (dimuliakan), sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَأوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Imam As-Suyuthi mengatakan: “Saya pernah ditanya, mengapa bulan Muharram secara khusus disebut bulan Allah, bukan bulan-bulan lainnya, padahal dalam bulan-bulan lainnya juga sama-sama terdapat keistimewaan dan keutamaan, bahkan lebih, seperti bulan Ramadhan? Lalu saya jawab bahwa nama Muharram ini baru ada sejak Islam datang, sementara nama bulan-bulan lainnya sudah ada sejak masa jahiliah. Orang-orang jahiliah menyebut bulan Muharram ini sebagai bulan Shafar Awal, dan bulan setelahnya adalah Shafar Kedua. Ketika Islam datang, Allah menamainya dengan sebutan Muharram. Maka dari itulah bulan Muharram ini disandarkan pada Allah.”

Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan bahwa semua bulan qamariyah ini memiliki nama-nama lain pada masa jahiliyah. Nama bulan Muharram adalah Ba`iq, bulan Shafar adalah Nafil, bulan Rabi’ul Awal adalah Thaliq, bulan Rabi’ul Akhir adalah Najiz, bulan Jumadal Ula adalah Aslah, bulan Jumadal Akhir adalah Aftah, bulan Rajab adalah Ahlak, bulan Sya’ban adalah Kusu’, bulan Ramadhan adalah Zahir, bulan Syawwal adalah Buthth, bulan Dzulqa’dah adalah Haqq, dan bulan Dzulhijjah adalah Na’isy.

Berpuasa pada Bulan Muharram

Rasulullah SAW telah mewasiatkan agar umat Islam berpuasa di bulan Muharram. Dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat Lail (malam).”

Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda:

صوم عاشوراء يكفِّر السّنة الماضية، وصوم عرفة يكفِّر سنتين: الماضية والمستقبَلة

“Puasa Asyura (pahalanya) dapat melebur dosa satu tahun yang lalu, dan puasa Arafah (pahalanya) dapat melebur dosa dua tahun, yaitu yang telah lalu dan yang akan datang.” (HR. An-Nasa`i)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW sengaja berpuasa pada suatu hari yang beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa`i, dan Ahmad)

Hari Asyura adalah hari ke-10 dari bulan Muharram menurut pendapat yang shahih dari jumhur ulama, bukan hari ke-9 menurut sebagian ulama. Hal itu karena kata Asyura merupakan akar kata dari kata ‘Asyir yang bermakna hari kesepuluh. Sementara hari kesembilan disebut Tasu’a`.

Dalam kitab Majmu’, Imam An-Nawawi mengatakan bahwa puasa Arafah bisa melebur dosa dua tahun dan puasa Asyura bisa melebur dosa setahun, masing-masing bisa melebur jika terdapat dosa-dosa kecil. Adapun jika tidak terdapat dosa kecil maupun besar maka tertulis baginya beberapa kebaikan (pahala) serta dapat mengangkat derajatnya. Sementara jika terdapat dosa besar namun tidak ditemukan dosa kecil, maka kami berharap hukuman atas dosa besar tersebut bisa diringankan.

Arif Khoiruddin
Arif Khoiruddin / 102 Artikel

Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Tinggal di Pati. Pecinta kopi. Penggila Real Madrid.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: