Artikel
Pandemi di Balik Megahnya Masjid Sultan Hasan
Salah satu mahakarya arsitektur Mesir Islam yang masih bisa ditemui saat ini adalah Masjid Sultan Hasan di kota Kairo. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1356 M/757 H atas perintah Sultan An Nasir Hasan yang memerintah Mesir waktu itu dan benar-benar selesai di tahun 1363 M/764 H.
Tidak hanya sebagai masjid, bangunan ini juga didirikan sebagi tempat belajar sekaligus asrama siswa pendidikan Islam sehingga dikenal juga sebagai Madrasah Sultan Hasan.
Dalam buku Tarikh Misr al Islamiyyah (Sejarah Mesir Islam), Jamaluddin As Syayal menyebut bahwa masjid ini adalah peninggalan Mesir Islam yang paling indah. Menurutnya, pendapat ini sesuai dengan pendapat para sejarawan maupun para pelancong.
Tidak salah, memang. Masjid Sultan Hasan terbukti nampak indah dan megah apalagi jika dilihat dari ketinggian Benteng Shalahuddin Al Ayyubi yang ada seberangnya, tepatnya di arah kiblat.
Kendati demikian, ada kisah pilu di balik berdirinya masjid ini. Pada tahun 1348 M/749 H, Mesir yang waktu itu dikuasai oleh Dinasti Mamluk, atau disebut juga Daulah Mamalik, dilanda sebuah pandemi dahsyat yang terkenal dengan nama Al Mawt as Aswad atau The Black Death.
Pandemi yang dipercaya merenggut tak kurang dari sepertiga populasi Mesir dan 200 juta korban secara global ini diperkirakan mulai mewabah di wilayah Timur Jauh lalu merembet ke arah barat hingga Eropa dan Timur Tengah.
Menurut Caroline Williams dalam buku Islamic Monuments in Cairo, harta benda peninggalan korban pandemi ini masuk memenuhi pundi-pundi kas negara waktu itu. Dari kas negara inilah sang sultan memiliki modal besar untuk membangun masjid yang megah, sebuah kebijakan yang sesungguhnya tidak populer di mata rakyat.
Sultan An Nasir Hasan sendiri dinobatkan menjadi penguasa tertinggi Mesir setahun sebelum terjangkitnya pandemi (1347 M/748 M). Saat itu ia masih sangat muda, baru berusia tigabelas tahun.
Ayahnya bernama An Nasir Muhammad sedang kakeknya bernama Al Mansur Qalawun, keduanya juga sultan penguasa tertinggi Mesir di masanya. Setelah dinobatkan, sultan yang masih belia ini tidak benar-benar memiliki andil dalam pengambilan keputusan. Segala urusan pemerintahan lebih berada di bawah keputusan para amir.
Saat terjadinya pandemi, angka korban penduduk Mesir bisa mencapai angka 10.000 dalam satu hari saja, sebagaimana diceritakan Jihan Mamduh Ma’mun dalam buku Daulah Salatin al Mamalik fi Misr (Negeri Para Sultan Mamluk di Mesir).
Total korban tak kurang dari 900.000 penduduk serta seribu punggawa militer Mesir. Empat puluh desa hilang populasinya dan lahan pertanian tak tergarap karena para petani menjadi korban. Harga dua seperempat kilo gandum pun mencapai angka 200 dirham.
Di antara sekian dinasti penguasa Mesir Islam, Dinasti Mamluk dapat dikatakan paling unggul dalam melahirkan peninggalan bangunan artistik. Sebagaimana penguasa dinasti Mesir Islam lain, para sultan maupun amir Dinasti Mamluk berlomba-lomba mendirikan bangunan umum maupun keagamaan.
Tak jarang masjid satu berseberangan atau bersampingan dengan masjid yang lain. Lorong-lorong kota Kairo kuno menjadi semacam museum terbuka yang memajang sekian banyak peninggalan Mesir Islam termasuk Dinasti Mamluk.
Namun demikian, Dinasti Mamluk juga terkenal dengan intrik politiknya yang keras yang tak jarang diiringi kudeta berdarah. Karakter keras ini tak bisa dilepaskan dari asal-muasal dinasti ini.
Istilah mamluk yang bentuk jamaknya adalah mamalik ini memiliki arti ‘budak’. Generasi awal dinasti ini bermula dari para mamluk yang akhirnya merdeka lalu menjadi punggawa militer dan akhirnya menanjak posisinya menjadi penguasa.
Dinasti Mamluk terbagi menjadi dua periode, Mamluk Bahri (1250–1382 M) dan Mamluk Burji (1382–1517 M). Kata bahri berarti laut atau perairan sedang burji berarti menara atau benteng.
Cikal bakal Dinasti Mamluk Bahri adalah para serdadu mamluk keturunan etnis Turk yang baraknya berada di Pulau Raudhah, tengah Sungai Nil. Sementara itu, para petinggi Dinasti Mamluk Burji adalah keturunan etnis Circassia dari wilayah Kaukasus yang memerintah dari Benteng Shalahuddin Al Ayyubi, Kairo.
Ibu kota sepanjang masa pemerintahan Dinasti Mamluk adalah kota Kairo, Mesir. Dari kota inilah Dinasti Mamluk dapat memerintah wilayah yang kini masuk negara Libya, Sudan, Saudi Arabia, Yordania, Palestina, Israel, Lebanon, Suriah dan Turki. Peninggalan-peninggalan Mamluk saat ini juga masih bisa ditemui di kota suci Makkah dan Madinah.
Kerasnya intrik politik Dinasti Mamluk juga berimbas pada Sultan An Nasir Hasan. Karena masalah politik sang sultan dilengserkan oleh para amir di tahun 1351 M dan digantikan oleh adiknya Sultan As Salih Salahuddin Salih.
Namun melalui intrik politik juga akhirnya Sultan An Nasir Hasan bertahta lagi di tahun 1354 M. Di masa pemerintahannya yang kedua inilah, tepatnya di tahun 1356 M, ia mulai mendirikan bangunan megah yang kita kenal dengan nama Masjid-Madrasah Sultan Hasan.
Sejarawan Mesir terkemuka, Al Maqrizi, yang lahir beberapa tahun setelah meninggal Sultan Hasan, mencatat kemegahan masjid sang sultan. Dalam karya monumentalnya, Al Khitat, sejarawan ini menyatakan bahwa di dalam Masjid Sultan Hasan terdapat keajaiban-keajaiban arsitektural.
Ia menyebut ruang dalam atau iwan di masjid ini lebih megah dari iwan milik raja kisra di kota-kota di Iraq. Mimbarnya yang berbahan marmer ia sebut tiada tanding. Kubah besarnya ia sebut tak dapat ditemui di tempat lain baik di Mesir, Syam, Iraq, Maghrib (Afrika Utara bagian barat) maupun Yaman.
Sayang sekali, kubah yang disebutkan oleh Al Maqrizi di atas, kini tidak bisa ditemui lagi. Kubah yang asli telah mengalami kerusakan dan yang tersisa adalah hasil renovasi dari generasi penguasa berikutnya.
Masjid ini memiliki panjang 150 meter, lebar 68 meter dan tinggi 36 meter, sedang menara tertingginya mencapai angka 84 meter. Menurut Al Maqrizi, masa pembangunan masjid ini memakan waktu tiga tahun tanpa ada hari libur.
Jika menurut referensi lain pembangunannya memakan waktu tujuh tahun, berarti empat tahun yang terakhir adalah masa penyempurnaan.
Di kota Kairo, kiblat ada di arah tenggara. Masjid Sultan Hasan memiliki iwan di arah kiblat, arah barat daya, barat laut dan timur laut. Pada empat sudut di antara empat iwan, terdapat empat ruang madrasah untuk empat mazhab fikih yang berbeda. Bangunan untuk mazhab Hanafi adalah yang terbesar dan berada di sudut selatan, sedang untuk mazhab Hanbali adalah yang terkecil di sudut barat.
Bangunan di sudut utara untuk mazhab Maliki, di sudut timur untuk mazhab Syaifi’i, sementara bagian tengah adalah ruang tanpa atap yang dilengkapi tempat berwudhu. Selain madrasah yang berorientasi pendidikan fikih, kuttab yang merupakan lembaga pendidikan dasar baca tulis Al Quran untuk kanak-kanak juga diselenggarakan di masjid ini dengan sasaran utama anak-anak yatim.
Sultan Hasan memang tidak lama menikmati keindahan masjid yang ia bangun karena mangkat di tahun keenam pembangunan. Terlepas kontroversi penggunaan dana dari peninggalan korban pandemi, Sultan Hasan waktu itu berusaha menjalankan masjid dan madrasahnya dengan semangat kedermawanan.
Segenap syaikh, guru, siswa madrasah, siswa kuttab maupun pegawai yang beraktivitas di masjid ini dijamin kehidupannya secara finansial. Hal ini dipaparkan oleh Su’ad Mahir Muhammad dalam bukunya Masajid Misr wa Awliya’uha As Salihun (Masjid-masjid Mesir dan Para Walinya yang Saleh).
Jaminan serupa juga diberikan kepada para imam, muazin serta ahli pengatur waktu shalat. Tidak ketinggalan pula para qari’ (pelantun Al Quran), hafidz (penghafal Quran), ahli bacaan al qiraa’ah sab’ (bacaan Quran yang tujuh dialek) serta madih (pelantun pujian atas Nabi) yang punya tugas masing-masing di masjid ini.
Sultan juga memberi fasilitas pemeriksaan kesehatan untuk seluruh pegiat masjid dengan mendatangkan ahli kesehatan dan perobatan setiap harinya.
Pada malam Jumat, juga pada hari-hari tertentu termasuk hari raya, masjid ini menyiapkan sajian makanan istimewa untuk para pegiat masjid dan fakir miskin. Acara tahunan yang juga diadakan di masjid ini adalah pembagian pakaian, penutup kepala dan alas kaki secara cuma-cuma kepada mereka.
Suatu ketika di tahun kelima pembangunan, menara di bagian gerbang masjid runtuh dan menimbulkan ratusan korban yang kebanyakan anak-anak yatim yang belajar. Rencana pembangunan menara di gerbang pun tidak berlanjut. Banyak orang menganggap runtuhnya menara ini sebagai pertanda akan runtuhnya kekuasaan sang sultan.
Tak lama kemudian di tahun 1361 M/762 H, intrik politik menjadikan Sultan An Nasir Hasan terbunuh di usianya yang ke-27 oleh seorang mamluk bawahannya sendiri yaitu Yalbugha Al Umari.
Tampuk kekuasaan kemudian berpindah ke sang kemenakan yang bernama Al Mansur Muhammad. Sepeninggal sang sultan, penyempurnaan pembangunan masjid ini tetap dilanjutkan hingga tahun 1363 M/764 H.
Muhyidin Basroni, Lc., MA., peminat kajian sejarah, budaya dan seni dalam Islam, pernah belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, kini mengajar di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta.