Kisah

Pemabuk dan Larangan Menunda Amal Baik

01 Aug 2021 08:05 WIB
2373
.
Pemabuk dan Larangan Menunda Amal Baik

Dikisahkan dalam Ihya Ulumiddin:

Ada seorang fasik, pemabuk yang tak dikenal oleh tetangganya, meninggal dunia. Tak satu pun tetangganya mendekat untuk membantun mengurus jenazah pemabuk. Setiap tetangga merasa bahwa orang ini tak pantas menerima belas kasih. Kesehariannya hanya meresahkan tetangga. 

Melihat kondisi ini, sang istri lantas menyewa 2 pembawa keranda mayat. Setelah dimandikan sendiri oleh istrinya, jenazah kemudian dibawa ke masjid. Namun sayang, tak ada seorang pun yang mendekat untuk menyolati jenazah.

Dengan wajah tertunduk lesu, si istri meminta kedua lelaki sewaannya untuk mengangkat jenazah menuju pemakaman di bawah bukit. Sesampainya di sana, mereka dikagetkan oleh seorang yang terkenal zahid, seorang pertapa yang tak pernah turun dari bukit tersebut. Sang zahid meminta ijin untuk menyolatkan jenazah kemudian menguburkannya.

Setelah prosesi fardu kifayah selesai, istri lelaki yang wafat itu mendekat ke arah sang zahid. Wanita itu bertanya,Apa yang membuat tuan turun gunung?”

“Saya bermimpi” kata sang zahid, “seseorang memintaku turun untuk menyolatkan jenazah di bawah bukit.”

“Sebelum tuan turun, tak seorang pun mau menyolati jenazah suami saya karena dia lelaki fasik, pemabuk dan hanya mengganggu tetangga,” si wanita menimpali.

“Apa yang dilakukan suamimu hingga tak seorang pun mau menyolatinya?” kejar sang zahid.

“Kerjaannya hanya mabuk,” jawab wanita itu.

“Apa ada kebaikan yang kau lihat darinya?” lanjut sang zahid.

“Tak ada,wanita menjawab ketus.

“Pasti ada,” kata sang zahid, “coba diingat-ingat kembali.”

Setelah berpikir keras, si wanita akhirnya menemukan jawaban, “Setiap menjelang subuh, suamiku terlihat mandi, mengganti pakaiannya, kemudian pergi ke masjid untuk shalat berjaaah. Setelah itu, dia kembali mabuk lagi. Begitu kelakuannya setiap hari.”

“Kedua, keseharian suamiku adalah menyantuni satu atau dua anak yatim. Dia lebih perhatian pada mereka daripada anak sendiri. Ketiga, saat tersadar tengah malam dia selalu menangis: ‘Tuhan, apakah neraka Jahannam akan diisi oleh orang sepertiku?!’”

Sang zahid pergi menuju tempat munajatnya setelah menemukan jawaban peristiwa hari itu. 

Kisah ini menyimpan pesan kuat agar kita berbaik sangka pada setiap jenazah. Sebab kita tidak pernah tahu amal perbuatan yang mana yang akan diterima di sisi Allah Swt. Seorang yang sudah wafat tak selayaknya dibuka aibnya. Nabi menyarankan agar mengingat amal baiknya saja. Pendosa lebih berhak untuk dishalatkan dan didoakan dari orang shaleh supaya mendapat tempat yang layak di alam barzakh. 

Selain itu, seorang pendosa tak boleh menunggu bertobat untuk berbuat baik. Ada beberapa pelaku dosa yang enggan melakukan kebaikan dengan alasan “nanti kalau saya benar-benar bertobat”. Ucapan semacam ini adalah bisikan setan yang ingin menghalangi dirinya dari kebaikan. Sebab kata Nabi Saw,Dan iringin keburukan dengan kebaikan maka kebaikan akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmizi) Jangan pernah menunda kebaikan dengan alasan dan kodisi apapun.  


Abdul Munim Cholil
Abdul Munim Cholil / 44 Artikel

Kiai muda asal Madura. Mengkaji sejumlah karya Mbah Kholil Bangkalan. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Katib Mahad Aly Nurul Cholil Bangkalan dan dosen tasawuf STAI Al Fithrah Surabaya

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: