Artikel
Penjelasan Hadits Orang Mukmin Seperti Pohon Kurma
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa pada suatu majelis, Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada para sahabat tentang sebuah pohon. Pohon yang daunnya tidak berguguran, pohon tersebut merupakan perumpamaan seorang muslim.
“Pohon apakah itu?” Nabi bertanya.
Para sahabat yang hadir mencoba menerka pohon apa yang dimaksud oleh Rasulullah. Pikiran mereka jauh melayang membayangkan pohon-pohon yang ada di pedalaman. Rasanya tidak mungkin itu sekadar pohon biasa.
Sementara itu, Ibnu Umar yang masih belia, turut mencoba menerka. Terbesitlah dalam hatinya bahwa yang dimaksud oleh Nabi adalah pohon kurma. Namun ia malu mengutarakannya, lantaran di majelis tersebut turut hadir pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar, ayahnya.
Sampai akhirnya semua sahabat tetap hening karena tidak bisa menerka pohon apa yang dimaksud oleh Nabi.
Nabi pun kemudian menyampaikan bahwa pohon yang beliau maksud adalah pohon kurma. Beliau mengumpamakan seorang muslim seperti pohon kurma, karena banyaknya kebaikan dan manfaat yang dihasilkan oleh pohon kurma.
Pohon kurma terkenal menghasilkan banyak manfaat, baik dari buahnya, batang pohonnya, daunnya dan dahannya. Semuanya bermanfaat. Bahkan biji kurma saja dijadikan sebagai makanan hewan.
Perumpamaan ini memberikan pesan bahwa seorang muslim seharusnya bisa memberikan manfaat dari sisi manapun dari dirinya. Boleh jadi dengan tenaganya, harta, pikiran, ide, gagasan dan lain sebagainya.
Lalu juga ada pesan lain dan luar biasa yang dibawa oleh hadis tersebut.
Lanjutan kisahnya, setelah majelis selesai, Ibnu Umar menyampaikan kepada Umar, ayahnya, bahwa sebetulnya ia sudah menerka bahwa yang dimaksud oleh Nabi adalah pohon kurma. Namun ia malu mengutarakannya karena banyak sahabat yang lebih senior darinya.
Mendengar hal itu Umar sangat menyayangkan jawaban anaknya tersebut. Umar berkata, “Anakku, kamu utarakan apa yang terbesit dalam hatimu itu lebih aku senangi daripada harta termewah di dunia ini.”
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Bab: Malu dalam Ilmu dalam Shahih-nya.
Imam al-Bukhari ingin menyampaikan bahwa rasa malu yang menghambat menuntut ilmu bukanlah hal yang terpuji. Dari kisah di atas kita bisa menyaksikan betapa berharapnya Umar agar anaknya tidak malu-malu mengutarakan jawabannya. Karena jika ternyata jawabannya benar, dan memang jawabannya benar, sudah pasti Nabi akan semakin senang dengannya dan akan mendoakan kebaikan baginya. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya mendapat pengakuan dan doa dari Nabi?
Gigihnya seorang pelajar mencari keridhaan dan menyenangkan hati gurunya adalah hal yang terpuji. Caranya bisa jadi dengan aktif bertanya, aktif menjawab, melaksanakan tugas dengan baik, mengulang pelajaran dengan baik, dan menunjukkan kegigihannya itu kepada gurunya.
Khalilur Rahman, Lc. Dipl. Mengenyam pendidikan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dan Universitas Al-Azhar.