Artikel

Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tauhid Yanggo (Umi): Catatan Kecil Seorang Anak

27 Jul 2021 02:45 WIB
8581
.
Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tauhid Yanggo (Umi): Catatan Kecil Seorang Anak

Sebuah takdir terindah yang Allah berikan kepada aku adalah terlahir dari rahim seorang perempuan hebat nan luar biasa. Perempuan yang telah mencurahkan segala kasih sayang dan keteladanan yang begitu indah dalam perjalanan kehidupan yang aku lalui sampai saat ini.

Jika orang lain mengenalnya dari dunia kampus, seminar dan pemikiran keagamaan yang beliau gagas dan tuliskan, maka Allah mentakdirkanku untuk mengenal perempuan ini jauh daripada itu.

Aku tumbuh dan hidup dalam hangatnya dekapan dan kasih sayangnya yang menyejukkan. Perempuan yang tidak sekalipun aku pernah mendengar keluhannya dalam segala keterbatasan. Perempuan kuat yang tidak sedetik pun meninggalkanku saat gontai dan gagal. Perempuan yang selalu hadir menjadi semangat dan motivasiku dalam melangkah menjadi diriku saat ini.

Saat orang lain mengenalnya sebagai guru besar, dosen, ulama perempuan, dan sederet gelar lainnya, maka aku mengenalnya sebagai seorang ibu; ibu yang darahnya mengalir di dalam nadiku; kesabaran dan keteladanannyalah yang telah merawat dan membentukku; seorang perempuan yang dukungan dan semangatnya telah mengantarkanku untuk dapat menyelesaikan program S3 sebagai salah satu pencapaian akademikku di usia yang terbilang muda kala itu.

Jika banyak orang bercerita tentang prestasi akademiknya saat beliau menjadi wanita pertama yang menyelesaikan program doktoral di Universitas Al-Azhar, Kairo, maka semangat yang sama telah beliau wariskan kepadaku untuk terus maju meraih harapan dan mimpi besar itu. Beliau adalah ibuku: Umi Huzaemah.

Dalam pandanganku, umi adalah seorang ibu dan istri yang sangat baik. Segudang aktivitas di luar rumah yang umi miliki, tidak  pernah menjadikan umi melupakan perannya di dalam rumah, baik sebagai seorang istri terlebih sebagai ibu.

Tidak ada sehari pun terlewatkan di dalam rumah kami kecuali ada sebuah kitab yang umi baca dan muraja’ah. Itupun tidak menghalangi umi untuk selalu menyapa dan menanyakan semua aktivitas yang aku lakukan. Aku bersakasi bahwa segala khidmahnya untuk umat dan bangsa, tidak sedikit pun menafikan curahan perhatiannya untuk kami di rumah.

Bahkan, sejak pagi, sebelum beliau berangkat  mengajar dan beraktivitas, setidaknya beliau tidak pernah lupa untuk memasak makanan untuk kami semua. Kadang, aku sering bergumam dalam hati, “Begitu baiknya Allah kepadaku, sampai sarapan harianku saja dibuatkan oleh seorang ulama dan guru besar perempuan kebanggan Indonesia itu.”

Umi juga seorang istri yang sangat berbakti kepada suami, Abiku sendiri. Mereka berdua memang sama-sama guru besar dalam bidang yang berbeda, namun tidak sekalipun aku pernah menemukan umi membantah keputusan dan pendapat abi.

Aku bersaksi bahwa umi tidak pernah menunda saat abi memanggil dan membutuhkannya. Umi tidak pernah sekalipun keluar rumah kecuali tanpa izinnya. Bahkan di akhir hayat umi, saat kami ingin membawa beliau ke rumah sakit, ridha dan izin abilah yang umi minta untuk terakhir kalinya.

Umi adalah guru besar perempuan yang takzim dan penghormatannya kepada suami selalu menjadi prioritas utama. Pun kepada dua cucunya. Dalam  kesibukannya, umi selalu menyempatkan diri untuk bermain dan mendidik cucu-cucunya.

Seingatku,  Umi  Huzaemah adalah orang yang tidak pernah berburuk sangka terhadap orang lain. Saat aku pernah hendak marah pada seseorang, umi selalu mengingatkan agar berhusnuzan kepada orang lain. “Mungkin kamu salah dengar, mungkin kamu salah paham,” begitu nasehat umi yang selalu aku kenang.

Umi adalah orang yang sangat menghargai waktu dan kedisiplinan. Dalam aktivitasnya, baik mengajar maupun menghadiri sebuah rapat kelembagaan, umi selalu berusaha untuk  datang tepat waktu, bahkan menjadi orang pertama yang hadir. Di dalam kamar mandi beliau, umi meletakkan jam dinding sebagai pengingatnya akan waktu, agar umi tidak datang terlambat dalam acara apapun.

Dedikasi  umi pada ilmu pengetahun sungguh luar biasa.  Saat kondisi sakit sekalipun, umi tetap menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, termasuk mengoreksi desertasi, tesis, dan skripsi para mahasiswanya hingga larut malam.

Tak jarang, saat aku hendak  tidur di malam hari, aku melihat umi masih membaca, menulis atau mengoreksi, dan saat aku terbangun, kulihat umi sedang sujud atau muraja’ah al-Qur’an sebagai wirid harian yang memang beliau istiqomahkan.

Dalam urusan sosial, umi adalah orang yang selalu berusaha hadir dalam berbagai momen yang beliau diundang di dalamnya, mulai dari pengajian majelis taklim, pernikahan, khitanan, takziah, dan sebagainya, selama beliau memiliki kelenggangan waktu dari jadwal akademik dan kelembagaan beliau.  

Aku pernah mengantarkannya untuk hadir ke sebuah pernikahan muridnya jauh di pelosok kota Serang beberapa tahun yang lalu. Meskipun harus menempuh perjalanan berjam-jam, umi selalu menikmati setiap perjalanan yang beliau lalui kala itu.

Sejak kecil, rumahku selalu ramai. Dalam rumah sederhana kami, umi selalu mengajak para kerabat dekat dan jauh beliau untuk tinggal bersama kami, termasuk sahabat-sahabatku yang sudah umi anggap sebagai anaknya sendiri. Umi tidak pernah membedakan siapapun. Beliau selalu peduli terhadap suksesnya pendidikan semua orang yang berada dalam rumah kami. Pun, sampai hari ini.

Seingatku sudah banyak generasi asuhan umi yang telah sukses menyelesaikan pendidikan tingginya.  Tentu, setelah kepergiannya, aku dan semua orang yang pernah tinggal di rumahku sangat merindukan ‘daging goreng’ special khas Sulawesi yang umi masak untuk kami semua dengan tangannya.

Tidak ada sedikit pun kenangan buruk tentangnya, sebab hidupnya selalu penuh dengan kebaikan. Semua nasehat berharganya  akan selalu aku ngat sebagai bekal menjalani kehidupan dan tentu akan aku wariskan kepada anak-anakku kelak.

Ada satu nasehat umi yang sangat membekas bagiku mengenai konsep keikhlasan. Beliau yang tidak pernah kenal lelah ini pernah berucap, “Orang yang mudah lelah/capek berarti dia kurang ikhlas, karena kalau seseorang ikhlas, maka ia tidak akan merasakan hal tersebut.”

Allah mentakdirkanku untuk dapat berkhidmat kepada umi sampai pada detik-detik terakhirnya. Meski dalam kondisi yang sangat terbatas, aku berkesempatan untuk memandikan jenazahnya sampai mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya.   Sebuah hal yang menjadi khidmat terakhirku kepadanya

Selamat jalan Umi, Ibunda kami, terima kasih untuk setiap perhatian, kasih dan cintamu. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan kami. Semoga kami bisa meneruskan perjuanganmu, mendidik dengan penuh keikhlasan. Dan semoga kelak kita bisa bertemu di surga Allah. Amin.

Dr. Syarif Hidayatullah, S.S.I., MA.
Dr. Syarif Hidayatullah, S.S.I., MA. / 3 Artikel

Dosen Program Pasca Sarjana Hukum Ekonomi Syariah (HES) Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Firna Nahwa Firdaus
27 July 2021
Maa Syaa Allah Umii 😢 اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها وأكرم نزلها ووسع مدخلها واغسلها بالماء والثلج والبرد ونقها من الخطايا والذنوب كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس وأسكنها فسيح جناتك يارب العالمين الفاتحة
Tati Khafidotur Rofingah
27 July 2021
Masya Allah... Begitu juga kami, ketika didepan kampus bersapa dengan Ibu... Ibu sangat ramah dan wajahnya selalu berbahagia. Sehingga senantiasa memancarkan semangat yang luar biasa. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha Aameen 🤲 Alumni IIQ 2016, tetiba terlintas waktu mata kuliah Bapak, mengenai masalah makanan Tutut hihihi... Terimakasih banyak juga ya Pak... Semoga selalu sehat sekeluarga... Salam ta'dzim buat Bapak Wahab.
Indah Khoiril Bariyyah
27 July 2021
Masya Allah Tabarakallah 😭 dari tulisan ini dan dari kisah hidup ummi, kami belajar bagaimana menjadi perempuan yg sukses dunia akhirat, sukses dalam bidang agama dan hebat dalam urusan rumahtangga. Kedisiplinan umi, akhlak ummi sangat wajib kita contoh. Smoga senantiasa kami menjadi murid murid ummi yg mampu mengaplikasikan ilmu yg sudah ummi ajarkan kepada kami. Husnul khatimah insya Allah umii..
27 July 2021
Selalu keinget ketemu ibu di pasar kaget setiap hari minggu di UIN 2, dlm hati selalu ngmong ya Allah orang sekelas ibu aja mau ketempat yang menurut saya tidak layak untuk ibu😢, ibu memang rendah hati walaupun beliau org terpandang, seorang ulama🥺🥺 ya Allah tempat guru kami ini di tempat yang mulia ya Allah, tempatkan beliau bersama para kekasihmu ya Allah😭 🤲🏻اللّهمّ اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها Aamiin Semoga bapak, pak wahab, dan keluarga selalu dalam lindungan Allah Aamiin🤲🏻
Sharif
27 July 2021
Subhanallah... Walau tak lama mengenal Ummi, banyak keteladanan yg saya pelajari. Hal baik yg ummi legacy kan nampak dri pribadi Dr. Syarif, yg senantiasa menjaga akhlaknya terhadap para gurunya.. Selamat menikmati jamuan indah Allah duhai Ummi, insyAllah ilmu yg manfaat akan senatiasa mengalir pahalanya untukmu...
Hilda Lisdianti
27 July 2021
MasyaAllah Ummi.. 🥺 Meski aku hanya beberapa saat saja bertemu dengan Ummi, tapi aku sangat merasakan bahwa sosok Ummi sebagai seorang wanita, guru besar, ulama, itu sangat baik, rendah hati dan sangat terbuka saat aku sowan ke rumah beliau. Kisah hidup Ummi yang Prof Syarif sampaikan menjadi inspirasi aku sebagai wanita yang bekerja juga sebagai seorang istri. Alfaatihah ilaa Ummi Huzaemah...
Dhery
27 July 2021
اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها وأكرم نزلها ووسع مدخلها واغسلها بالماء والثلج والبرد ونقها من الخطايا والذنوب كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس وأسكنها فسيح جناتك يارب العالمين الفاتحة
Cepi Mohammad saebatul hamdi
27 July 2021
Assalamualaikum, alhamdulillah terharu membacanya, Terimakasih sudah ditulis...Semoga ada Novel tentang Umy,,Supaya bisa lebih menginspirasi...اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها
Nurul R.
28 July 2021
Allahumagfirlaha warhamha wa aafiha wa'fuanha.. selamat jalan guruku tercinta.. selaku wanita, cukup banyak hal kami teladani dari beliau.. semoga ilmu yang beliau ajarkan menjadi amal jariah dan menjadi syafaat di hari akhir..
Rovina Rina
28 July 2021
Semua yang Dr. Syarif kisahkan, itulah yang saya saksikan meskipun di waktu yang singkat, saat kuliah di STAI Darunnajah hampir 30 th yll. Beliau sosok wanita yang bukan hanya piawai dalam keilmuannya. Tapi beliau juga cekatan dalam mengatur waktu dan kesempatannya semua dengan seksama. Saat mengajar beberapa kali Dr. Syarif kecil sering ikut di dampingi yang mengasuh, sehingga umi Dr.Syarif bisa tetap memantau langsung aktifitas putranya. Terbayang , umi antum sosok istri & ibu yang penuh perhatian untuk semua urusan yang menjadi tanggungjawabnya. Dengan sekian banyak tugas & tanggungjawab sampai akhir hayat umi Dr. Syarif tetap beliau laksanakan. Saya bahagia ...sampai akhir hayat almarhumah masih bisa mengikuti aktifitas & beberapa buku umi antum dibawakan suami saya (yang juga dosen di FSH UIN). Dan diantara kenangan yang tak terlupakan saat menyelesaikan S¹ (di masa kehamilan ke-2), dosen penguji skripsinya umi antum...Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo , MA اللهم اغفرلها وارحمها
Ritha Zahra
28 July 2021
اِنَّالِلَه وَاِنَّااِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ .. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها وَأَكْرِمْ نُزُوْلَها وَوَسِّعْ مُدْخَلَها وَاغْسلها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّها مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ. *Al-Fatihah* أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. ِبِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ۞ اَلْحَمدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ۞ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ۞ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ۞ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ۞ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ۞ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ۞ أَمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِين. 🤲🏻🤲🏻🤲🏻
Usman Ba'abud
28 July 2021
Ya Allah Kumpulkan kami bersama guru kami umi kami yg kami cintai....tanpamu kami TDK seperti ini...Barakallah Wa Gafarallah...selamat jalan syaikha wa muallimah ....
Usman Ba'abud
28 July 2021
Teringat masa masa qiraah kitab bidayatul Mujtahid...Demi Allah Beliau guru kami yang sangat berjasa terhadap kami....selamat jalan ya syaikhatuna....ya muallimatuna....engkau sudah bersama Guru Alhabib Idrus bin Salim Aljufri...
Zaenab Djuhaepa
28 July 2021
Masya Allah,dengan tulisan ini semoga Allah memberikan kami kekuatan dan motivasi untuk mengikuti jejak beliau aamiin
Muzakkirah Thahir
28 July 2021
Yaa Rabb...... Alfaatihah buat beliau....🤲🤲🤲😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 Salam Ta'dzim dan Rindu saya buat Ustadz Wahab. Jasa Ustadz, Ustadzah sekeluarga menjadi kenangan terindah sy...
Lilis
28 July 2021
Allah... Nangis saya baca tulisan ini. Bagaimana pak Doktor menggambarkan peran Prof. Huzaemah sebagai ibu itu sangat ngena di hati. Tulisan ini juga menyentil saya sebagai anak yang masih memiliki orangtua yang lengkap untuk berkhidmah dengan sebaik baiknya. Terimakasih atas tulisan indah ini pak
Ircham Surahman
28 July 2021
MasyaAllah..betapa bahagianya memiliki Ibu yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang tidak hanya untuk keluarga namun untuk bangsa dan negara..saya pribadi belum lama mengenal Umi, namun Allah taala mengenalkan putra Umi ..yang sering kami panggil dengan Prof Syarif, dan Umi telah mewariskan ilmu dan keteladanan yg terbaik kepada Prof Syarif yang selalu ramah dan baik hati serta jalan ilmu yang dengan kebaikannya memberikan buku-buku serta kitab² untuk saya belajar, khususnya kitab Ta'lim Muta'allim yang mengajarkan Adab terhadap ilmu dan Guru..terima kasih Umi telah melahirkan generasi-generasi penerus ilmu ...Salam takdzim kami...dan terima kasih Prof Syarif atas tulisan terindahnya .. teruntuk Umi Prof Dr.Hj.Huzaemah Tauhid Tanggo binti Tauhid Yanggo.. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha.. Al Faatihah...Aamiin Yaa Arhamarrahimiin 🤲🤲
Mazidah Yanggo
28 July 2021
Saya pernah tinggal bersama penulis dan ibunya selama 6 tahun di rumah mereka, saya bersaksi bahwa beliau adalah seorang ibu yang berhati lembut...di balik ketegasan beliau, beliau menyimpan cinta yang tak terbendung untuk penulis, anak semata wayangnya... Umi (panggilan akrab beliau) tidak pernah mengumpat, memaki apalagi mengutuki anaknya, kenakalan anaknya tidak pernah menjadi beban baginya. Jika penulis bikin ulah layaknya anak kecil pada umumnya, Umi hanya berseru : Ayaaat...Ayaaat...Ayaat...panggilan akrab Umi untuk penulis. Bahkan ada peristiwa heboh pun (maklum penulis tergolong anak yang aktif dan tidak bisa diam, bergerak terus) Umi hanya bergumam, Maa Syaa Allah...atau Laailaaha illallaah... Sehingga melihat pencapaian penulis sampai saat ini, saya mengambil hikmah bahwa kesuksesan anak terletak pada lisan (lidah) ibunya.
MOH RIZAL TAJAULI
28 July 2021
Walaupun Beliau ALMARHUMAH tidak pernah mengajar saya secara langsung tapi RUH TARBIYYAH masuk ke dalam hati paling dalam. Inilah salah satu bukti bahwa Habib Idrus benar2 berhasil membentuk manusia yang berguna bagi Agama, Bangsa dan Negaral.
Umi Musyarrofah
29 July 2021
Allahummaghfirlah Prof... semoga Allah mengampuni kesalahan.. melapangkan kuburnya dan mendapatkan Syurga dan mengumpulkan kami yang pernah belajar dalam kelas bersama di Syurga kelak juga....
ELISA MIRANDA PUTRI
14 July 2024
Kalimat “Orang yang mudah lelah/capek berarti dia kurang ikhlas, karena kalau seseorang ikhlas, maka ia tidak akan merasakan hal tersebut.” adalah kalimat yang sering Dr. Syarif Hidayatullah nasihatkan kepada kami (Mahasiswi IIQ Jakarta) terutama saya pribadi yang tidak akan pernah lupa dengan semua nasihat beliau🥺

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: