Artikel
Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo: Teladan Keilmuan Wanita
"Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya." (HR. Muslim)
Hampir semua wanita pasti memiliki pandangan yang sama saat ditanya tentang sosok Prof. Huzaemah Tahido Yanggo. Mereka akan mengagumi sosok ini sebagai ulama perempuan hebat yang memiliki peran luar biasa.
Saya pun mengagumi sosok Ibu Huzaemah sebagai prototipe wanita paling ideal di Indonesia. Perjalanan intelektual dan akademik sosok ini memang belum ada tandingannya sampai saat ini; guru besar, ulama internasional dan yang paling penting sosok ini adalah seorang ibu dan istri.
Pertemuan istimewa kami diawali dari program kader wanita ulama di kelas beasiswa internasional Pascasarjana Institute Ilmu Al-Qur'an, Jakarta. Saya memang menyelesaikan S1 juga di Institusi yang sama, tapi selama 3-4 tahun, Ibu Huzaemah belum pernah mengajar saya secara langsung.
Bersama tiga belas wanita penghapal al-Qur'an lainnya, saya mengambil program S2 Ilmu Qiraat dan menjadi satu-satunya program magister di IIQ yang menggunakan bahasa pengantar Arab dan semua muridnya wanita. Tentu, kehadiran Ibu Huzaemah di kelas telah menjadi 'The Real Figure' bagaimana sosok seorang ulama wanita itu hidup di tengah umat.
Tidak ada kesan takut saat pertama kali bertemu dengan beliau. Namun aura keulamaan yang beliau miliki memang menjadikan kita lebih banyak sungkan dan segan ketika berhadapan dengan beliau. Selayaknya santriwati saat bertemu dengan kiainya, maka saya lebih sering grogi sambil memendam kekaguman itu kepada beliau.
Pernah suatu momen presentasi, saya datang terlambat dengan makalah yang harusnya saya presentasikan. Saat itu saya sedang hamil anak kedua dan kondisi suami yang memang belum bisa mengantarkan ke kampus tepat waktu. Saya kira ibu akan marah. Ternyata beliau memaklumi keterlambatan saya dan mempersilahkan saya presentasi.
Saya sering mendengar kisah ketegasan beliau di kelas lain, namun saat bersama kami, beliau sangat amat berusaha untuk memaklumi.
Mungkin di kelas kami, ibu seperti merasakan kilas balik masa perjuangan pendidikannya di al-Azhar dahulu. Beliau seperti melihat dirinya saat mengajar kami dan merasa iba kalau harus lebih tegas kepada kami.
Maklum, di kelas kami mayoritas adalah seorang istri dan ibu yang saat itu juga dituntut dengan tugas-tugas makalah dan presentasi berbahasa arab, juga hafalan 30 juz yang harus kami pertanggungjawabkan. Meskipun tentu pada umur yang sama, tekanan, hambatan serta kualitas keilmuan ibu sudah pasti jauh lebih besar dan mapan ketimbang kami saat itu, namun ibu tetap memaklumi.
Saat ibu mengampu mata kuliah Tafsir Ayat Ahkam, beliau selalu mengarahkan kami untuk dapat melengkapi referensi makalah dengan sumber-sumber ter-update dari Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, dan bukan hanya dari turats-turats klasik.
Beliau selalu menekankan pentingnya integrasi hukum syara' dengan hukum positif sebuah wilayah, sebab terkadang fikih klasik belum mengakomodir ketentuan-ketentuan hukum dari masalah-masalah keumatan di sebuah wilayah. Hal ini tentu menunjukkan kearifan beliau dalam memahami keluhuran syariat dan pentingnya pembumian nilai-nilai tersebut di tempat kita hidup dan tinggal, sehingga mampu menciptakan maslahat yang lebih substansial.
Pernah suatu ketika, ibu juga menjelaskan hukum perceraian. Jatuhnya talak menurutnya harus terjadi di depan hakim dengan semua perangkat-perangkat peradilan yang ada. Jadi menurutnya, ucapan talak di luar pengadilan tidak dihitung sebagai talak, sebab itulah fungsi kenapa kita tidak memisahkan antara agama dan negara.
Jika kita memakai istilah ekofeminisme untuk menggambarkan kodrat keperempuanan paling ideal, maka menurut saya, ibu adalah sosok ekofeminisme sejati. Seorang pejuang perempuan yang telah membuat makna emansipasi itu hidup dan teraktualisasikan di dalam dirinya tanpa perlu teori dan kata-kata. Seorang perempuan yang berada pada puncak keilmuan dan keidealan seorang wanita di abad ini; seorang guru besar, faqihah, ulama, hafidzah, sufiyah, muftiyah yang juga sukses berperan menjadi seorang istri dan ibu. Mau apalagi?
Jika di balik laki-laki hebat ada seorang perempuan yang senantiaaa mendukung dan memotivasi, saya meyakini bahwa dibalik perempuan menakjubkan ini juga ada seorang suami dan anak yang juga menakjubkan. Seorang suami yang ikhlas mewakafkan istri tercintanya untuk umat dan bangsa. Seorang suami yang ridha dan selalu berdoa untuk perjuangan sang istri di manapun dia berada. Seorang suami yang lapang dada mendukung capaian istri dalam segala kondisi yang dialaminya.
Saya meyakini, capaian akademik dan spiritual yang ibu dapatkan saat ini, tentu juga dikuatkan dengan ridha suami dan anak yang senantiasa menyertai. Sebab sehebat apapun wanita, ia tetaplah istri yang surganya tetap berada dalam ridha suami.
Sehebat apapun wanita di luar sana, ia tentu selalu membutuhkan rumah tempat dia kembali dan menata hati. Ada rumah tempat ia berkeluh kesah dan menyandarkan kepedihan sebelum ia kembali terlihat kuat di depan umat. Sebuah tanggung jawab untuk membuat rumah tetap stabil dengan iklim yang menenangkan tersebut, tentu tidak mungkin tercipta dari sebuah keluarga dengan mental spiritual biasa.
Dari rumahlah hal-hal menakjubkan itu bermula. Suami yang ikhlas dan ridha, anak soleh yang mendoakan serta niat untuk mengabdi pada Allah Swt.
Terima kasih, Ibu!
Bersamamu kami meneladani,
Darimu kami mengerti,
Untukmu doa doa kami,
Semoga Allah jadikan segala jasamu sebagai jariyahmu.
Selamat jalan dan kembali.