Artikel

Sanad Keilmuan dan Warisan Para Nabi

10 Apr 2021 11:40 WIB
2369
.
Sanad Keilmuan dan Warisan Para Nabi

Dulu saya sering diajak oleh Syeikh Mula Yusuf Kurdi mengunjungi Syeikh Said Ramadhan al-Buthi. Biasanya untuk urusan bisnis, lalu dilanjutkan dengan diskusi. Bahkan kadang dua ulama Kurdi bermazhab Syafi’i ini sampai berdebat.

Biasanya saya terpesona melihat dua lautan ilmu beradu, seolah tenggelam ke dalam arus laut itu, padahal saya tidak mengerti sepenuhnya.

Suatu kali Syeikh Ramadhan al-Buthi bertanya kepadaku, “Fauzan, kamu baca apa sama Mula Yusuf?”

Saya katakan, “Fikih Syafi’i, ushul fikih, dan syamail muhammadiyah.”

Beliau berkata, "Teruslah baca seperti itu, karena begitulah ilmu didapat. setiap huruf dari kitab harus didengarkan penjelasannya dari guru agar memahaminya dengan benar. Kami dulu seperti itu belajar kepada guru kami, dan guru kami juga belajar kepada gurunya seperti itu, begitu sampai kepada pengarang kitab. Para pengarang kitab ini mewarisi ilmunya dari gurunya dengan cara yang sama sampai kepada Rasulullah.”

Malaikat Jibril turun membawa risalah dari Tuhan, lalu Nabi Muhammad SAW belajar kepada Jibril setiap detail risalah tuhan, duduk di hadapannya sampai kedua lututnya beradu dengan lututnya jibril.

Kemudian para sahabat belajar kepada Nabi Muhammad dengan cara yang sama, siang malam mereka habiskan dengan Nabi, makan bareng, bercanda bareng, jalan-jalan bareng, belajar bareng bahkan perang bareng. Apa yang dipikirkan Nabi dalam memahami risalah tuhan benar-benar dipahami para sahabat dengan cara yang benar. Sampai beliau mengatakan orang yang paling paham halal dan haram adalah Muadz, Ali adalah pintu kota ilmu, orang yang paling paham tentang faraid (ilmu waris) adalah Zaid, orang yang sering dapat ilham dari umat beliau adalah Umar, dll.

Intinya mereka adalah rekomendasi Nabi sendiri, sebagai bukti bahwa ilmu mereka valid seperti yang diinginkan beliau.

Para sahabat junior seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Hasan bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr bin Ash belajar kepada senior mereka seperti Ali, Umar, Utsman, Abdullah bin Mas'ud, Ubay, Zaid, dll. Mereka menghabiskan masa muda mereka untuk barengan dengan murid senior Rasulullah. Sampai kadang untuk bertanya beberapa masalah ilmu, mereka tertidur di depan pintu rumah gurunya di siang hari iklim gurun, ketika menunggu gurunya keluar rumah.

Suhbah seperti itu membuat mereka paham betul bagaimana pemahaman Rasul tentng risalah Tuhan dan apa yang diajarkan beliau kepada sahabat senior. Sampai akhirnya mereka dapat pengakuan dari sahabat senior atas keilmuan dan benarnya pemahaman mereka tentang risalah Islam, sehingga mereka direkomendasi pada umat untuk melanjutkan risalah kerasulan. Ilmu itulah yang kemudian diturunkan kepada generasi selanjutnya.

Untuk memahami bagaimana memahami risalah ilahi dengan benar, sesuai dengan yang dipahami Nabi, dan para sahabat, para tabi’in yang notabenenya adalah murid para sahabat melakukan hal sama. Tabiin Makkah belajar kepada Sayidina Abdullah bin Abbas, tabiin Madinah belajar kepada Abdullah bin Umar, tabiin Syam belajar kepada Abu Darda, tabiin Irak belajar kepada Anas bin Malik.

Para tabi’in mengahabiskan waktu bersama para sahabat. Tak jarang di antara mereka dianggap sebagai maula (tangan kanan atau pelayan) guru-guru mereka. Kebersamaan ini membuat mereka memahami bagaimana pemahaman yang benar terhadap syariah seperti yang diinginkan Nabi Muhammad karena mereka mengambil pemahaman itu dari orang yang memahaminya, yaitu murid rasulullah. Sampai akhirmya mereka mendapatkan rekomendasi sahabat untuk mewariskan keilmuan dan pemahaman yang sudah benar tentang agama ini yang mereka dapat dari membersamai para sahabat.

Tradisi ini kemudian terus diturunkan, sehingga muncul mazhab-mazhab besar yang namanya dinisbatkan kepada madrasah para pemilik sanad. Yang bertahan sampai sekarang adalah 4 mazhab fikih besar yang sanadnya jelas. Adapun mazhab Zahiri, rantai sanadnya terputus sehingga hanya ada buku dan tidak ada yang mewarisi perihal bagaimana memahaminya. Sementara mazhab lainnya malah sama sekali tidak ada buku yang membahas, dari bab taharah sampai bab perbudakan, sehingga mazhabnya punah. Belum lagi bagaimana memahami fatwa yang tidak diwariskan.

Pemahaman tentang islam yang diwariskan, inilah yang dinamai sanad keilmuan. Seperti inilah pemahaman ilmu Islam diwariskan. Begitu juga cara mereka mengambil ilmu dari para pendahulunya. Kebersamaan dalam waktu yang panjang (suhbah) bersama guru, belajar dari mulut ke mulut yang bersambung kepada Rasulullah, canda bareng, makan bareng, diskusi bareng, sampai seorang murid dianggap keluarga sendiri dari sang guru. Begitulah cara mendapatkan warisan ilmu dari ulama. Nah jika ada pendapat yang kontroversi dan aneh-aneh dan menyalahi 4 mazhab yang pokok, patut kita tanyakan darimana sanad keilmuannya?

Jangan heran jika banyak pendapat yang aneh-aneh, dan memahami agama dengan cara yang mengerikan. Kebanyakan karena budaya mendapatkan warisan sanad keilmuan mulai ditinggalkan. Padahal sanad keilmuan inilah yang membuat ulama dijuluki pewaris para nabi, karena mereka adalah yang paling memahami bagaimana Nabi memahami risalah ilahi, warisan keilmuan ribuan tahun terus didiwariskan kepada generasi selanjutnya.

Apakah itu semua cukup? Tidak! Di sana ada hal lain yang harus diperhatikan, kita harus mengambil ilmu dari orang yang tidak berbohong  atau yang disebut dengan adil. Pintar, punya sanad, adil, apakah cukup? Tidak!! Disyaratkan juga tidak beda sendiri. Ini yang dinamakan tidak syaz. Seperti inilah kemurnian agama dijaga.


Fauzan Inzaghi
Fauzan Inzaghi / 3 Artikel

Asal Banda Aceh, Indonesia. Sekarang melanjutkan studi di Universitas Syeikh Ahmad Kuftaro, Damaskus Suriah.


Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: