Artikel

Syekh Yusri: Cara Mendidik Anak Mencintai Nabi Muhammad

19 Aug 2021 03:29 WIB
2884
.
Syekh Yusri: Cara Mendidik Anak Mencintai Nabi Muhammad

Berikut adalah kelanjutan dari pengajian Maulana Syekh Yusri Rusydi Gabr al-Hasani hafizhahullah tentang hak anak dalam pendidikan. Sebelumnya, beliau mengatakan bahwa perangai anak adalah hasil didikan kedua orang tua.

Hal kedua terkait hak anak dalam pendidikan, menurut mursyid Thariqah Shiddiqiyah Syadziliyah Mesir, adalah bagaimana orang tua mendidik putra-putrinya agar terhubung dengan Sayyiduna Nabi Muhamad saw.

“Kamu mesti membuatnya hidup dengan perasaan penuh cinta yang mendalam kepada Baginda Nabi,” ujar beliau.

Cara menumbuhkan kecintaan anak kepada Nabi Muhammad antara lain:

Pertama: Orang tua harus sering bercerita tentang Nabi Muhammad saw.

Kedua: Anak-anak harus sering melihat orang tuanya membaca shalawat.

Ketiga: Orang tua mengajak anak membaca buku sirah Rasulullah setiap sehari atau dua hari misalnya.

Keempat: Orang tua membuat anak memiliki hubungan dengan para sahabat dan orang-orang shaleh.

Kelima: Orang tua membawa anak berziarah ke makam para waliyullah (kekasih Allah), baik yang masih hidup atau sudah meninggal. “Boleh jadi, anak-anak kalian mendapat belaian dan doa dari para wali yang shaleh, sehingga berguna bagi mereka seumur hidup,” terang beliau.

Keenam: Didik mereka agar menghafal al-Quran.

Ketujuh: Orang tua rajin melaksanakan shalat sehingga anak-anak akan mengikuti ibadah ayah-ibunya.

Kedelapan: Orang tua jangan merokok. “Jangan sampai kamu merokok, lalu melarang anak-anakmu agar jangan merokok, karena kamu yang pertama membawanya ke rumah,” jelas beliau.

Kesembilan: Orang tua memberi anak-anaknya makanan halal.

Syekh Yusri melanjutkan bahwa terkadang anak-anak membuat emosi dalam berbagai fase hidup mereka. “Maka jangan berinteraksi dengan mereka saat kamu marah,” pesan beliau, “Lawan dirimu baik-baik karena orang yang kuat adalah orang yang bisa melawan nafsu.”

Beliau melarang orang tua memukul anaknya saat dia marah. Boleh jadi pukulan itu membuatnya cedera. Beliau bercerita pernah mengenal seseorang yang memukul anaknya saat marah hingga tulang pahanya patah.

“Bersabarlah sedikit dan jangan putus asa dengan anak-anakmu meskipun mereka melawanmu,” nasihat beliau. “Doakan mereka sebanyak mungkin. Doa itu dapat mengubah hati dan doa ayah-ibu itu mustajab.”

Syekh Yusri mencontohkan bagaimana Sayyiduna Nabi Muhammad saw. mendidik dengan pandangan, kata-kata yang indah, belaian tangan, pelukan, dan ciuman. Demikian yang beliau lakukan terhadap cucunya.

“Pelukan dan belaianmu kepada anak-anakmu bagaikan suntikan yang sangat berguna untuk mereka dalam menghadapi berbagai musibah yang akan mereka temui,” kata dokter bedah yang alim itu.

Sementara orang tua yang enggan memeluk anak-anaknya, bahkan tidak mau meletakkan di pangkuan, akan membuat mereka tidak punya rasa cinta, bahkan kepada orang tua mereka sendiri. Lambat laun, mereka juga tidak mempunyai rasa cinta kepada negara, karena rasa cinta negara tumbuh di hati anak lewat ibunya. Anak yang sangat mencintai ibunya, akan mencintai negaranya.

Lalu apakah ayah yang memberlakukan anaknya dengan keras akan mendapat dosa?

Tentu saja, siapapun yang melakukan kekerasan akan mendapat dosa. Sebagaimana dia melakukan kekerasan, maka Allah swt. akan melakukan yang sama untuknya. "Berbuat baiklah sebagaimana Allah swt. berbuat baik padamu,” pesan beliau mengutip ayat al-Quran.

Beliau berkisah, seorang ibu datang dengan anaknya yang masih kelas 2 SD di majelis pengajian. Saat itu beliau menjelaskan hadits riwayat Abu Daud, “Allah swt. menyiksa orang yang menyiksa manusia."

Sebulan kemudian, sang ibu menyuruh anak menghafalkan pelajaran materika. Bila si anak salah, langsung dipukul olehnya.

Anaknya pun berkata, “Bukannya Ibu mendengar Syekh Yusri mengatakan bahwa Allah menyiksa orang yang menyiksa manusia? Kenapa Ibu menyiksaku padahal aku juga manusia?”

Syekh Yusri melanjutkan, “Saat kamu membawa anakmu ke masjid, ia juga mendengar dan belajar, kadang mengingatkanmu. Mmeskipun bermain, mereka mendengar.”

Sayyiduna Nabi Muhammad saw. menyukai keberadaan anak-anak di masjid, bergerak dan bermain, selama mereka tidak membuat najis di sana. Ketika anak sudah tidak buang air sembarangan, biarkan mereka di masjid, melihat kaum muslim shalat dan mendengar pengajian.

Syekh Yusri lalu bercerita bahwa putrinya yang bernama Aya pernah bermain-main di kamar mandi Masjid Qaitbay. Saat itu dia belum masuk sekolah, da beliau menjelaskan tata cara shalat.

Kemudian beliau melihat dia shalat tanpa menutup kaki.  Beliau bertanya, "Aya, kenapa kamu tidak pakai kaos kaki seperti ibumu? Kamu perempuan atau laki-laki? Aku tidak memakai kaos kaki saat shalat karena aku laki-laki, tapi perempuan harus menutup kakinya karena kakinya aurat.”

Aya menjawab, “Aku shalat dengan mazhab yang lain.”

Putri Syekh Yusri menjawab seperti itu karena beliau mengatakan pada hadirin bahwa mazhab Hanafi membolehkan perempuan shalat tanpa kaos kaki.

“Ternyata dia menangkap kata itu sehingga tidak menggunakan kaos kaki saat shalat. Artinya, anak-anak menangkap pelajaran sambil bermain. Jangan kamu remehkan!” beliau mengingatkan.

Faedah dars Jumat, 29 Januari 2021M bersama Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

Hilma Rosyida Ahmad
Hilma Rosyida Ahmad / 42 Artikel

Bernama lengkap Ustadzah Dr. Hilma Rasyida Ahmad. Menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Beliau juga salah satu murid Syekh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani asy-Syadzili.

Nusaibah Umairah Idrohom
06 February 2024
Semoga Ustazah sentiasa dlm redha Allah. Rindu mau pergi talaqi tgok kakk bawa Anak2 dlm tremco dan tuk tuk..semoga kakk dan kluarga sentiasa dlm lindungan Allah

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: