Artikel

Syekh Yusri Jelaskan Praktik Thibbun Nabawi di Zaman Sekarang

30 Aug 2021 12:46 WIB
2689
.
Syekh Yusri Jelaskan Praktik Thibbun Nabawi di Zaman Sekarang

Syeikh Yusri Jabr al-Hasani as-Syafii adalah seorang yang jika sedang berbicara tentang Rasulullah Saw seakan adalah orang yang hidup sezaman dengannya.

Namun Syeikh Yusri juga mengatakan, Di zaman ini tidak mungkin kita menerapkan kehidupan persis dengan kehidupan Nabi Saw, karena zaman sudah berubah, kehidupan kita sangat amat berbeda dengan kehidupan Nabi Saw. Tapi yang benar dan mungkin adalah menerapkan kehidupan dengan metode kenabian.”

Itulah sepenggal jawaban Syeikh Yusri atas suatu pertanyaan di hari Jumat kemarin. Dari jawaban itu saya jadi memahami mengapa Syeikh Yusri berpendapat bahwa Thibbun Nabawi adalah gaya hidup seperti Nabi. Bangun pagi hari, tidak tidur larut malam, rajin berpuasa, dan seterusnya.

Thibbun Nabawi menurut beliau adalah gaya makan seperti Nabi, makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang, makan perlahan, menjauhi makanan yang diharamkan karena makanan yang diharamkan itu juga berbahaya bagi kesehatan.

Thibbun Nabawi bukan seperti yang diklaim banyak orang bahwa ia hanyalah tentang berbekam, minum madu, herbal dan lain-lain.

Syeikh Yusri mengatakan bahwa bekam itu adalah untuk pengobatan bukan pencegahan. Jadi tidak sedikit-sedikit bekam. Tidak ada penyakit bekam dengan dalih hanya ialah pengobatan yang sesuai sunah.

Beliau bahkan mengatakan bahwa dalam beberapa kondisi, berobat dengan pengobatan resep dokter lebih baik dalam mengobati suatu penyakit daripada obat-obat herbal, karena jelas obat-obat kimiawi tersebut telah melewati sejumlah penelitian dan uji klinis sehingga tepat dosis dan sasarannya.

Berobatlah dengan pengobatan yang sesuai dengan zamanmu. Itulah mengapa Syekh Yusri berpendapat bahwa vaksin itu boleh, karena tujuan vaksin adalah mencegah bahaya (daf'u dharar) dan disebutkan dalam satu kaidah bahwa adhararu yuzalu (bahaya itu dihilangkan), dan mencegah bahaya diperintahkan oleh agama.

Saat berpendapat bahwa rokok haram, Syeikh Yusri mengatakan bahwa merokok menyebabkan uang habis pada hal-hal yang tidak perlu, padahal Al-Quran melarang manusia dari pemborosan. Merokok sangat berbahaya bagi kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian, padahal Allah memerintahkan kita untuk tidak menjerumuskan diri pada kebinasaan.

Rokok itu membuat candu, dan Nabi Saw melarang kita mencandu pada hal apapun di dunia ini,” ujar Syeikh. Inilah yang dimaksud beliau dengan menerapkan nilai-nilai islami dan metode pengobatan ala Nabi dalam kehidupan zaman sekarang.

Karena itulah saat dars hari Jumat, setelah zikir sore selesai, kami biasa makan bersama di sana dengan lauk daging ayam atau daging sapi dan kambing. Saya tidak menganut pendapat yang mengharamkan diri dari protein hewani. Yang tidak baik itu bukan dagingnya, tapi yang tidak baik itu adalah jika mengkonsumsi terus menerus, kata beliau.

Sungguh, setiap lauk yang kami makan di masjid Asyraf—tempat majelis pengajian Syekh Yusri—selalu nikmat dan sangat lezat karena penuh dengan berkah doa beliau.

Syekh Yusri adalah dokter sekaligus syeikh yang mengobati jiwa kami lebih dari mengingatkan pengobatan fisik. Beliau berulang-ulang memberikan pengobatan ruhani dan menanamkan mental muslim yang berakhlak karimah. Beliau selalu mengingatkan untuk bersabar jika sedang tertimpa musibah, membersihkan hati dari segala nafsu duniawi, menjadikan dzikrullah sebagai penghias diri, mengalah dan memaafkan jika ada orang mendzalimi, bahkan menasehati kami untuk selalu mendoakan kebaikan bagi saudara sesama muslim meski jika ia berbuat buruk kepada kami.

Syeikh juga mengingatkan bahwa salah satu Thibbun Nabawi adalah memperbanyak sedekah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah saw, “Obatilah orang-orang yang berpenyakit dengan sedekah.

Orang rela membayar mahal agar mendapat perawatan yang bagus, tapi apakah ada orang rela bersedekah dengan nominal tersebut dengan niat mengikuti nasehat Nabi Saw?! Jika seseorang bersedekah lalu sembuh dari penyakit maka ia mendapat keberkahan pengobatan ala Nabi. Jika ia bersedekah lalu meninggal maka ia masih mendapat pahala sedekah, karena setiap muamalah dengan Allah pasti untung tidak mungkin rugi.

Dan tentu tak pernah sekalipun beliau lupa dalam menanamkan kecintaan kepada Nabi Saw. Sangat sering beliau mengajari kami untuk terus berupaya meneladani akhlak beliau dan mengamalkan ajarannya, dan karena cinta Nabi adalah obat dari segala penyakit.

Semoga Allah menjaga syeikh kami, dr. Yusri Jabr dan mengumpulkan kami kembali bersama Rasulullah Saw.

Sheila Ardiana
Sheila Ardiana / 2 Artikel

Sheila Ardiana, Lc. MA. Pernah belajar di Darussalam Gontor 3, kemudian melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir hingga meraih gelar magister tafsir di kampus yang sama. Aktif di Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Kairo dan menekuni kajian fikih wanita. Sekarang berdomisili di Pati Jawa Tengah.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: