Ibadah

Tata cara shalat Witir dalam mazhab Hanafi

12 Apr 2022 01:05 WIB
3058
.
Tata cara shalat Witir dalam mazhab Hanafi Dalam mazhab Hanafi shalat Witir adalah wajib.

Sebagaimana namanya, Witir merupakan shalat dengan bilangan ganjil. Ia senantiasa dilaksanakan oleh Baginda Nabi Saw. baik kala beliau mukim tidak bepergian atau saat sedang musafir.

Seyogyanya umat muslim menjaga shalat Witir sebagaimana para salaf kita yang saleh. Perlu kiranya kita mengetahui bagaimana hukum dan shalat Witir dijalankan.

Syekh Abdur Rahman Jaziri yang pernah menjadi anggota Dewan Senior Al-Azhar (w. 1941 M) menjelaskan dalam kitab al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah bahwa shalat Witir menurut 3 dari 4 mazhab muktabar (otoritatif) adalah sunnah, sedangkan dalam mazhab Hanafi shalat Witir adalah wajib. 

Perlu diketahui, wajib dalam mazhab Hanafi berbeda dengan fardu. Menurut Hanafiyah, hal fardu adalah jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa yang berakibat pada mendapatkan siksa di akhirat, sedangkan hal wajib jika ditinggalkan tidak akan berakibat dosa namun hanya akan terhalang mendapatkan syafaat Baginda Nabi saw.

Bagi seorang mukmin, terhalang dari mendapatkan syafaat beliau saw. adalah hukuman serius yang tidak dapat diremehkan sebab seluruh makhluk kelak akan berharap pada syafaat beliau saw.

Witir dalam mazhab Hanafi

Bagi mazhab Hanafi, wajibnya shalat Witir itu dilaksanakan dengan 3 rakaat dengan sekali salam (seperti shalat Maghrib). Pada setiap rakaat wajib membaca al-Fatihah dan surat-surat atau ayat al-Quran. Tersebut dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw. saat melaksanakan shalat Witir membaca al-Fatihah di rakaat pertama yang selanjutnya membaca surat al-A’la (sabbihisma rabbikal a’la). Rakaat kedua beliau membaca al-Fatihah dan surat al-Kafirun dan di rakaat ketiga beliau membaca al-Fatihah dan surat al-Ikhlas.

Dalam mazhab Hanafi, shalat Witir 3 rakaat tersebut wajib berqunut yang dilaksanakan sebelum rukuk. Qunut itu dilakukan saat di rakaat ketiga pasca membaca al-Fatihah dan surat dengan bertakbir mengangkat tangan (seperti takbiratul ihram) terlebih dahulu namun bukan untuk rukuk tapi awal untuk doa qunut. Pasca qunut baru takbir untuk rukuk, lalu bangun dari rukuk, sujud dan seterusnya sampai Salam.

Bagi yang lupa qunut dan baru ingat saat rukuk atau saat sebelum salam, maka wajib sujud sahwi setelah salam. Namun jika ada orang yang berqunut setelah ia ingat saat rukuk dengan berdiri dari rukuk lalu qunut tanpa rukuk lagi dan langsung sujud, maka Witirnya tetap sah atau tidak fasad.

Jika ada yang lupa tidak membaca surat dan qunut, di mana yang bersangkutan di rakaat ketiganya pasca membaca al-Fatihah langsung rukuk, maka ia wajib berdiri kembali mengangkat kepalanya untuk membaca surat dan qunut dan kembali rukuk lagi. Begitu pula bagi yang lupa membaca al-Fatihah, surat dan qunut maka wajib mengulang rukuknya. Seandainya ia tidak mengulangnya maka wajib atasnya sujud sahwi.

Waktu pelaksanaan shalat Witir dapat dimulai dari hilangnya cahaya merah pasca tenggelamnya matahari (masuknya waktu shalat Isya’) dimulai hingga terbitnya fajar. Bagi yang lupa atau sengaja meninggalkan Witir maka wajib mengulangnya walaupun itu sudah berlangsung lama.

Witir wajib dilaksanakan pasca melaksanakan shalat Isya’ demi tertibnya beribadah, namun jika Witir itu dilaksanakan lebih dulu dari shalat Isya’ sebab lupa maka tetap sah.

Saat seseorang menjalankan shalat Isya’ dan lanjut Witir kemudian nyata dengan yakin bahwa shalat Isya’nya batal tapi tidak dengan shalat Witirnya, maka dalam kondisi demikian Witirnya tetap sah dan cukup mengulang shalat Isya’ yang fasad. Kewajiban tertib dalam kondisi ini dianggap telah gugur sebab uzur.

Tidak disyariatkan shalat Witir dijalankan secara berjamaah kecuali pada bulan Ramadhan. Disunnahkan dalam mazhab Hanafi secara berjamaah kala di bulan Ramadhan. Makruh menjalankan shalat Witir secara berjamaah di luar bulan Ramadhan jika berniat untuk mengumpulkan atau mengajak yang lain.

Shalat Witir harus dilaksanakan dengan berdiri bagi yang mampu dan juga tidak boleh dilaksanakan saat sedang berkendara jika tanpa uzur. Shalat Witir disunnahkan untuk memelankan bacaan walaupun yang bersangkutan menjadi Imam.

Bakhrul Huda
Bakhrul Huda / 62 Artikel

Kord. Akademik Ma'had Jami'ah UINSA Surabaya dan Tim Aswaja Center Sidoarjo.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: