Artikel

Tradisi Kepungan dalam perspektif hadits Nabi

03 Jun 2022 08:37 WIB
2513
.
Tradisi Kepungan dalam perspektif hadits Nabi Masyarakat berkumpul dalam sebuah acara kepungan.

Masyarakat muslim Indonesia seperti muslim di Jawa memiliki banyak sekali tradisi dalam rangka memperingati peristiwa, meminta berkat atau selamatan. Yang umumnya jika ada selamatan maka diadakanlah tradisi kepungan. Tradisi ini telah lama dilestarikan baik itu di kota maupun di desa.

Contohnya seperti saat ngapati (empat bulan kandungan), mitoni (tujuh bulan kandungan), mitung dina (tujuh hari sepeninggalnya orang), atau juga karena meminta berkat, misalnya habis beli motor baru, mau menempati rumah baru, dan meminta doa karena telah lolos di salah satu tempat kerja dan lain sebagainya.

Nah apakah tradisi kepungan ini sesuai dengan hadits Nabi SAW? Apakah sebelumnya pernah ada kegiatan serupa pada zaman Nabi SAW? Mari kita lanjutkan diskusi dibawah ini.

Mengenal arti dan tadisi kepungan

Istilah kepungan sebenarnya adalah adopsi dari bahasa daerah yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Dalam KBBI kepungan memiliki arti 1) hasil mengepung 2) Hal (perbuatan dan sebagainya) mengepung 3) upacara makan bersama; selamatan. Kepungan yang menjadi tradisi adalah menyelenggarakan makan bersama, baik itu karena syukuran, setelah lulusan, beli motor atua mobil, selametan karena lahiran, mau menempati rumah baru dan sebagainya.

Kepungan sendiri merupakan kegiatan makan bersama dengan posisi melingkar atau dudul pinggir-pinggir musalla dengan membawa makanan dari rumah masing masing. Kepungan biasanya di lakukan setelah selesai sholat idul fitri dari masjid dan kembali ke rumah masing-masing lalu, menyiapkan makanan untuk dibawa kemudian ke musholla. Ada yang menggunakan rantam, nampan, piring, baskom, klakat, atau apa saja yang bisa digunakan untuk membawa makanan beserta minuman.

Kepungan tidak hanya berisi makan dan minum saja. Saat imam musholla telah mengundang para jamaah atau masyarakat sekitar untuk dating kepungan, sembari menunggu yang lainnya datang, beberapa orang ada yang ikut berinfaq berupa uang untuk musholla, baik itu masyarakat yang tinggal di desa tersebut atau yang sedang pulang karena merantau jauh di tanah orang.

Setelah terkumpul banyak orang dan sudah rapi didalam musholla serta sudah tidak ada yang ingin infaq lagi, maka Imam Musholla mengambil alih untuk memulai acara kepungan. Tentu saja diawali dengan sedikit kata sambutan memuji Allah SAW dan Nabi SAW serta mengatakan bahwa hari raya adalah hari yang bahagia, tidak boleh ada yang bersedit. Hari dimana semua bisa menggunakan pakaian baru, makanan enak, dan berkumpul sanak saudara.

Setelah itu Imam mulai dengan membaca niat yang baik untuk memulai acara kepungan dan diawali membaca al-fatihah lalu menutupnya dengan doa dan dilanjut dengan doa mau makan. Setelah itu baru imam menyerukan untuk memulai makan bersama, serta di bolehkan saling bertukar lauk pauk, atau bahkan bagi yang tidak sempat menyiapkan makanan di perbolehkan ikut dengan yang lain.

Dalil hadits Nabi berkaitan dengan kepungan

Kegiatan seperti ini adalah upaya menjaga kerukunan, kebersamaan serta melatih saling berbagi satu sama lain. Kegiatan yang harus terus dilestarikan oleh generasi seterusnya. Lantas sebenarnya apakah kegiatan seperti kepungan ini juga pernah dipraktikan dizaman Rasulullah SAW. Simaklah hadits berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ طَعَامًا فِي سِتَّةِ نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ

Aisyah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam makan bersama enam orang dari sahabatnya, kemudian datanglah seorang Arab badui makan dengan dua suapan sekaligus, (H.R [Ibnu Majah 3264, Sunan Tirmidzi 1858, Sunan Darimi 2063, Musnad Ahmad 25106, 25722, 26089 dan 26292])

Dari hadits diatas menggambarkan bagaimana zaman dahulu Rasulullah makan bersama dengan sahabatnya. Bahkan jika ada yang datang diajak untuk ikut makan bersama. Betapa kebersamaan sudah diajarkan dari dahulu secara turun temurun. Selain memang dipraktikan oleh Nabi SAW, kepungan juga termasuk anjuran yang di perintahkan oleh Nabi. Yaitu perintah, tentang seseorang yang memiliki makanan agar di makan lebih dari satu orang.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الِاثْنَيْنِ وَطَعَامُ الِاثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الْأَرْبَعَةِ يَكْفِي الثَّمَانِيَةَ

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Satu makanan cukup untuk dua orang, dua makanan cukup untuk empat orang dan empat makanan cukup untuk delapan orang." (H.R [Ibnu Majah 3254])

Dalam redaksi lain Nabi juga bersabda tentang hal serupa yaitu dalam hadits yang berbunyi

وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَإِنْ أَرْبَعٌ فَخَامِسٌ أَوْ سَادِسٌ

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa memiliki makanan cukup untuk dua orang, maka ajaklah orang yang ketiga. Jika memiliki makanan untuk empat orang hendaklah mengajak orang yang kelima atau keenam." (H.R [Bukhori 602] Ijma’ Ulama mengatakan bahwa hadits ini Shahih)

Mengapa Nabi menganjurkan untuk makan bersama-sama? Terntu saja karena ada alasan yang jelas yaitu karena keberkahan, sehingga saat makan bersama dan diliputi keberkahan akan terasa kenyang meskipun sedikit, dibandingkan dengan makan dalam porsi banyak tapi sendiri.

أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ قَالَ فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ قَالَ أَبُو دَاوُد إِذَا كُنْتَ فِي وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلَا تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ

Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda: "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." Abu Daud berkata: Apabila engkau berada pada sebuah pesta kemudian dihidangkan makan malam, maka janganlah engkau memakannya hingga pemilik rumah mengizinkanmu. (H.R. [Abu Daud 3764]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sedang Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini dho’if).

Hadits ini menerangkan gambaran orang yang makan tapi sendirian, sehingga mereka tidak merasakan kenyang. Kenyang yang dimaksud adalah kepuasan atas makanan yang di santap, seolah sudah makan banyak namun tidak merasakan nikmat. Oleh karena itu Nabi menganjurkan agar makan bersama-sama, karena saat maka bersama menjadi tambah keberkahan dan kenikmatan,

Dari segi biologis merasakan kenikmatan saat menyantap makanan, sedang secara psikologis, adanya kenyamanan, selain kebersamaan juga menumbuhkan kepercayaan, rasa kasih sayang, yang akhirnya memupuk kerukunan antar satu dengan lainnya. Bahkan secara estetis dirasa lebih indah dapat melihat banyak saudara-saurada kita bisa makan bersama, bisa bertukar lauk pauk, dihari yang bahagia.

Demikian sajian singkat mengenai penjelasan kepungan. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.a

Ramdhan Yurianto
Ramdhan Yurianto / 4 Artikel

Alumni PPM Darunnajat Brebes. Sekarang melanjutkan kuliah di UIN Walisongo Semarang.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: