Artikel
Tradisi Kerajaan Islam Unjuk Kekuatan Saat Hari Raya
Nilai-nilai hari raya dalam perspektif Islam bukan sekadar rutinitas tahunan, atau perayaan biasa tanpa ada makna di dalamnya. Hari raya menjadi sangat berarti dan luar biasa karena pada hakikatnya berkaitan dengan ibadah-ibadah penting dalam Islam. Hari raya Idul Fitri dilakukan setelah umat Islam menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, dan hari raya Idul Adha dirayakan bersamaan dengan ibadah Haji yang sedang dikerjakan.
Jika melihat dari kejadian-kejadian yang bersamaan dengan hari raya, khususnya Idul Fitri, tentu hari raya bukan sekedar tentang perayaan yang dikemas dengan ibadah shalat sunnah, silaturahim, saling memaafkan, dan tentu pakaian serba baru.
Lebih dari itu, hari raya seharusnya menjadi tanda paling istimewa untuk menampakkan kekuatan dan kemuliaan Islam. Syekh Muhammad bin Ahmad asy-Syatiri dalam kitabnya Syarah Yaqutun Nafis, mengungkapkan sejarah pada bebarapa abad silam, bahwa kerajaan-kerajaan Islam pada zaman dahulu mempunyai kebiasaan menampakkan kekuatan kerajaannya pada setiap hari raya. Hal itu tidak lain kecuali untuk menunjukkan kekuatan dan kemuliaan Islam.
Dalam kitab itu, Syekh asy-Syatiri mengatakan:
وملوك المسلمين يستحب لهم اظهار القوة وعز الاسلام. وكان الملوك السابقون يقومون باستعراض الجيوش
“Dianjurkan (baca: sunnah) bagi pembesar-pembesar umat Islam menampakkan kekuatannya dan kemuliaan Islam. Raja-raja pada zaman dahulu, memperlihatkan (kekuatannya dan kemuliaan Islam) dengan menunjukkan dan mempertontonkan bala tentaranya.” (Syekh Muhammad bin Ahmad asy-Syatiri, Syarah Yaqutun Nafis, juz 1, h. 265)
Sebagaimana penjelasan Syekh Muhammad bin Ahmad asy-Syatiri, kebiasaan menampakkan bala tentara dengan tujuan memperlihatkan kekuatannya dan kemuliaan Islam itu terus terjadi sampai pada masa kesultanan Utsmaniyah di bawah pemimpin Sultan Abdul Hamid. Setelah beliau wafat, kebiasaan itu tidak lagi ada, padahal perayaan hari raya juga tidak lepas dari sejarah perang, yaitu kemenangan umat Islam dalam perang badar.
Syekh Muhammad asy-Syatiri juga menjelaskan kebiasaan pembesar umat Islam pada hari raya sebagai berikut:
ومن عاداته في يوم العيد أن يخرج في الحرس التركي، الذي يقدر بثلاثين ألف من الشباب الشجعان الموحدي اللباس، تتقدمهم السيارات والعربات، وينشدون له السلام الملكي، ويعتز كل المسلمين به
“Dan termasuk kebiasaan pada hari raya: (Raja) keluar bersamam pengawal kerajaan, disertai dengan jumlah tiga puluh ribu pemuda, dan berseragam pakaiannya, di depan mereka ada banyak tentara berkendara dan berkuda, mereka menyanyikan lagu-lagus (Islam) dan ucapan salam khas kesultanan Turki, dengan kebiasaan tersebut umat Islam menjadi mulia (di sisi pemeluk agama lain).” (Syekh Muhammad asy-Syatiri, Syarah Yaqutun Nafis, juz 1, h. 265)
Semua itu mereka lakukan tiada lain karena ingin menampakkan kemuliaan Islam dan memperlihatkan syiar-syiar hari raya. Jika pada masa keemasan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah saw, para sahabat merayakannya disebabkan dua kemenangan, yaitu keberhasilan dalam menaklukkan orang kafir, dan keberhasilan melawan hawa nafsu dengan melakukan puasa selama satu bulan, maka umat Islam saat ini harus merayakan kemenangan itu dan menampakkan bahwa Islam akan selalu mulia dan jaya.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda:
اَلْإِسْلَامِ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى
“Agama Islam itu tinggi (mulia), dan tidak ada yang bisa menandinggi ketinggiannya (kemuliannya).” (HR. At-Thabrani)
Selanjutnya, Syekh Muhammad asy-Syatiri memberikan cara terbaik untuk mempertahankan kemuliaan Islam. Beliau mengatakan:
وعلى المسلمين اليوم أن يدركوا أننا كلنا مسلمون، فقبلتنا واحدة، وقرأننا واحد، ولا نجعل للأعداء مدخلا يتسللون منه بيننا للتفرقة والتناجر والتباغض
“Semua umat Islam saat ini, harus menyadari bahwa mereka beragama Islam, kiblatnya satu, Al-Qur’annya satu, dan jangan pernah membuka celah bagi musuh-musuh Islam untuk memasuki Islam, agar di antara umat Islam tidak terjadi perpecahan, bermusuhan, dan saling benci.” (Syekh Muhammad asy-Syatiri, Syarah Yaqutun Nafis, juz 1, h. 265)
Dengan demikian, saling memperkuat hubungan antara umat Islam sangatlah dianjurkan. Islam mewajibkan pemeluknya menjaga persatuan, kenyamanan, dan ketentraman. Berpegang teguh pada Al-Qur’an, hadist, kesepakatan ulama, dan qiyas. Semua itu merupakan perintah Allah dalam Al-Qur’an. Bahkan, Rasulullah dengan segala upaya mempersatukan umat Islam pada masanya, seperti kaum Khuzraj dan Aus, dan mempersaudarakan sahabat Anshar dan Muhajirin.
Dalam Al-Qur’an, dengan tegas Allah swt melarang umat Islam dari berpecah belah.
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.” (QS. Ali ‘Imran: 105)
Harus disadari, persatuan merupakan ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist Nabi, sebagaimana larangan bercerai berai. Oleh karenanya, meskipun terasa sangat berat, harus tetap diusahakan. Al-Qur’an memberikan pesan, tidak boleh di antara umat Islam bercerai-berai, karena di anatara mereka berstatus saudara. Selain itu, dinyatakan pula dalam hadist, bahwa umat Islam bagaikan satu bangunan, maka bagian-bagiannya harus memperkukuh satu sama lain.
Pegiat Bahtsul Masail dan Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Bangkalan Madura.