Artikel

Untuk Apa Belajar Ilmu Mantiq?

21 Dec 2021 12:06 WIB
3360
.
Untuk Apa Belajar Ilmu Mantiq? Mantiq itu penting agar kita tidak salah berpikir.

Mantiq dikenal sebagai salah satu ilmu alat sebagaimana nahwu dan sharaf. Dengan memahami kaidah-kaidah mantiq, kita bisa lebih mudah mendedah ilmu-ilmu lain.

Selain digunakan untuk memahami teks-teks agama, ilmu mantiq juga dapat menjadi pisau analisis kita saat membaca dan menilik ragam fenomena yang terjadi.

Ilmu mantiq acap kali dicap rumit, sebab membincang kaidah-kaidah berpikir yang barangkali dinilai absurd karena hanya berputar-putar di kepala.  Oleh karenanya, perlu dimengerti juga bahwa dalam belajar mantiq, kita tidak bisa mencukupkan diri dengan menghafal kaidah-kaidahnya. Tetapi juga perlu memahami bagaimana mengimplementasikan kaidah kaidah tersebut dalam kehidupan sehari-hari (sebagaimana fungsi ilmu alat).

Di sini saya akan coba menghadirkan contoh implemetasi salah satu kaidah mantiq, sehingga mantiq tidak lagi dikata membincang hal absurd yang hanya berputar-putar di pikiran.

Untuk sampai ke sana, saya akan menyuguhkan sebuah kasus. Berangkat dari pertanyaan, “Legalkah jika sebuah judul tulisan tidak menggambarkan keseluruhan dari isi tulisan tersebut?”

Bagi pegandrung literasi, pasti tidak asing dengan kritikan ‘judul tidak menggambarkan keseluruhan isi’ atau ‘judul terlalu umum dari isi’.

Misalkan, sebuah berita yang disajikan dengan judul “Jakarta Sering Banjir, Indonesia Pindahkan Ibu Kota”. Dengan judul tersebut, saya kira akan banyak pembaca yang berasumsi bahwa Indonesia berpindah Ibu kota karena Jakarta sering banjir. Jika diasumsikan seperti itu, maka judul tersebut tidak selaras dengan isi berita sebab faktanya tidak demikian.

Sebelum kita lanjut, mari kita membaca ulang bab dilalah  dalam mantiq untuk selanjutnya kita coba menjawab pertanyaan di atas lewat kaidah mantiq berikut.

Topik Bahasan Ilmu Mantiq

Objek pembahasan di Mantiq hanya pada dilalah lafdziyyah wadh’iyyah, yang kemudian terbagi menjadi tiga.

Pertama, dilalah muthabaqah, di mana ketika mengetahui sesuatu, kita akan menggambarkannya secara keseluruhan. Seperti kata ‘rumah’ ketika saya mengatakan “saya akan pulang ke rumah”, yang mengantarkan kita pada gambaran rumah seutuhnya, dari atap sampai pondasinya.

Berbeda dengan dilalah tadhommun. Ia mengantarkan kita pada pemahaman juz’iyyah dari suatu hal. Sebagaimana kata ‘rumah’ yang darinya muncul penggambaran hal-hal partikular, seperti dapur. Ketika kita memanggil tukang untuk membenahi rumah, maka bukan seisi rumah yang dibenahi, melainkan hanya bagian tertentu.

Terakhir, dilalah iltizâm. Ia menunjukkan pada sesuatu di luar kata tersebut. Sebagaimana kata ‘rumah’ yang kita pahami sebagai tempat tempat berkumpul bersama keluarga.

Kemudian, ketiga dilalah ini memiliki keterikatan kuat bahwa dilalah tadhommun dan dilalah iltizâm pasti mengandaikan dilalah muthâbaqah. Misalnya, ketika kita melihat seseorang sedang melakukan gerakan rukuk. Lalu, kita menyatakan bahwa dia sedang shalat. Benar, bahwa rukuk merupakan dilalah tadhammun dari shalat. Titik tekannya adalah, bahwa ketika kita menyatakan orang yang rukuk itu sedang shalat, maka seketika juga kita mengandaikan bentuk shalat secara utuh—niat hingga salam. Tanpa memiliki pengetahuan tentang shalat secara utuh, kita tidak mampu menyimpulkan bahwa orang yang rukuk tersebut sedang shalat. Sehingga dalam kaidahnya, menarik hal-hal partikular (tadhammun) selalu bertumpu pada pengetahuan utuh akan hal tersebut (muthâbaqah).

Di bagian inilah kita gunakan untuk memecahkan pertanyaan di atas, “Legalkah jika sebuah judul tulisan tidak menggambarkan keseluruhan dari isi tulisan?”

Dalam KBBI, judul merupakan nama yang dipakai untuk buku atau bab yang dapat menyiratkan secara pendek isi atau maksud buku atau bab itu.

Dari sini, saya katakan bahwa judul merupakan hasil atau bentuk dilalah tadhammun dari sebuah tulisan. Sedangkan dilalah muthâbaqah ada pada keseluruhan isi tulisan tersebut. Sehingga, sah dan legal jika sebuah judul hanya menarik fakta-fakta partikular dari keseluruhan isi tulisan. Seperti judul di atas, “Jakarta Sering Banjir, Indonesia Pindahkan Ibukota”. Judul semacam ini legal, asalkan di dalam isinya tercantum fakta bahwa Jakarta sering banjir dan fakta bahwa Indonesia mewacanakan perpindahan Ibu kota.

Lalu, bagaimana jadinya jika judul tersebut dikatakan provokatif, membuat pembaca berasumsi negatif bahwa perpindahan tersebut karena Jakarta yang sering banjir?

Pertanyaan semacam ini, akan saya jawab balik dengan pertanyaan; atas dasar apa kita bisa mangasumsikan maksud sebuah tulisan hanya berdasar pada judul? Sudah jelas bahwa judul hanya menyiratkan partikular dari keseluruhan isi berita. Sedangkan untuk mengerti maksud sebuah tulisan, kita perlu membaca secara utuh (muthâbaqah), bukan sekadar membaca judul yang ia hanya bentuk dari dilalah tadhommun. Hasil pembacaan sepotong lewat judul bisa mengantarkan pada pemahaman isi berita, sebab memang pijakannya tidak benar. Sekali lagi, sebagaimana kaidah mantiq, dilalah tadhammun pasti mengandaikan dilalah muthâbaqah. Sehingga, bukan judul tersebut yang seyogianya disangsikan, melainkan pembaca yang berasumsi hanya lewat pembacaan judul, tanpa mengetahui keseluruhan isi berita.

Mungkin, sebagian pembaca tidak sependapat dengan saya, bahwa judul semacam di atas perlu disangsikan karena dinilai provokatif (bagi mereka yang tidak memahami maksud tulisan).

Tulisan ini merupakan usaha saya untuk mendedah satu dari sekian banyak kaidah mantiq. Sekali lagi kaidah mantiq, bukan sesuatu yang saya ada-adakan. Dan perlu diingat, menyangsikan pelegalan judul tulisan seperti di atas (yang tidak menganggambarkan keseluruhan tulisan) sama halnya menyangsikan keabsahan penamaan surat-surat di dalam al-Quran. Apakah kita akan menyangsikan Tuhan karena isi surat al-Baqarah tidak semuanya membahas sapi? Yang mesti kita sangsikan justru mereka yang beranggapan bahwa nama surat selalu menggambarkan isi keseluruhan surat tersebut. Tabik!

Tanzila Feby Nur Aini
Tanzila Feby Nur Aini / 8 Artikel

Alumni Pondok Pesantren Denanyar, Jombang. Sekarang Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo Jurusan Aqidah dan Filsafat. Menyukai kajian Ulumul Quran dan pemikiran Islam.

Hamba Allah
21 December 2021
Terima kasih atas ilmunya, mantiq memang termasuk ilmu yang sulit, dibutuhkan kecerdasan berfikir agar tidak salah berasumsi.
egi hergiana
03 April 2023
ilmu logika banyak orang memahami sudah memilikinya karena pengalaman hidup termasuk saya ,, menarik dan sedang ingin mempelajarinya lebih lanjut
Dunnal
02 June 2024
Syukron

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: