Artikel

Cara Memahami Hadits “Aku Diperintahkan Memerangi Manusia”

12 Mar 2021 03:32 WIB
5476
.
Cara Memahami Hadits “Aku Diperintahkan Memerangi Manusia”

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُمِرْتُ أَنْ ‌أُقَاتِلَ ‌النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhuma, sungguh Rasulullah Saw. bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Jika mereka lakukan hal-hal itu, maka mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku kecuali karena hak Islam. Dan (bohong atau jujur) Allah yang akan membalas mereka.”   (HR. al-Bukhari Muslim)

Banyak kalangan yang salah paham dalam memaknai hadits di atas. Bahkan yang paling mengkhawatirkan, hadits ini dijadikan dalil untuk melakukan tindak terorisme terhadap nonmuslim.

Seakan dipahami, jika seseorang tidak mau diajak masuk Islam, maka mereka boleh dibunuh. Profesor Ma’bad Abdul Karim, guru besar hadits Universitas al-Azhar berkomentar terkait masalah ini. Untuk memahami dalam konteks apa hadits tersebut diucapkan, beliau mengajak kita untuk membuka tafsir Ibnu Katsir.

Ketika di Madinah, kaum muslimin mendapat cobaan dengan munculnya orang-orang munafik yang tampak depan ingin menolong kaum muslimin namun di belakang berencana untuk memecah belah dan melemahkan pasukan Islam.

Mengetahui hal itu, seorang sahabat melapor kepada Nabi, “Ya Rasulullah, mereka itu hanya berpura-pura Islam. Mereka membangun masjid untuk memecah belah kaum muslimin, maka izinkan kami untuk membunuh mereka.”

Karena sebab inilah Nabi mengucapkan hadits di atas. Baginda Nabi seolah ingin menjawab, bagaimana aku membunuh mereka sedangkan mereka mengucapkan lâ ilâha illallâh. Barangsiapa yang mengucap lâ ilâha illallâh maka aku tidak punya hak untuk membunuhnya. Kejujuran dan kebohongan Allahlah yang memberi balasan.

Dengan demikian, makna dari hadits ini bukan ‘aku akan membunuhmu sampai engkau bersyahadat lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh’, tapi ‘jika engkau bersyahadat lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh’ maka darahmu terjaga, aku tidak akan membunuhmu’.

Karena hadits ini adalah jawaban Nabi kepada sahabat yang meminta izin untuk membunuh orang-orang munafik.

Profesor Ma’bad menegaskan bahwa hadits di atas bertujuan untuk menjaga nyawa, bukan melegalkan pembunuhan.

Beliau menambahkan, kesalahan dalam memahami hadits ini biasanya dikarenakan mereka terlalu sibuk dalam membaca kitab syarah-syarah hadits tapi melupakan asbabul wurudnya.


Muhammad Fazal Himam
Muhammad Fazal Himam / 8 Artikel

Asal dari Kedungleper, Bangsri, Jepara. Sedang menempuh kuliah S2 di Universitas Al-Azhar Jurusan Tafsir dan Ulumul Quran, Kairo Mesir. Pernah nyantri di Perguruan Islam Mathali’ul Falah Pati. Meminati kajian filsafat & quranic studies

Konyek
02 April 2021
Trimkasih pencerahanya suhu .
als
04 January 2022
assalamualaikum, izin bertanya kalau boleh tahu referensinya dari mana saja ya ustadz?
Rahmawati
14 December 2024
Barakallah semoga ilmunya bermanfaat dunia dan in syaa Allah akhirat, dijadikan orang tua mendapat amal jariyah kelak dari anak Soleh dan bermanfaat untuk umat

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: