Artikel

Hierarki Shalawat Nabi Saw dalam Pandangan Ibnu Ajibah

27 Aug 2021 01:09 WIB
2931
.
Hierarki Shalawat Nabi Saw dalam Pandangan Ibnu Ajibah

Shalawat bagi kaum sufi setara dengan zikir lainnya. Bahkan dalam tataran yang lebih ekstrem “shalawat bisa menempati syeikh bagi yang belum menemukannya”.

Di akhir zaman, shalawat dianggap bisa menyampaikan seorang salik menuju tangga makrifat ala para sufi. Sebab Rasulullah saw. adalah pintunya. Sehingga membaca shalawat atas Rasul adalah upaya mengetuk pintu itu.

Shalawat juga menjamin keterjalinan hati dengan sang Rasul sebagai wasilah (perantara) menuju Allah swt. Imam al-Junaid, pimpinan kaum sufi, sudah menegaskan,Semua pintu tertutup kecuali mengikuti Rasulullah saw.” Jadi jalan yang benar, dalam perspektif kaum sufi, adalah melalui pintu Rasulullah saw.

Ibnu Ajibah dalam salah satu karyanya, Al-Futuhat al-Ilahiyah, membagi tiga tingkatan shalawat:

Pertama, adalah orang yang membacanya atas fisik dan bentuk Rasulullah saw. Kelompok ini disebut dengan ahli burhan (argumentasi-dalil). Saat membacanya dia membayangkan rupa fisik Rasul yang sempurna.

Semakin intens proses semacam ini maka akan meneguhkan imajinasi kehadiran Rasulullah dalam hatinya. Saat itulah kemungkinan bermimpi Rasulullah akan semakin besar. Dan barangkali Rasulullah akan menampakkan diri hingga melihatnya secara nyata (dalam keadaan terjaga, bukan mimpi).

“Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka [akan meningkat] melihatku secara terjaga. Sesungguhnya setan tak bisa menyerupaiku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) adalah hadis yang menegaskan kemungkinan di atas. Ini yang diyakini kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Bermimpi atau melihat Nabi saw. secara terjaga adalah anugerah. Tak semua orang mendapatkannya; orang alim belum tentu mendapatkan hadiah semacam itu. Sebaliknya, orang awam yang shaleh dan selalu meningkatkan ikatan hatinya dengan Rasulullah, menambah perasaan cinta padanya, menambah intensitas shalawat atasnya, akan dengan mudah mendapatkannya. Bahkan dalam keyakinan kaum sufi, bermimpi Rasulullah adalah permulaan kewalian.

Bagaimana dengan orang non muslim yang bermimpi Rasulullah saw.? Biasanya orang tersebut dikehendaki kebaikan dan tak lama akan mengkonversi diri masuk Islam. Cerita semacam ini terjadi berulang kali.

Ada kisah unik dalam Sa’adatut Darain karya An-Nabhani: ada seseorang bermimpi Rasulullah saw. dalam tampilan yang (maaf) buruk rupa. Bahkan seorang tersebut, dalam mimpinya, berani menampar wajah sang Nabi.

Saat terbangun dari tidurnya, dia gelisah dan akhirnya meminta takwil mimpi pada orang alim di desanya. Si alim menyatakan,Yang kamu lihat adalah Rasulullah berdasarkan hadis. Adapun penampilan Rasulullah saw. yang buruk rupa itu harus dikembalikan pada kelakuanmu. Apa kamu pernah melanggar syariat Rasul?”

Si pemimpi berpikir keras, mencoba menginstropeksi diri. Akhirnya dia menjawab “Iya, saya sedang melanggar syariatnya. Saya menggauli istri yang telah diceraikan tanpa menyatakan rujuk (kembali).”

“Itulah takwil mimpimu: kamu telah berzina karena belum rujuk sudah menggauli istrimu,” tutup sang alim.

Intinya, bermimpi Rasulullah saw. adalah anugerah, kebaikan, dan bahkan permulaan kewalian. Dalam wujud apapun pasti Rasulullah, bukan setan, sebab ada jaminan dari hadis. Hanya saja perlu takwil mimpi tatkala Rasulullah tampil dalam wujud yang tidak sesuai dalam deskripsi sirah (sejarah Rasulullah saw).

Kedua, menurut Ibnu Ajibah, adalah orang yang membaca shalawat atas ruhaniyah Nabi saw. Mereka adalah ahli syuhud (persaksian) dari kalangan sufi. Membaca shalawat atas pancaran cahaya Rasulullah dari alam Jabarut. Mereka menyaksikan Rasulullah saw. sepanjang waktu, meski terkadang masih lalai dari kehadirannya.

Ketiga, adalah mereka yang membaca shalawat atas ruh asli Rasulullah saw. sebagai cahaya di atas cahaya. Mereka adalah ahli tamkin wa rusukh (mantap dalam suluknya-wushul). Sehingga pandangannya pada Rasulullah saw.  tak pernah luput sedikit pun. Keseharian dan waktunya diliputi oleh kehadiran beliau.

Maqam kesufian semacam inilah yang merefleksikan ucapan Abu Al-Abbas Al-Mursi, murid kinasih Imam Asy-Syazuli, “Seandainya Rasulullah absen sekejap saja dari pandanganku, maka saya menganggap diri saya bukan bagian dari kaum muslimin (alias kafir).” Sebuah ungkapan metaforis betapa mantapnya kelompok ini di hadrat Rasulullah sebagai wasilah Allah. Pikiran mereka bertamasya di alam malakut, dan ruh mereka bersatu di alam Jabarut.  

Keterangan: alam mulki adalah yang bisa diindera, malakut adalah yang tak bisa diindera=gaib, jabarut adalah alam antara Allah dan makhluk-Nya.        

           

Abdul Munim Cholil
Abdul Munim Cholil / 44 Artikel

Kiai muda asal Madura. Mengkaji sejumlah karya Mbah Kholil Bangkalan. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Katib Mahad Aly Nurul Cholil Bangkalan dan dosen tasawuf STAI Al Fithrah Surabaya

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: