Artikel

Iblis Awam Ilmu Logika

19 Feb 2021 03:55 WIB
1835
.
Iblis Awam Ilmu Logika

Banyak yang bilang kalau Iblis itu pinter. Biasanya dikaitkan sama akhlak. "Kalau pinter aja gag punya akhlak, Iblis lebih pinter dari kamu!" Begitu biasa orang berkata. Tunggu dulu. Pinter di sini maknanya apa? Kalau pinter nge-trik untuk menggoda dan menjerumuskan manusia, itu sih bener. Tapi kalau pinter ngolah 'konten' godaan? Itu yang jadi problem.Dalam al-Kasyfu wa at-Tabyīn, Al-Ghazali mengkritik logika Iblis. Masalah pertama, ketika Iblis tidak mau 'sujud' kepada Adam, dia bilang bahwa dia lebih baik dari Adam karena dia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah liat. Oke, di mana kesalahannya? 

Untuk menjawab ini kita harus menuju ke masalah kedua. Iblis dan antek-anteknya, setan (dari golongan jin dan manusia), selalu bilang, dalam rangka menolak akhirat, misalnya: "Ganjaran kontan itu lebih baik daripada ganjaran kredit. Kenikmatan duniawi itu meyakinkan, sedang kenikmatan akhirat itu meragukan; maka yang meyakinkan tidak ditinggalkan karena yang meragukan." 

Al-Ghazali bilang ini silogisme yang keliru. Kenapa? Karena mereka menyangka bahwa 'kebaikan' itu dalam segi 'sebab'-nya. Untuk menghilangkan tipu daya semacam ini, Al-Ghazali menawarkan dua solusi. Pertama, solusi awam, yaitu dengan cara iman dan yakin bahwa 'apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih langgeng' (QS. Al-Qashash: 60). Kedua, solusi cendikiawan, yaitu dengan jalan penalaran dan pembuktian. Caranya dengan mendedah kekeliruan silogisme di atas.

Begini urutan silogismenya. 

Premis mayor: Ganjaran dunia itu kontan sedangkan akhirat kredit.
Premis minor: Yang kontan lebih baik daripada yang kredit.
Konklusi: Ganjaran dunia lebih baik dari akhirat.

Premis mayornya benar. Sedangkan premis minornya keliru. Kenapa? Jika konten kontannya sama dengan konten kreditnya itu bisa diterima. Tapi kalau konten kontannya lebih sedikit jelas yang kredit lebih baik daripada yang kontan. Di sinilah kekeliruan itu muncul, yakni menyandarkan kebaikan kepada sebab, bukan akibat.

Mari kita bedah silogisme Iblis di hadapan Tuhan.

Premis mayor: Saya diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah liat.
Premis minor: Api lebih baik dari tanah liat.
Konklusi:Saya lebih baik daripada Adam.

Api dan tanah liat sama tingkatannya dengan kontan dan kredit. Kedua-duanya sama dalam sebab, bukan akibat. Sebab dari kebaikan, menurut dua silogisme di atas, terdapat pada ke-bahan-an dan ke-kontan-an. Ini jelas keliru. Premis minor Iblis sama kelirunya dengan premis minor antek-anteknya di atas. Apa yang menjadikan api lebih baik dari tanah liat? Apakah karena kedudukan naturalnya? Tidak. Kedudukan natural tidak mengenal kata 'kebaikan'. Kebaikan bukan berasal dari sebabnya, tapi dari akibatnya.

Sekarang, apa itu sebab? Sebab secara etimologis bermakna: sesuatu yang mengantarkan kepada tujuan. Secara terminologis: sesuatu yang mendorong kepada tindakan, dan karena sesuatu itulah subjek melakukan tindakan. Sebab itu ada empat. Salah satunya adalah sebab final. Apa itu? Motif. Sebab final dari orang menciptakan rumah apa? Motif untuk menghuninya, sebut saja, atau motif untuk dijual. Sebab final lebih awal muncul tetapi lebih akhir terlaksana dibandingkan sebab lainnya.

Kebaikan itu tujuan atau akibat, dan akibat semestinya menjadi jangkar dari kebaikan. Kekontanan menjadi sebab karena ia adalah dunia, tempat yang bakal mengantarkan ke akhirat. Kalau tujuannya akhirat tetapi yang dinilai baik adalah bayaran dunia, bukankah ini jadi kebalikannya?

Begitu juga sebab dari Iblis diciptakan. 'Motif' penciptaan makhluk oleh Tuhan adalah untuk meraih kebaikannya masing-masing. Kebaikan dari Iblis bukan dari sisi sebab materialnya, yaitu api, tetapi sebab finalnya, yaitu agar dia taat kepada Tuhan. Kayaknya Iblis tidak paham pembagian sebab ini sehingga dia menyangka kebaikan ada pada sebab material dan akhirnya keliru ketika proses menalar.

Iblis dan antek-anteknya awam ilmu logika. Mereka menggoda manusia dengan logika yang keliru. Iblis dan antek-anteknya memang bodoh, karena nalarnya keliru, tapi bukankah lebih bodoh lagi ketika kita mengabaikan kebodohan mereka dan membenarkan kekeliruan mereka?

M.S. Arifin
M.S. Arifin / 24 Artikel

M.S. Arifin, lahir di Demak 25 Desember 1991. Seorang penyair, esais, cerpenis, penerjemah, dan penyuka filsafat. Bukunya yang sudah terbit: Sembilan Mimpi Sebelum Masehi (antologi puisi, Basabasi, 2019) dan Mutu Manikam Filsafat Iluminasi (terjemahan karya Suhrawardi, Circa, 2019). Bisa dihubungi lewat: [email protected].

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: