Kisah
Kenikmatan Menjadi Umat Rasulullah
Menjadi umat Nabi Muhammad shallallu ‘alai wasallama merupakan suatu nikmat, kebanggaan dan keberuntungan bagi kita. Sesuatu yang wajib kita syukuri.
Kenimatan menjadi umat Rasulullah diidam-idamkan oleh khalayak umat—bahkan oleh para nabi utusan-utusan Allah swt. yang lain.
Seorang Nabi yang Allah swt. muliakan dengan kemampuan berdialog dengan-Nya, Nabi Musa, juga mengidamkan nikmat untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Baihaqi dan Abu Nua'im, disebutkan:
Setelah Allah swt. menyebutkan keutamaan umat Nabi Muhammad di hadapan Nabi Musa, Nabi bergelar Kalimullah itu kemudian memohon.
Dia berkata, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku sebagai nabi dari umat tersebut.”
Allah menjawab, “Sungguh telah aku utus nabi dari umat tersebut bersamanya.”
Nabi Musa berkata, “Kalau begitu, jadikan aku sebagai umat Nabi tersebut.”
Allah swt. menjawab, “Tidak bisa karena engkau hidup sebelum zamannya sedang ia datang setelahmu.”
Mahatahu Allah swt. atas perasaan Nabi Musa. Tidak ingin memupuskan harapannya, Dia berkata, “Sungguh aku akan menemukan engkau, wahai Musa, bersama dengannya (Rasulullah saw.) kelak di surga-Ku.” (Dalail An-Nubuwah, karya: Al-Imam Baihaqi)
Tak hanya itu, Abul Al-Basyar, Bapak dari seluruh manusia, Nabi Adam as. pun mengharap untuk menjadi umat Rasulullah saw.
Dia menyebutkan empat perbedaan yang Allah swt. berikan kepada umat Rasulullah saw. yang tak Dia berikan kepadanya, dalam harapnya:
Nabi Adam dalam harapnya mengatakan sebagai berikut:
Sungguh Allah swt. telah memberi umat Rasulullah saw. empat perkara, yang tak Dia berikan padaku:
Pertama: Allah swt. hanya bersedia menerima tobatku ketika aku bertobat di Mekkah. Sedang tobat umat Rasulullah saw. diterima oleh Allah swt. di tempat manapun mereka bertobat.
Kedua: Sebelum memakan buah khuldi, aku berpakaian lalu Allah swt. menjadikan aku telanjang setelah memakannya. Sedangkan umat Rasulullah saw. berbuat maksiat secara telanjang, tetapi Allah swt. menutupi mereka dengan pakaian ampunan-Nya.
Ketiga: Ketika aku melakukan kesalahan, Allah swt. langsung memisahkan aku dari istriku, sementara umat Rasulullah saw. (ketika melakukan kesalahan) tak dipisahkan dari pasangannya.
Keempat: Ketika aku melakukan kesalahan di surga, Allah swt. langsung mengusirku dan mengeluarkan aku dari sana, sedangkan umat Rasulullah saw. berbuat maksiat di luar surga, tetapi nantinya akan Dia masukkan ke dalam surga jika mereka bertobat. (Tanbih al-Ghafilin, karya Imam al-Faqih Abu al-Laits as-Samarqandi)
Sebuah karunia yang sangatlah besar bagi kita selaku umat Rasulullah saw. yang Allah swt. karuniakan kepada kita, tanpa harus memintanya.
Menjadi umat Rasulullah saw. sesungguhnya merupakan karunia yang didambakan seluruh umat manusia sebelum kita. Bahkan Nabi-nabi sebelum beliau sampai meminta hal tersebut. Namun Allah swt. tak memberikan kepada mereka. Dia justru memberikan kemuliaan ini kepada kita, tanpa perlu kata meminta dan memohon kepada-Nya.
Selayaknya seorang mukmin berbangga menjadi umat Nabi Muhammad saw. seraya memperbanyak shalawat kepada Rasulullah saw. sebagai bukti cinta kepada beliau. Allahumma shalli ‘ala sayidina wa habibina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma'in. Wallahu a'lam bis shawab.
Alumni S1 Univ. Imam Syafii, kota Mukalla, Hadramaut, Yaman. Sekarang aktif mengajar di Pesantren Nurul Ulum dan Pesantren Al-Quran As-Sa'idiyah di Malang, Jawa Timur. Penulis bisa dihubungi melalui IG: @muhammadfahmi_salim