Kisah
Kisah Ibnu Arabi Menjadi Murid Nabi Khidir
Suatu ketika Ibnu Arabi naik kapal besar untuk menyeberangi lautan, tiba-tiba di tengah laut terjadi badai dan gelombang yang sangat besar. Semua penumpang panik dan berlarian menuju sang Syaikhul Akbar.
“Wahai Syaikh, Anda kan seorang sufi besar, berdoalah agar kapal ini tidak tenggelam dihantam badai dan gelombang besar,” pinta salah seorang dari mereka.
“Baiklah,” jawab Ibnu Arabi seraya bangkit dari zikirnya.
Semua mata tertuju pada sufi besar asal Andalusia tersebut.
Ibnu Arabi segera naik ke ujung tiang kapal itu dan berkata, “Wahai lautan kecil, tunduklah pada lautan yang besar. Aku adalah laut yang besar dan kamu adalah laut yang kecil!”
Setelah mendengar ucapan Ibnu Arabi, lautan pun menjadi tenang kembali.
Peristiwa ini merupakan manifestasi dari teori Mikrokosmos-Makrokosmos; di mana manusia—khalifah—yang meskipun bertubuh kecil (mikrokosmos: jagat kecil) sejatinya adalah makrokosmos (jagat besar), sedangkan alam semesta yang meskipun luas (makrokosmos) sebenarnya merupakan mikrokosmos-nya manusia.
Lalu muncullah ikan raksasa dari dalam laut yang dapat berbicara. Ikan raksasa itu berkata, “Wahai Ibnu Arabi, laut telah engkau taklukkan. Akan tetapi, kapalmu tidak akan aman sebelum engkau bisa menjawab dua pertanyaanku.”
Ibnu Arabi menjawab dengan tenang, “Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu.”
“Pertanyaan pertama, berapa lama masa idah seorang perempuan yang suaminya jadi kera? Dan yang kedua, berapa lama masa idahn seorang perempuan yang suaminya jadi batu?”
Ternyata pertanyaan ikan raksasa itu adalah pertanyaan khas fikih, rumit. Namun, karena Syaikhul Akbar asal Andalusia itu adalah seorang sufi besar yang menguasai fikih, ilmu kalam, dan tasawuf, tentu ia matang dalam ushul fikih.
Ushul fikih adalah ilmu hukum dalam Islam yang mempelajari kaidah-kaidah, teori-teori, dan sumber-sumber secara terperinci dalam rangka menghasilkan hukum Islam yang diambil dari sumber-sumber tersebut.
Ibnu Arabi menjawab, “Perempuan yang suaminya jadi kera, masa idahnya adalah seperti idah perempuan yang dicerai hidup oleh suaminya. Sedangkan masa idah perempuan yang suaminya jadi batu adalah sama seperti idah perempuan yang ditinggal mati suaminya.”
“Kamu benar, Ibnu Arabi!” seru ikan raksasa, kemudian ikan itu berubah menjadi Nabi Khidir. “Ikutlah bersamaku,” ajaknya.
Dalam pertanyaan di atas, kera adalah simbolisasi (siloka) makhluk yang masih hidup, sedangkan batu ialah representasi makhluk yang telah mati.
Ibnu Arabi pun mengikuti Nabi Khidir dan menjadi muridnya.
***
Suatu hari Ibnu Arabi lewat di tengah kerumunan orang-orang kaya, politisi, dan pejabat yang sedang menggelar pesta pora.
Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Syeikh, Anda kan sufi besar, tolong jawab pertanyaan kami.”
Ibnu Arabi berhenti, menoleh, lalu menjawab, “Apa pertanyaan kalian?”
“Tuhan itu ada di mana, sih?” sambung orang itu.
“Tuhan yang kalian sembah-sembah itu, sekarang ada di bawah telapak kakiku,” sahut Ibnu Arabi tegas.
Orang-orang itu murka. “Kurang ajar kamu! Dasar murtad! Kafir!”
Ibnu Arabi diam saja. Orang-orang itu menghambur ke arahnya. Mereka memukuli sang syeikh beramai-ramai sampai babak-belur. Setelah kejadian itu, Ibnu Arabi jatuh sakit dan akhirnya wafat.
Setelah kematiannya, salah seorang yang menganiaya Ibnu Arabi merasa penasaran atas ucapan kontroversialnya. Ia bersama para orang kaya, politisi, dan pejabat menggali tanah yang pernah dipijak oleh Ibnu Arabi. Mereka ingin membuktikan ucapan Ibnu Arabi bahwa Tuhan ada di bawah telapak kakinya itu keliru.
Setelah digali, mereka semua terperenyak. Ternyata di bawah tanah itu ada sebuah peti besar yang berisi emas, perhiasan, dan uang yang sangat banyak.
Sontak saja semua orang itu meraung-raung serta menjerit-menjerit.
Mereka baru menyadari bahwa ucapan Ibnu Arabi adalah sindiran. Betapa jiwa-jiwa
mereka selama ini telah membuang Allah dan menggantinya dengan
sesembahan-sesembahan yang lain, yaitu: harta, pangkat, jabatan, dan kekuasaan.