Artikel

Logika Para Sufi

09 Mar 2021 05:46 WIB
1765
.
Logika Para Sufi

Rasa yang dimiliki oleh para sufi memang tidak bisa diukur. Mereka berada di antara dua pilihan yang sama-sama berisiko. Pertama, mereka cukup menikmati rasa itu sendiri, memendamnya tanpa mengungkapkannya. Risikonya adalah batin yang tersiksa. Tubuh yang boleh jadi semakin kurus, dan air mata yang akan terus mengucur, karena kecenderungan orang adalah mengungkapkan apa yang dia rasakan.

Kedua, mereka mengungkapkannya dengan lisan maupun tulisan. Ini juga berisiko, karena rasa itu sungguh tidak terbatas, sedangkan bahasa sangat terbatas.

Pada akhirnya, banyak para sufi yang memilih untuk mengungkapkannya. Walhasil, ungkapan setiap sufi berbeda antara satu dengan yang lain, karena sangat ditentukan oleh daya pikir, kemampuan bahasa, level rasa, dan sudut pandang.

Bagaimana pun, karena keterbatasan bahasa, ungkapan-ungkapan mereka menimbulkan polemik yang disebabkan selain keterbatasan bahasa itu, juga karena keterbatasan kapasitas pembacanya.

Sehingga, mereka para sufi memunculkan paradoks-paradoks yang aneh. Bahkan jika melihat sekilas ungkapan-ungkapan mereka, sepertinya mereka tidak waras. Padahal justru logika merekalah yang melampaui logika pembaca.

Ada sekian contoh kisah para sufi yang menawarkan logika memandang hidup. Misalnya, kisah ini. Ada dua sahabat yang sangat dekat, yang satu menjadi seorang raja atau presiden, satu lagi seorang wali sufi.

Suata saat, sang wali mendatangi sahabatnya yang menjadi raja untuk meminta uang yang dia butuhkan. Sesampainya di kerajaan, dia melihat sang raja sedang merintih berdoa, meminta ini dan itu kepada Allah Swt. Melihat itu, sang wali malah cenderung tidak menghormatinya dan bergegas pulang.

Keesokan harinya, mereka bertemu kembali, sang raja bertanya, “Kenapa kamu menyepelakanku kemarin, padahal saya ini raja?”

Sang wali menjawab, “Loh, aku mendatangimu sebagai seorang raja, tapi ternyata kamu sedang merintih meminta-minta kepada Dzat yang saya mintai juga. Artinya, tempat meminta kita sama dan status kita sama di hadapan-Nya.”

Sang wali pun bertanya balik, “Sekarang begini, ketika kamu di tengah padang pasir, kamu kehausan hampir mati, dan saya memiliki segelas air. Kamu lebih milih menukar kerajaanmu dengan segelas air ini dan kamu tetap hidup, atau memilih kerajaanmu dan kamu mati kehausan?”

Raja dengan tegas mengatakan, “Saya tentu memilh air ketimbang kerajaan, dengan air saya bisa hidup sekalipun tidak jadi raja, dari pada memilih kerajaan tapi mati.”

Wali pun menimpali, “Lah, terus kenapa kamu membanggakan kerajaanmu yang tidak sebanding dengan segelas air?”

Sang raja terdiam, dan sang wali malah tersenyum.

Ada kisah anekdot lain yang diceritakan oleh seorang sufi. Dulu, ada seorang wali yang mendatangi sebuah pesta dengan pakaian kotor nan lusuh. Dia dibiarkan tanpa disambut dengan semestinya. Padahal, tamu-tamu lain disambut dengan sebegitu ramahnya, disuguhi makanan dan minuman yang lezat. Akhirnya, dia keluar dari pesta dan mengganti pakaian dengan pakaian yang bermerk dan berharga mahal. Dia terlihat menawan.

Setelah memasuki pesta, dia benar-benar disambut dengan ramah dan sangat dihargai. Kemudian, saat dia disuguhi makanan lezat, seketika itu dia langsung memasukan seluruh makanan itu ke dalam baju. Tidak lama setelah itu, dia juga disuguhi air minum, dia pun menyiramkannya ke saku bajunya.

Tergaket para tamu yang hadir. Para penerima tamu lantas bertanya, “Kenapa kamu melakukan ini?”

Dia menjawab, “Aku tadi masuk dengan pakaian lusuh dan tidak kamu hormati. Sekarang aku masuk dengan pakaian mewah dan kamu hormati begini. Aku ini orang yang sama. Jadi, kamu sedang menghormatiku atau menghormati pakaianku? Maka dari itu, aku berikan makanan dan minuman itu ke dalam bajuku, karena itu rezeki bajuku, bukan rezekiku, dan kamu memberikan makanan itu karena bajuku kan, bukan karena aku?” Seluruh tamu terdiam, dan sang wali malah tersenyum.

Pada akhirnya, justru logika para sufilah yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial, bahkan akhirat. Logika-logika sederhana yang mengkritik realita. Bahkan, mereka para sufilah yang bisa menertawakan kehidupan.


Ahmad Saiful Millah
Ahmad Saiful Millah / 5 Artikel

Asal Cilacap Jawa Tengah. Alumni YPPP Al-Hikmah 2 Sirampog, Brebes. Menyelesaikan S1 di Universitas Al-Azhar dan sekarang sedang menempuh program magister S2 di universitas yang sama, Fakultas Syariah Wal Qanun, Jurusan Siyasah Syar'iyyah. Aktif menjadi imam dan khatib Masjid Sekolah Indonesia Cairo dan Pembina Umum Rumah Syariah Mesir

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: