Tokoh

Meneladani Leopold Weiss, Jurnalis Yahudi yang Memperoleh Hidayah

22 Jul 2021 08:32 WIB
2091
.
Meneladani Leopold Weiss, Jurnalis Yahudi yang Memperoleh Hidayah

Suatu hari di bulan September 1926, seorang jurnalis muda tengah duduk termenung di tengah-tengah penumpang lain dalam kereta menuju Berlin. Dia pandangi satu persatu wajah para penumpang lain, semua tampak kosong dan tidak bahagia.

Eropa dengan segala kegelimangannya, kehebatan kebudayaannya, capaian-capaian teknologinya, progresifitas laju kehidupannya, ternyata gagal membuat tenang hati masyarakatnya. Di sudut-sudut lain wartawan tersebut mendapati hal yang sama, kemurungan tampak di wajah semua orang. Ia membatin, jauh di sana, entah di mana, pasti ada ketenangan sejati.


Jalan Menuju Mekah, memoar Muhammad Asad yang menginspirasi ribuan orang Eropa membaca Syahadat

Jurnalis berhati kapas itu bernama Leopold Weiss, yang hingga saat ini dikenal dunia sebagai Muhammad Asad.

Beberapa hari setelah renungan di kereta tersebut Weiss membaca dua kalimat syahadat, saat itu ia sama sekali tindak nyana bila langkah tersebut diikuti oleh ribuan non muslim Eropa lainnya.

Weiss lahir dari keluarga Yahudi, bahkan kakeknya adalah seorang rabi yang disegani. Di hari kematiannya pada tahun 1992, Weiss terkenal sebagai salah satu intelektual abad 20 paling ternama, baik di kalangan muslim maupun non muslim.



Imran Khan, Perdana Menteri Pakistan meletakkan Leopold Weiss (Muhammad Asad) sebagai sumber inspirasinya dalam menempuh jalan suci meninggalkan hidup berfoya-foya

Jalan Menuju Mekah, memoar Weiss yang paling masyhur, berhasil memperkenalkan Islam ke jutaan orang. “Selain Al-Qur’an, besar kemungkinan tidak ada buku lain yang mampu menandingi memoar tersebut dalam menginspirasi orang memeluk Islam,” tulis Murad Hofmann, seorang diplomat asal Jerman yang juga mualaf lantaran buku itu.

Perdana menteri Pakistan, Imran Khan, yang juga seorang atlet kriket yang dulu dikenal playboy, hidup glamor, dan doyan foya-foya meletakkan Muhammad Asad sebagai motivator utama dalam menggerakkannya menempuh jalan suci. Bahkan pemikiran politik Sayyid Qutb sedikit banyak terpengaruh oleh karangan-karangan Muhammad Asad. Margaret Marcus, seorang pemudi Yahudi, selepas menghatamkan Jalan Menuju Mekah langsung meninggalkan New York menuju Lahore.

Margaret merubah namanya menjadi Maryam Jameelah dan memutuskan untuk menjadi sarjana muslim.

Terjemahan Al-Qur’an Muhammad Asad sering dibilang sekelas dengan milik Marmeduke Pickthal dan Abdullah Yusuf Ali. Tiga terjemahan yang paling berpengaruh dalam memperkenalkan Al-Qur’an di Barat. 

Pengalaman Weiss dalam kereta tersebut acap kali ia kemukakan dalam berbagai kesempatan, termasuk juga ia tulis dalam buku autobiografi. Hidayah yang agaknya sulit untuk  ia jelaskan dengan kata-kata.

Dalam bingkai sejarah, boleh jadi, apa yang ia alami dan saksikan pada tahun-tahun tersebut adalah horor mengerikan Perang Dunia I yang tak kunjung usai, yang tidak lama berikutnya disambut Perang Dunia II dengan momok yang jauh lebih mengerikan. Nilai-nilai kemanusiaan menjadi pertanyaan besar. Keringnya spiritualitas manusia menusuk-nusuk ruang gerak pikiran Weiss.

Abad pencerahan di Eropa melahirkan dunia modern yang semakin mendekatkan manusia dengan akal pikirannya sendiri, namun sebaliknya malah menjauhkan semua orang dari hati nurani masing-masing, agaknya ketidak-seimbangan ini yang terus menerus merasuki alam permenungan Asad. Wawasan Judaisme yang ia ketahui tidak mampu mengurai cemarut tersebut, keheningan dan moderatisme Islam yang kemudian menarik perhatiannya.

Weiss melewatkan masa kecilnya di Lviv, sebuah kota yang saat ini menjadi bagian dari teritori Ukraina. Masa kanak-kanaknya biasa ia isi dengan berkunjung ke daerah perbukitan juga ladang sawah milik keluarganya, sejak kecil ia terbiasa menjalin kontak dengan gadis-gadis yang menjadi buruh tani di sana.

Meskipun orang tuanya sehari-harinya tidak begitu religius, Weiss kecil cukup akrab dengan kitab-kitab penting agama Yahudi, hal ini lantaran ia memiliki beberapa tutor privat yang dipekerjakan sang ayah. Setelah menjadi mualaf, serpihan-serpihan kenangan dengan para guru ‘ngaji’ tersebut cukup membantunya memahami Al-Qur’an.

“Berkat para tutor tersebut juga, ketika berusia 13 tahun, saya tidak hanya lancar berbahasa Ibrani, namun juga tahu banyak tentang bahasa Aramaik,” tulis Asad dalam memoar.

Ia sama sekali tidak terpikir bakal mendalami ilmu agama, ketika memutuskan untuk masuk perguruan tinggi ia terobsesi mempelajari sejarah seni. Ia juga tertarik dengan filsafat, hari demi hari ia lalui dengan menyelaminya dalam buku-buku dan lingkar diskusi.


Filsafat dan kesenian mengantarkan dia mengenal banyak hal tentang kesusasteraan, dari sana pula ia menjadi tertarik dengan konsep-konsep psikoanalisa Sigmund Freud. Seperti layaknya intelektual muda pada umumnya, Weiss mencari jawaban filosofis atas sekarung pertanyaan dalam pikirannya tentang ulah manusia yang telah melumpuhkan dunia dengan serangkaian peperangan.

“Eropa kala itu tengah menuai krisis moral yang drastis. Peradaban Barat hampir memusnahkan eksistensinya sendiri selama perang. Satu generasi hampir musnah di medan tempur. Namun sisi baiknya adalah kurun tersebut telah menjadi periode dinamis bagi dunia Barat. Banyak manusia tidak terpatri oleh dogma-dogma modernitas yang kemudian tergiring mencari prinsip baru dalam kehidupan, terutama dalam memuaskan dahaga spiritualitas.” Tulis Martin Kramer, seorang sejarawan Israel ketika menyinggung Muhammad Asad.

“Begitulah satu cara dalam memahami sosok Muhammad Asad. Dia tidak berangkat dari ranah politik maupun lingkup kebudayaan, melainkan hasil refleksi dari puing-puing kehancuran akibat perang.” Lanjutnya.

Dogma dan nilai-nilai yang tertanam dalam tubuh Eropa juga kebudayaan Viktoria luluh lantah oleh peperangan ketika negara-negara saling bermusuhan dengan bergantian menjatuhkan bom dan unjuk taring militer.

Penderitaan demi penderitaan berdatangan sehingga mendorong manusia mencari ketenangan jiwa dengan memperkuat benteng spiritual. Ekonomi Jerman menanggung kemerosotan yang mengharuskannya menyusun kembali segala aspek. Terjadinya inflasi mengakibatkan masyarakat kelas menengah menjual furnitur serta harta benda mereka untuk bertahan hidup.

Seorang Weiss muda yang gigih dan giat pada titik tersebut juga merasa kesulitan menentukan jalan ke depan, ia tinggalkan bangku kuliah demi mengejar karir sebagai penulis. Ayahnya sangat tidak mendukung keputusan tersebut sampai-sampai berhenti mengiriminya uang.

Weiss seorang diri hijrah ke Berlin, ia menghibur diri dengan berbagai aktifitas kesenian untuk sementara waktu, ia juga menulis skenario film dan sesekali menghabiskan malam-malam yang kelam dengan mabuk-mabukan dan bermain wanita. Sebagian besar waktu yang ia lalui membuatnya kwalahan dalam mencukupi kebutuhan finansial.

Weiss sempat bekerja sebagai wartawan berita dan mendapat sorotan ketika berhasil mewawancarai Madame Gorky, istri penulis Rusia terkenal Maxim Gorky. Meski demikian, secara garis besar, Weiss boleh dibilang tidak benar-benar mapan. Eropa benar-benar tidak mampu menjadi kediaman yang nyaman baginya.

Ada hal lain yang mengusik hati Weiss, yakni keterpanggilannya untuk menapaki jalan Islam yang dipenuhi cahaya. Sebuah jalan yang kemudian hari mendorongnya menziarahi Yerusalem dan kota-kota suci lainnya.


Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 49 Artikel

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Al-Hikmah Purwoasri, Walisongo Sragen, Al-Ishlah Bandar Kidul, Al-Azhar Kairo, dan PTIQ Jakarta. Saat ini mengabdi di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: