Kisah

Polemik Plagiasi antara Imam As-Suyuthi dan Imam Al-Qasthalani

22 Nov 2021 10:47 WIB
2636
.
Polemik Plagiasi antara Imam As-Suyuthi dan Imam Al-Qasthalani Imam Suyuthi marah karena al-Qasthalani mengutip tulisannya tanpa mencantumkan sumber. Dia sampai mengadu kepada Zakariya al-Anshari untuk menyelesaikan perkara ini.

Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi (w. 911 H) terkenal sebagai ulama yang ‘kontroversial’ menurut ulama sezamannya.

Banyak sekali ulama pada zamannya yang terlibat ‘cekcok’ dengan Imam as-Suyuthi. Akan tetapi tentunya, cekcok tersebut masih dalam koridor keilmuan. Tidak konflik secara fisik.

Imam  Suyuthi sendiri pernah memproklamirkan diri sebagai mujtahid pada masanya. Tidak jarang ada sebagian pendapatnya yang mendapat kritikan tajam dari ulama sezaman dengan dia.

Di antara ulama yang pernah berselisih pendapat dengannya adalah al-Burhan al-Karki (w. 853 H), Syams al-Jujiri, Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani (w. 923 H) dan yang paling masyhur adalah polemiknya dengan as-Sakhawi.

As-Sakhawi menuding as-Suyuthi sering melakukan plagiasi dalam karyanya. Dalam tuduhannya, Imam As-Sakhawi menganggap banyak isi dari kitab-kitab Imam Suyuthi tidak orisinil karangannya sendiri. Menanggapi tuduhan serius itu, Imam Suyuthi memberikan bantahan serius lewat satu bukunya “al-Kâwi ‘alâ Târikh as-Sâkhawi”.

Karena begitu banyak polemik ilmiah, di usianya yang menginjak 40 tahun Imam Suyuthi memilih mengasingkan diri. Ia memilih menutup diri dari publik dan fokus beribadah dan menelurkan karya-karya intelektual.

Baca juga: Biografi Imam Jalaludin As-Suyuthi dalam Kitab yang Ditulisnya Sendiri

Dia sadar, berbagai polemik yang ia alami dengan ulama sejawatnya, sekalipun polemik bersifat ilmiah akan menghambat produktivitasnya dalam melahirkan karya. Dia memilih menepi di tepian sungai Nil. Meninggalkan semua kehidupan publik. Pekerjaan mengajar, berfatwa dan lain sebagainya  pun beliau tinggalkan dan fokus menunaikan misi mulia menghasilkan karya.

Imam as-Suyuthi menulis risalah kecil mengenai alasan ia memilih seperti itu. ia menulis kitab “al-Tanfis fi al-I’tidzar ‘an Tarki al-Ifta’ wa Tadris” dan al-Maqamat al-Lu’luiyyah. Dalam kitab ini, dia menggambarkan betapa kondisinya saat itu yang getir. Dia banyak mendapatkan banyak sekali cobaan dari ulama semasanya.

Plagiasi al-Qasthalani

Ibnul Imad al-Hanbali dalam Kitab Syadzarat al-Dzahab (vol. 8 hal. 162) pernah mengabadikan satu kisah unik perseteruannya dengan Imam al-Qasthalani.

Imam Qasthalani sendiri merupakan ulama semasa Imam Suyuthi yang diakui kepakarannya dalam bidang hadis. Di antara karangannya yang terkenal adalah Irsyadus Sari yang merupakan syarh atau penjelas dari Kitab induk hadis Shahih Bukhari.

Ibnu Imad mengisahkan, suatu ketika Imam Suyuthi pernah marah besar. Pasalnya salah seorang ulama semasanya disinyalir telah melakukan plagiasi terhadap karangannya. Imam Suyuthi menemukan indikasi-indikasi yang menunjukkan bahwa sebagian isi karangannya telah disadur tanpa mencantumkan sumber.

Tidak lain, ulama yang dimaksud Imam Suyuthi adalah al-Qasthalani. Menurut Imam Suyuthi, Imam Al-Qasthalani telah melakukan plagiasi dengan mengutip apa yang ada di kitab Imam Suyuthi tanpa menyebutkan sumber kutipannya. Menurutnya hal tersebut jelas merupakan kejahatan intelektual.

Imam Suyuthi kemudian mengadukan hal tersebut kepada Imam Zakariya Al-Anshari. Imam Suyuthi merasa sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Imam Qasthalani. Zakariya al-Anshari menengah-nengahi. Mendengar aduan dari Imam Suyuthi, Zakariya Al-Anshari pun bergerak. Ia menganggap bahwa tindak plagiasi merupakan pelanggaran etika yang sangat serius dalam dunia akademis. Ia meminta Imam Suyuthi menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Al-Qasthalani melakukan plagiasi, agar tuduhan itu benar-benar terbukti, tidak hanya tuduhan belaka.

Imam Suyuthi kemudian menunjukkan beberapa kalimat dalam kitab al-Qasthalani yang menurutnya bermasalah dalam pengutipan. Menurutnya beberapa kalimat dalam kitab al-Qasthalani adalah pengutipan yang serampangan. Tidak mengindahkan etika pengutipan yang biasanya dilakukan oleh cendekiawan muslim lain.

ولكنه رأى في مؤلفاتي ذلك النقل عن البيهقي فنقله برُمَّتِه، وكان الواجب عليه أن يقول: نقل السيوطي عن البيهقي

“Akan tetapi beliau (al-Qasthalani) melihat pada kitab-kitab karanganku terdapat kutipan dari Imam al-Baihaqi. Beliau langsung mengutip itu dari Imam al-Baihaqi. Padahal seharusnya, ia harus menulis seperti ini “Imam Suyuthi mengutip ini dari Imam al-Baihaqi.”

Baca juga: Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan dan Kodifikasi Al-Qur’an

Imam Zakariya al-Anshari lalu memberi wejangan agar Imam Suyuthi menenagkan diri terlebih dahulu. Akhirnya dia memilih untuk menepi dan mengasingkan diri. Dia merasa karir akademisnya akan terhambat jika terus berpolemik dengan ulama semasanya.

Merasa bersalah dan merasa kehilangan Imam Suyuthi di Mesir serta untuk meredam suasana dan mencairkan hati Imam Suyuthi, Imam al-Qasthalani berinisiatif menemuinya dalam pengasingannya. Bahkan, demi niat mulia tersebut al-Qasthalani berjalan mulai rumahnya di Kairo hingga di tempat pengasingan Imam Suyuthi dengan telanjang kaki. Tidak memakai alas apapun. Ia rela meninggalkan pakaian wibawanya sebagai ulama dengan tanpa memakai sorban demi meluluhkan hati Imam Suyuthi.

Sesampainya di depan tempat pengasingannya, Imam al-Qasthalani memberanikan diri mengetuk pintu:

 أنا القسطلاني جئتُ إليك حافياً، مكشوف الرأس؛ ليطيب خاطرُكَ عليَّ

Ngapunten, saya adalah Al-Qasthalani. Sengaja saya datang menemuimu dengan tanpa alas kaki dan tanpa penutup kepala. Itu semata agar engkau memaafkanku.”

“Aku telah memaafkanmu” Jawab Imam Suyuthi dari balik pintu.

Sekalipun telah memaafkan apa yang dilakukan oleh al-Qasthalani, Imam Suyuthi tidak keluar rumah untuk menemuinya. Beliau tetap memilih mengasingkan diri menekuni apa yang telah diputuskan selama ini. Bukan karena tidak menghormati Imam al-Qasthalani akan tetapi seperti yang telah disinggung di awal. Bahwa setelah polemiknya dengan beberapa ulama semasanya meruncing, da memilih untuk menepi dan mengasingkan dari kehidupan publik. Demi memfokuskan diri untuk beribadah dan menelurkan karyanya.

Imam Suyuthi sebenarnya telah lama memaafkan semua ‘rival’ intelektualnya. Dia menganggap hal tersebut sebagai sebuah konsekuensi ulama. Karena pada dasarnya dalam hal keilmuan, saling kritik itu sudah biasa.

Selama berkonflik dengan beberapa ulama semasanya, Imam as-Suyuthi melandasinya dengan kesadaran berpikir yang sempurna. Begitulah potret perbedaan ulama pada zaman dahulu. Sekalipun perbedaan pendapat sangat sengit dan panas, namun  tidak melahirkan permusuhan yang berlebihan karena dilandasi hati yang tulus.

Baca tulisan menarik lainnya tentang kisah ulama di sini.

Ahmad Yazid Fathoni
Ahmad Yazid Fathoni / 36 Artikel

Santri, Pustakawan Perpustakaan Langitan, suka menggeluti naskah-naskah klasik.

Bagus uhuy
22 November 2021
Uwwuuu penulisnya
Bagus Rasmidin Hokya Hokya
22 November 2021
Ngefans sama penulisnya
Zain
22 November 2021
Topik yg menarik & ,mgkin, jarang blom diungkap, serta relevan utk zaman now. Syukron, Gus. 👍🙏
muhammad imaduddin alwi
28 January 2022
mau tanya, untuk sumber cerita ini dari mana ya . mohon share klo ada terima kasih

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: