Kisah
Sejarah Barhut (2): Kisah Ngeri dari Sumur Angker Itu
Imam Al-Ashma'i menuturkan, dahulu kala
ada seseorang yang berasal dari kalangan orang-orang shaleh melewati sebuah
sumur yang berada di lembah Barhut pada malam hari. Seketika
dia mencium bau busuk yang mengganggu salah satu panca inderanya. Tak lama, dia
sadar bahwa dirinya berada dekat dengan lokasi sumur Barhut. Ternyata hari itu
bertepatan dengan wafatnya pembesar orang kafir. Akhirnya dia mengetahui jikalau bau
tersebut berasal dari roh pembesar kafir yang dipindahkan ke sumur itu.
Alkisah, seorang lelaki pergi menunaikan ibadah haji ke Baitullah, Makkah. Sesampainya di sana ia ingin memberikan sejumlah uang kepada keluarganya. Akhirnya ia menitipkan uang tersebut kepada seseorang yang shaleh.
Setelah menyelesaikan ibadahnya di Arafah, ia kembali ke Makkah dan mendapat kabar bahwa orang yang dititipinya telah wafat. Dia kemudian bergegas menanyakan perihal uang yang dititipkannya kepada keluarga mayit. Namun tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan uang itu.
Bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada hartanya, ia pergi menemui salah seorang syekh yang berada di Makkah untuk mengadukan permasalahnya. Syekh alim itu berkata, "Jika sepertiga malam tiba, datanglah kamu ke sumur Zamzam dan panggilah namanya di sana sebanyak 3 kali. Insyaallah dia termasuk ahli surga."
Mendengar sarannya, lelaki ini mendatangi sumur Zamzam dan memanggilnya, namun tidak ada jawaban.
Kecewa tak mendapatkan hasil, dia kembali menemui syekh dan menceritakannya. Sontak syekh alim itu terlihat kaget sekaligus sedih. Karena pada dasarnya jika ruh seorang yang dianggap sholeh tidak ada di sumur Zamzam, berarti dia termasuk ahli neraka.
Lalu dia berkata "Jika begitu, pergilah kamu ke sumur Barhut di sebuah lembah yang ada di Hadramaut Yaman. Panggilah namanya di sepertiga malam."
Laki-laki itu kembali menurutinya dan pergi ke sumur Barhut.
Sesampainya di sana ia langsung memanggil nama orang sholeh tersebut, "Wahai fulan bin fulan."
Dan ternyata dia mendengar jawaban. Ia bertanya, "Di manakah kau menyimpan hartaku?"
Lalu dijawab, "Aku simpan di bagian dalam rumahku. Temuilah keluargaku dan suruhlah anakku untuk menggalinya."
Heran dengan keberadaannya di sumur itu, ia kembali bertanya, "Mengapa kamu ada di sini?"
Ia menjawab, "Aku memiliki seorang sepupu perempuan yang fakir, dan aku tidak menaruh belas kasihan kepadanya sehingga Allah menghukumku dengan menempatkanku di sini."
Setelah kembali ke Makkah dan bertanya kepada anak dari orang itu, ternyata apa yang dikatakannya terbukti benar. Wallahu a'lam bis shawab.
Referensi:
- Al-Hawi lil Fatawa, Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi.
- Ar-Ruh fi al-Kalam ala Arwahi Ahya wa al-Amwat, Muhammad Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.
- Bughyah at-Tholab fi Taariki al-Halab, Ibnu Adim.
- Lawami'ul Anwar al-Bahiyyah wa Sawathiul Asraril Asariyyah, Syamsuddin Muhammad Al-Hanbali.
- Lisanul Arab, Muhammad Mukrom bin Mandzur Al-Afriki Al-Misri.
- Muroatul Mafaatih Syarah Misykatul Mashobih, Imam Al-Mubarokfuri.
- Tafsir Ruhul Bayan, Ismail Haqqi bin Musthafa Al-Istanbuli.
- Tafsir Hadaiqi ar-Ruh wa ar-Raihan, Syekh Muhammad Amin bin Abdullah Al-Armi.
Pernah nyantri di Daarul 'Uulum Lido Bogor. Sekarang meneruskan belajar di Imam Shafie Collage Hadhramaut Yaman. Suka membaca, menulis dan sepakbola.