Tokoh
An-Nasir Hasan: Sultan Muda di Tengah Kemelut Politik Mamluk
Matahari sudah hampir terbenam di sore yang dingin di pertengah bulan Desember. Musim dingin sedang bertahta di bumi Mesir. Kairo terguncang oleh kabar terbunuhnya Sultan al-Muzaffar Hajji, Sultan Mamluk yang baru memerintah tiga belas bulan di Mesir. Al-Muzaffar yang keluar dari istananya demi memerangi pemberontakan para Mamluk Sirkasian justru dikhianati oleh pasukannya sendiri.
Pasukannya meninggalkannya sendirian menghadapi ribuan tentara Mamluk Sirkasian di tepi kota Kairo. Tidak ada yang menolongnya. Gelar Sultan yang disandangnya seolah telah tanggal terlebih dahulu sebelum kepalanya lepas dari tubuhnya. Tragis, itulah gambaran kondisi al-Muzaffar saat itu.
Itulah saat-saat yang benar-benar membuat al-Muzaffar merasa menjadi manusia paling hina dan tidak berdaya. Ribuan Mamluk Sirkasian yang termakan berita palsu dari amir-amir pembencinya menunjukkan raut muka marah. Wajah-wajah mereka nampak seperti algojo yang siap memenggal kepalanya kapan saja. Ia pun ditangkap dan dieksekusi. 16 Desember 1347, Putra keenam dari Nasir Muhammad bin Qalawun itu pun tewas dibunuh oleh para Mamluk, yang tak lain adalah rakyatnya sendiri.
Kematian Sultan al-Muzaffar dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kota Kairo. Para amir segera berkumpul di benteng Shalahuddin untuk melakukan rapat terbatas. Suasana di dalam istana menjadi tegang. Tensi politik meninggi. Sultan baru saja dibunuh! Tentu di saat-saat seperti itu siapapun tidak ada yang bisa dipercaya. Tidak jelas siapa kawan dan siapa lawan. Mereka sudah siap beradu kekuatan politik untuk menetapkan sultan yang baru, bahkan ketika jenazah Muzaffar Hajji belum dimakamkan.
Pembunuhan Sultan al-Muzaffar adalah hasil tipu daya para amir yang menghasut para Mamluk Kirkasian dengan berita palsu bahwa al-Muzaffar akan membunuh pemimpin mereka yang juga orang kepercayaan al-Muzaffar sendiri yaitu Amir Ghurlu. Sementara di lain pihak al-Muzaffar juga termakan hoaks yang dimunculkan oleh Ali al-Kasih seorang pelawak istana yang disewa para amir Mamluk yang membenci al-Muzaffar. Al-Kasih dengan leluconnya membuat al-Muzaffar mencurigai Ghurlu yang menurut sangkaannya ingin menggulingkan kekuasaannya. Sehingga al-Muzaffar tersulut emosi ingin membunuh Ghurlu. Rencana mengadu domba antara al-Muzaffar dan Ghurlu sukses dengan kematian al-Muzaffar. Trik politik yang cerdik.
Di antara para amir yang melakukan rapat di dalam benteng Shalahuddin saat itu ada empat amir yang juga punya kepentingan politik tersendiri yang memanfaatkan situasi kematian Muzaffar. Mereka adalah Baybugha al-Qasimi, Manjak al-Yusufi, Syaykhu an-Nasiri, dan Tazz an-Nasiri. Empat amir ini secara sepihak mengusulkan adik dari al-Muzaffar yang masih berusia dua belas tahun. Dia adalah putra ketujuh dari Sultan Nasir Muhammad bin Qalawun yang bernama An-Nasir Badr ad-Din Hasan bin Nasir Muhammad bin Qalawun.
Meski di pihak lain para amir Mamluk mengusulkan al-Amjad Hussain saudara an-Nasir Hasan yang lain, namun dengan kecerdikan empat amir tersebut, an-Nasir Hasan berhasil naik tahta sebagai sultan baru di Mesir di usianya yang masih sangat muda. Tentu saja suasana perpolitikan Mesir menjadi semakin panas saat itu. Ratusan ribu penduduk Kairo menunggu hasil rapat para amir di luar benteng dengan harap-harap cemas. Nasib kehidupan mereka yang hidup di bawah monarki Mamluk yang penuh intrik politik akan ditentukan malam ini dari balik dinding benteng Shalahuddin. Masing-masing amir sudah siap dengan konfrontasi militer jika konflik terus memanas dan suksesi kepemimpinan Mesir tidak kunjung menemukan titik temu.
Setiap amir di bawah pemerintahan Dinasti Mamluk memang memiliki bala tentara mereka sendiri berdasarkan klan dan bangsa asal mereka ketika masih menjadi budak di era dinasti sebelumnya. Wajar saja jika mereka memiliki kekuatan politik yang nyaris sama dengan sultan mereka. Mereka bisa saja mengerahkan tentara mamluk mereka untuk bertempur habis-habisan demi kepentingan klan dan pemimpin mereka.
Beruntunglah rakyat Mesir hari itu karena mereka terhindar dari perang saudara yang hanya sejengkal lagi meletus. Perebutan kekuasaan dengan cara barbar terhindarkan. Deal-deal politik dan lobi-lobi tingkat tinggi antar klan Mamluk yang dilakukan Baybugha al-Qasimi, Manjak al-Yusufi, Syaykhu an-Nasiri, dan Tazz an-Nasiri membuahkan hasil. Entah apa yang mereka tawarkan kepada para pemimpin klan Mamluk malam itu. Bisa harta, jabatan, atau wanita. Yang jelas pertarungan antar klan Mamluk yang berpotensi menumpahkan banyak darah bisa dihindarkan.
Pagi itu, 17 Desember 1347 Mesir memiliki sultan muda baru, dialah an-Nasir Badr ad-Din Hasan bin Nasir Muhammad. Penobatannya dihadiri ribuan rakyar Mesir dari berbagai klan, suku, ras, dan agama. Para amir berkumpul di depan istana di benteng Shalahuddin yang menjadi pusat pemerintahan Mesir saat itu. Mereka semua hadir untuk melantik Hasan sebagai sultan baru Mesir.
Hasan yang masih berusia dua belas tahun nampak polos dan belum cukup mengerti apa yang sedang dia hadapi. Tidak ada daya yang dia miliki menolak jabatan. Tidak pula ia berdaya untuk bertitah memimpin negara sebesar Mesir yang kekuasaanya mulai dari ujung utara Turki hingga ke ujung selatan Sudan, dari Libya hingga pesisir barat Semenanjung Arab. Setinggi apapun jabatan yang dia miliki sekarang dia tetap seorang bocah yang masih berusia dua belas tahun.
Pemilihan Hasan yang baru berusia dua belas tahun memang bukan tanpa kepentingan politik. Empat orang amir yang mengangkatnya, Baybugha al-Qasimi, Manjak al-Yusufi, Tazz, dan Syaykhu telah memendam tujuan pribadi mereka dengan dilantiknya Hasan. Sudah menjadi undang-undang di dalam pemerintahan Dinasti Mamluk, jika sultan yang naik tahta masih berusia anak-anak maka pemerintahan akan diwakilkan kepada walinya. Empat amir itulah wali dari Hasan.
Ke depan Hasan hanya akan menjadi simbol kekuasaan saja. Ia hanya akan hadir dalam seremonial kenegaraan namun pengambilan kebijakan negara ada di tangan empat amir yang menjadi walinya. Hasan hanya akan dimanja di istana dengan berbagai fasilitas kesultanan. Namun hakikatnya dia tidak memiliki kuasa mengambil kebijakan bagi rakyat Mesir. Dia tidak bisa memberi perintah pada menteri, amir, dan para tentara. Dia hanya bisa menyuruh pelayan istana menyiapkan sarapan, susu, dan menemaninya bermain layaknya anak-anak.
Baybugha, Manjak, Tazz, dan Syaikhu tentu secara alamiah akan menikmati kekuasaan yang ada pada mereka saat ini. Mereka memiliki akses memerintah para amir yang lain, menteri, dan bahkan tentara. Mereka berempat juga punya akses mengendalikan perekonomian Mesir, ekspor-impor, dan perdagangan budak. Hukum pun ada tangan mereka berempat. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi "sultan bayangan" yang mengendalikan sebuah kerajaan besar di lembah sungai Nil! Apa yang bisa diibaratkan dari perbandingan antara susu yang diantar pelayan istana dengan pengendalian ekonomi, politik, dan militer dari sebuah negara? Itu sama saja membandingkan pistol mainan yang diadu dengan sebuah tank tempur kelas berat di masa modern.
Alumni Universitas al-Azhar Mesir. Suka menerjemah kitab-kitab klasik. Sekarang tinggal di Banyumas Jawa Tengah.