Kisah

Tak Ada Kata Terlambat untuk Memperbaiki Diri

23 Mar 2021 01:32 WIB
1990
.
Tak Ada Kata Terlambat untuk Memperbaiki Diri

Ketika al-Imam al-Qaffal al-Syasyi (w. 365 H) mampu membuat gembok mini beserta kuncinya seberat 1 dâniq (0.496 gram), masyarakat kagum, heboh luar biasa. Nama beliau viral.

Namun ketika seorang Abu Bakar al-Qaffal—kelak terkenal dengan sebutan al-Imam al-Qaffal al-Shaghir—mampu membuat gembok lebih mini lagi beserta kuncinya seberat satu thassûj (¼ dâniq= 0.124 gram), masyarakat menyukainya, tapi tak sempat viral.

Ia pun mengadu pada sahabatnya:

Tidakkah engkau tahu bahwa segala sesuatu tergantung hoki? Al-Syasyi membuat gembok beserta kuncinya seberat 1 dâniq, sebab itu virallah namanya. Bergemuruh suara penduduk negeri menyebut-nyebut namanya. Sementara aku membuat gembok seberat ¼ dari berat buatannya, tidak ada yang menyebut-nyebut namaku.

Sahabatnya pun berkata, “Namanya disebut-sebut itu hanyalah karena ilmu, bukan karena gembok.”

Ia pun termotivasi dan serius mendalami ilmu (fikih), padahal saat itu usianya telah mencapai 40 tahun. Ia lalu mendatangi seorang syeikh di Merv (Marwa) dan syeikh itu pun mengetahui motivasinya, sehingga syeikh itu mengajarinya permulaan kitab al-Muzanni, yaitu kalimat:

هذا كتاب اختصرته

Hâdzâ kitâbun, ikhtashortuhu (Ini adalah buku, aku meringkasnya)

Setelah itu, dia pulang dan naik ke atap dan terus mengulang-ulang tiga lafadz itu dari Isya' hingga terbit fajar. Matanya tak kuasa menahan kantuk sehingga membuatnya tertidur. Lalu, Ia bangun, namun hafalan itu pun terlupa, sehingga sempitlah dadanya sembari berkata, “Apa yang akan kukatakan pada ssyeikh?

Lalu, dia keluar rumah. Tiba-tiba seorang perempuan tetangganya berkata, “Hei Abu Bakar! Semalaman kami begadang gegara ucapanmu: Hâdzâ kitâbun ikhtashortuhu.

Ia pun mempelajari kalimat itu dari si tetangga tersebut dan kembali ke gurunya sembari menceritakan kejadian itu.

Syeikh itu pun berkata padanya, “Hal itu jangan membuatmu berpaling dari tekun belajar. Karena jika engkau terus-menerus menghafal dan tekun-belajar, maka itu kan menjadi kebiasaanmu.”

Akhirnya, ia pun bersungguh-sungguh dan tekun hingga ia menjadi alim fakih, salah seorang pilar madzhab Syafi’i. Dia hidup selama 80 tahun: 40 tahun dalam keadaan tak mengerti dan 40 tahun dalam keadaan alim.

Abu al-Mudzaffar al-Sam'ani berkata bahwa usia  beliau mencapai 90 tahun dan wafat tahun 417 H.

Yaqut al-Hamawi—pengutip cerita ini—pernah mengunjungi makam beliau di Marwa.

Disarikan dari Mu’jam al-Buldan, 5/116.


Nur Hasim
Nur Hasim / 7 Artikel

Asal Madiun Jawa Timur. Menyelesaikan studi di Institut Agama Islam Banten dan sekarang melanjutkan di Qatar. 

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: