Ibadah
Tata cara shalat Witir dalam mazhab Syafi'i
Bagi mazhab Syafi’i shalat Witir adalah sunnah muakkad.
Bagi mazhab Syafi’i shalat Witir adalah sunnah muakkad dan setinggi-tingginya sunnah muakkad. Sedikit-dikitnya Witir adalah 1 rakaat dan sebanyak-banyaknya adalah 11 rakaat.
Namun jika ada yang melaksanakan shalat Witir lebih dari itu dengan sengaja dan dia tahu bahwa batasnya hanya 11 rakaat maka shalat yang lebih itu tidak jadi (sah). Jika melaksanakan lebih dari 11 rakaat itu sebab tidak tahu atau lupa maka shalat yang lebih tetap sah dan terbilang sebagai shalat sunnah mutlak.
Orang yang melaksanakan Witir dengan cukup 1 rakaat itu khilaful aula (sesuatu yang berada di antara makhruh dan mubah atau perbuatan yang menyalahi apa yang afdhal). Bagi yang melaksanakan Witir lebih dari 1 rakaat maka boleh 1 rakaat akhir itu disambung atau dipisahkan dengan 2 rakaat atau lebih sebelumnya.
Semisal kala berkenan melaksanakan 5 rakaat witir, maka boleh dengan melaksanakan 2 rakaat salam dan lanjut 3 rakaat dengan 1 salam. Jika 1 rakaat itu dipisahkan dari rakaat sebelumnya, maka 5 rakaat ini dapat dijalankan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam, 1 rakaat salam atau 4 rakaat salam 1 rakaat salam, yang penting dalam sekali salam tidak boleh ada lebih dari 2 tasyahud. Yang afdhal adalah melaksanakan 1 rakaat Witir secara terpisah.
Waktu pelaksanaan Witir adalah setelah shalat Isya’ (walaupun shalat Isya’nya dijamak takdim) sampai munculnya fajar sadiq. Witir juga disunnahkan untuk dilaksanakan di akhir malam (waktu tahajud) bagi yang yakin atau biasa bangun malam sebagai pungkasan shalat malamnya.
Shalat Witir disunnahkan kala Ramadhan untuk dilaksanakan secara berjamaah dan melakukan qunut di rakaat terakhirnya saat sudah mencapai separuh bulan Ramadhan (malam 16 Ramadhan).
Qunut dalam mazhab Syafi’i sebagaimana qunut dalam shalat Subuh yang dilakukan setelah bangun dari rukuk rakaat akhir. Bagi Imam disunnahkan mengeraskan bacaan qunutnya (walaupun ia dalam keadaan sedang mengqadha shalat). Bagi yang shalat menyendiri disunnahkan untuk melirihkan bacaannya. Jika melupakan qunut maka sujud sahwi.
Disunnahkan mengqadha shalat Witir bagi yang telah melewatkannya, begitu juga shalat sunnah lainnya yang mempunyai waktu (semisal Rawatib) dapat diqadha.
Kord. Akademik Ma'had Jami'ah UINSA Surabaya dan Tim Aswaja Center Sidoarjo.