Artikel

TGB KH. M. Zainul Majdi: Tidak ada dosa warisan dalam Islam

05 Aug 2022 08:35 WIB
2006
.
TGB KH. M. Zainul Majdi: Tidak ada dosa warisan dalam Islam Dalam agama Islam tidak mengenal yang namanya istilah dosa warisan atau dosa turunan. Bagi setiap pemeluknya, mereka diajarkan tentang tanggung jawab personal dan individual.

Dalam agama Islam tidak mengenal yang namanya istilah dosa warisan atau dosa turunan. Bagi setiap pemeluknya, mereka diajarkan tentang tanggung jawab personal dan individual.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ

Artinya: "Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong." [QS Al-Baqarah ayat 123]

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, TGB KH. M Zainul Majdi menjelaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai individualitas. Dalam arti pertanggung jawaban pribadi masing-masing orang.

"Belum tentu anak orang baik pasti baik, dan belum tentu juga anak orang buruk pasti buruk." terang TGB dilansir dari channel Youtube Bunsyafa'ah TV

Dalam kajian ini Tuan Guru Bajang memberi pemisalan tentang nasib seorang anak yang menjadi pejuang hebat meskipun bapaknya jahat luar biasa. Contohnya adalah Abu Jahal dan putrinya, Ikrimah. Begitu pun sebaliknya, ada yang bapaknya baik sementara keturunannya begitu jahat sebagaimana Nabi Nuh dan putranya, Kan'an.

Pakar ilmu tafsir Al-Quran lulusan Al-Azhar ini kemudian menjelaskan tentang maksud redaksi ajakan naik Nabi Nuh kepada putranya, Kan'an.

Menurut para ulama makna ajakan di sini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, makna secara harfiah yang berarti meloncat dan masuk ke badan kapal. Kedua, ajakan yang bermakna mengikuti dan beriman kepada agama tauhid.

Tetapi apa yang terjadi? Kan'an tetap membangkang dan memungkiri ajakan bapaknya.

Dia keukeuh dengan keyakinannya sendiri. Menolak naik perahu dan lebih memilih naik ke gunung. Kan'an menolak mengikuti agama yang dibawa bapaknya sendiri dan lebih suka berlindung kepada ajaran nenek moyang yang jutsru bertentangan dengan ajaran Allah.

"Inilah contoh di mana bapaknya Nabi tapi anaknya tidak mengerti. Allah begitu ekstrem ketika memberikan contoh di dalam Al-Quran supaya kita terbuka kesadarannya. Jangan lantas karena bapak kita baik lalu kita boleh gagah gagahan kemana mana." ungkap Tuan Guru Bajang

TGB mengajak kita semua membangun kapasitas pribadi dalam beragama Islam. Melatih menumbuhkan semangat dalam hal kebaikan dan jangan gemar bersandar pada orang lain.

"Seburuk buruk orang tuamu kalau engkau beriman dan beramal soleh engkau akan jadi mulia." tandas cucu dari pendiri Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah itu.

Kaidah ini merobohkan struktur orang-orang zaman dulu, mereka kerap membanggakan diri atas dasar kompok dan suku. Sehingga individu tertutup dan melebur  ke dalam identitas keluarganya.

"Kalau keluarganya terhormat, sementara ia buruk dia tetap akan dihormati. Walaupun ia berbuat jahat ia tetap akan dibela. Kemudian Islam datang dan meletakan batasan-batasan."

Islam datang membawa kaidah yang luhur dan adil. Meletakan batas pada hal-hal yang tidak dibenarkan. Nilai kemuliaan diri tidak ditentukan berdasarkan keluarga dan kesukuan. Justru sebaliknya, ia ditakar menurut keimanan dan amal soleh. 

 

A.E. Pratomo
29 September 2023
Tidak ada konsep penebusan darah dalam kepercayaan Muslim, sehingga konsep penebusan dosa dengan darah yang sudah diperkenalkan sejak Perjanjian Lama (PL) tidak dipahami oleh teman-teman Muslim. Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah". Dalam Kitab Imamat dicatat macam-macam korban sbb : 1. Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah 2. Korban Kedamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah 3. Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah 4. Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar diatas korban "darah" binatang orang lain). 5. Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7) ; darah Dalam PB: 1. Mat. 20:28 ... sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." 2. Mark 10:45 - Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." 3. Yoh. 1:29 - Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Pengertian ini, memang tidak selaras dengan ketetuan agama Islam, maka tentu saja kita mempunyai perbedaan pandangan secara prinsip. Dan perbedaan pandangan ini tidak akan bisa diperdebatkan... pasti nggak ketemu. === Ustd TGB bilang: Kan'an adalah anak nabi Nuh. Tanggapan: Tunjukkanayatnya di Quran bhw Kan'an (Kanaan) adalah anak nabi Nuh. Ini jelas salah besar, krn menurut kitab Taurat dari nabi Musa, jelas dikatakan bhw Kanaan itu anak Ham dan Ham itu anak Nuh, shg Kanaan adlh cucu nya Nuh, bukan anaknya. (Kej.9:18 dan 22). Salam dan Selamat Merenung.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: