Tokoh

Yang Termahal dari Ummu Sulaim Al-Anshariyah

02 Aug 2021 11:20 WIB
1973
.
Yang Termahal dari Ummu Sulaim Al-Anshariyah

Sepulang dari perjalanan di luar kota, Malik bin an-Nadhar dikejutkan oleh berita bahwa istrinya telah pindah agama. Kontan saja dia marah dan segera klarifikasi.

"Benar engkau telah murtad, bu?" tanya Malik.

"Murtad bagaimana, Pak? Aku tidak murtad, aku cuma masuk Islam," jawab istrinya tanpa ragu.

"Ya itu murtad namanya! Keluar dari agama nenek moyang!"

Malik tak bisa menerima kenyataan itu. Dia minggat dan pasangan muda itu pun akhirnya bercerai. Sementara anak semata wayang mereka, Anas, yang masih bayi dalam susuan, ikut ibunya.

Ummu Sulaim, demikian perempuan cantik janda Malik itu biasa disapa. Dia masuk Islam di bawah bimbingan Mush'ab ibn Umair radhiyallahu anhu.

Mush'ab adalah juru dakwah yang diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Madinah sebelum hijrah untuk mengislamkan warga Madinah. Ini strategi penting sebagai persiapan sosial untuk memuluskan jalannya hijrah yang hanya tinggal menunggu izin dari langit.

Bagi warga Madinah, nama Muhammad dan Islam telah sangat familiar di telinga mereka. Tak pelak lagi agama Islam laris manis di sana dan Mush'ab pun mencatat sukses besar dalam dakwahnya. Warga berbondong-bondong masuk Islam di tangannya, tak ketinggalan pula Ummu Sulaim al-Anshariyah radhiyallahu anha.

Sejarawan muslim terkenal, Ibnu Hisyam rahimahullah, mencatat bahwa pada saat Rasulullah hijrah, hampir tak tersisa satu rumah pun di Madinah kecuali penghuninya telah masuk Islam. Oleh karena itu wajar, ketika Rasulullah

hijrah ke kota tersebut, ramai-ramai warganya meyambut kehadiran beliau dengan gegap-gempita.

Lebih dari sekadar muslimah yang taat, Ummu Sulaim juga sangat mencintai Rasulullah. Sebagai ungkapan kecintaannya, ia mempersembahkan buah hatinya dan belahan jiwanya, Anas, kepada beliau untuk menjadi abdi setia beliau.

«يا رسول الله، هذا أَنَس يَخدِمُك»

"Wahai Rasulullah, ini anakku Anas siap melayani engkau," ujarnya.

Inilah persembahan termahal sepanjang sejarah. Maka jadilah Anas pelayan pribadi Rasulullah selama 10 tahun, artinya sepanjang hidup Rasulullah di Madinah.

Dialah Anas bin Malik radhiyallahu anhu, salah seorang sahabat besar dari kalangan Anshar yang sangat dihormati dan telah meriwayatkan ribuan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tersebar di berbagai kitab sahih.

Merefleksikan 10 tahun berkhidmah kepada Rasulullah, Anas berkata:

خدمتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم عشرَ سنينَ، فما قال لي «أُفٍّ» قطُّ، وما قال لي لشيٍء صنعتُه: «لِمَ صنعتَه» ولا لشيٍء تركتُه: «لِمَ تركتَه». وكان رسولُ اللهِ من أحسنِ الناسِ خُلُقًا ، ولا مسستُ خَزًّا ولا حريرًا ولا شيئًا كان ألينَ من كفِّ رسولِ اللهِ ، ولا شممتُ مِسكًا قط ولا عطرًا كان أطيبَ من عَرَقِ النبيَّ

"Sepuluh tahun lamanya aku mengabdi kepada Rasulullah, selama itu pula tak pernah beliau membentakku meski dengan kata ‘huhh!’ Juga tak pernah beliau bertanya mengenai apa yang aku lakukan, ‘Knapa kau lakukan itu?’ atau mengenai sesuatu yang tidak kulakukan, ‘Kenapa tidak kaulakukan itu?’ Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku juga tidak pernah menyentuh kain sutera atau apa saja yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah dan tidak pernah aku mencium minyak kesturi (misik) atau wewangian apa saja yang lebih wangi dari keringat Rasulullah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Setelah menjanda, Ummu Sulaim yang berparas cantik menjadi dambaan banyak laki-laki untuk mempersuntingnya, tetapi semua pinangan dia tolak. "Maaf, aku tak akan menikah lagi," katanya kepada setiap laki-laki yang meminangnya. Kemudian lanjutnya, "Kecuali jika Anas menyuruhku setelah dia besar dan memimpin banyak forum di mana dia akan berkata, “Semoga Allah membalas jasa besar ibuku yang telah mengasuhku dengan baik sehingga aku menjadi orang."

Sementara itu, di pihak lain, seorang laki-laki bernama Abu Thalhah diam-diam mengincar Ummu Sulaim. Dengan penuh kesabaran ia menunggu hari demi hari sampai Anas besar dan menjadi tokoh sebagai syarat untuk meminang ibunya. Ketika syarat itu telah terpenuhi dan kesempatan tiba, dengan sangat percaya diri, Abu Thalhah menemui Ummu Sulaim untuk meminangnya.

"Wahai Ummu Sulaim," kata Abu Thalhah, “sekarang Anas sudah besar dan sudah memimpin berbagai forum.”

"Begini, Abu Thalhah," jawab Ummu Sulaim, "Laki-laki sepertimu memang tak pantas ditolak (maksudnya karena dia tampan), tetapi aku ini perempuan mukminah, sedang engkau musyrik. Coba kaupikir, Abu Thalhah, bukannya yang kausembah itu batu yang tak bisa memberi manfaat atau bahaya apa-apa atau kayu yang diukir oleh tukang ukir? Manfaat atau bahaya apa yang kauperoleh darinya? Apa engkau tidak malu menyembah benda yang buta-tuli itu? Nah, kusarankan sebaiknya engkau masuk Islam saja. Jika engkau masuk Islam, aku tak akan minta maskawin apa-apa lagi selain masuk Islammu itu."

Abu Thalhah terdiam. Jiwanya tersentuh dengan jawaban Ummu Sulaim. Lebih-lebih penggal kalimat terakhir yang memberi secercah harap untuk bisa menikahinya. Pelan tetapi pasti, ajaran tauhid mulai merasuki relung hatinya yang paling dalam hingga akhirnya ia pun benar-benar berucap syahadat di hadapan perempuan tambatan hatinya itu.

Tetapi Abu Thalhah bukan tipe laki-laki penjual keyakinan yang mau pindah agama hanya untuk mempersunting seorang perempuan seperti kerap terjadi di zaman now, tetapi benar-benar menjadi muslim yang baik dan taat beragama. Buktinya, saat terjadi pembaiatan di bukit Aqabah yang dikenal dengan Baiat Aqabah itu, Abu Thalhah termasuk di antara 12 nuqaba yang dibaiat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Maka jadilah maskawin Ummu Sulaim maskawin termahal dalam sejarah Islam. Belakangan, beberapa ulama fikih berpolemik tentang bolehkah masuk Islamnya seorang laki-laki dijadikan maskawin atau tidak. Hal ini karena, menurut fikih, maskawin itu harus memberi manfaat riil pada si istri. Nah, pertanyaannya, manfaat apa yang bisa diperoleh istri dari masuk Islamnya si suami? Tetapi itu domainnya para fuqaha untuk membahasnya, bukan alfaqir. wallahu a'lam.

Disarikan dari Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'ad dan Al-Ishabah karya Ibnu Hajar al-Asqalani.

 


KH. Zainul Muin Husni
KH. Zainul Muin Husni / 9 Artikel

Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Universitas Nurul Jadid, Probolinggo Jawa Timur

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: